Pilkada 2024: Upaya Mengejar Mimpi Membangun NTT Bermartabat

0

JAKARTA, Bulir.id – Stela Nau, selaku pendiri gerakan NTT Muda menjadi salah satu pembicara dalam sebuah diskusi publik bertema: “Proyeksi Pembangunan NTT Lima Tahun ke Depan.” Diskusi yang diprakarsai oleh Bulir.id tersebut diselenggarakan di Rumah Juang Margasiswa PMKRI, Jakarta Timur pada Sabtu (1/6/24).

Stela Nau merupakan salah satu kaum muda yang sangat konsern dengan dunia pendidikan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan segudang pengalaman di dunia pendidikan, ia tak kenal lelah turun ke berbagai tempat untuk memberikan edukasi dan informasi terkait pentingnya pendidikan.

Alumnus University of London tersebut aktif di berbagai organisasi, terutama membangun gerakan yang diberi nama NTT Muda. Gerakan ini memilih fokus terutama pada pengembangan talenta muda NTT. Ia memberikan berbagai pelatihan, workshop dan ketrampilan serta informasi mengenai beasiswa ke luar negeri.

Mantan wartawan Metro TV tersebut menjelaskan bahwa kemampuan anak-anak NTT itu tidak beda jauh dengan anak-anak di Jawa. Namun kendalanya adalah minimnya informasi hingga sarana dan prasarana penunjang pendidikan bagi anak-anak NTT.

“Bahkan kalau mereka dapat info tentang pendidikan atau seminar kadang mereka suka bingung follow up ke mana. Jadi informasi macam itu cukup rendah di NTT. Mereka juga punya kekhawatiran nanti kalau nanya dianggapnya nggak ngerti atau khawatir dianggap nggak mumpuni dan kayak gitu,” kata wanita yang permah menjabat PPI United Kingdom tersebut.

NTT Muda sejatinya ingin menjembatani apa yang dibutuhkan anak-anak NTT dengan sumber daya yang ada, baik itu dari temen-teman NTT sendiri, maupun pakar non-NTT yang bersedia membantu secara sukarela.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, dengan pesatnya perkembangan teknologi akan lebih banyak membantu semua hal yang dibutuhkan sebab semunya tersedia di dalam ruang digital. Namun menurutnya, teknologi bukanlah satu-satunya solusi utama kebutuhan manusia.

Menurutnya, kendati teknologinya canggih namun jika pengguna belum bisa mengoperasikannya, hal itu tentu tidak akan berarti apapun. Ia mengambil contohnya  masifnya pembangunan menara pemancar sinyal di berbagai daerah tetapi masyarakatnya belum siap, tentunya juga tak akan berguna.

Lulusan Hubungan International, Universitas Parahyangan itu mengingatkan para stakeholder, bahwa untuk menuju NTT 2024 yang bermartabat mesti banyak kerjasama antara berbagai instansi. Misalanya kolaborasi antara pemerintah-swasta-dan publik. Tak hanya sampai di situ, perlu ada kehendak dan kerja keras dari para pemimpin untuk mengembalikan wajah NTT sebagaimana mestinya.

Pembangunan Indonesia Timur harus dari hati bukan dengan gimmick atau hanya berorientasi seremonial, asal bapak senang (ABS). Pemimpin mesti mampu melihat secara holistik apa yang menjadi kebutuhan mendasar masyarakat NTT pada umumnya.

“Sebagai masyarakat NTT diaspora, kita memiliki kerinduan akan sebuah perubahan, hingga keluar dari keterbelakangan dan kemiskinan. Sehingga momentun 5 tahun ke depan harus menjadi momen yang menentukan, menjadikan Pilkada 2024 sebagai wadah memilih pemimpin yang bisa mengangkat wajah NTT di pentas nasional,” ujarnya.

“Pemimpin baru hendaknya mengetahui dengan sungguh-sungguh berbagai permasalahan provinsi ini sehingga arah pemerintahannya menjadi terarah dan berpihak kepada kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.*