Mengulik Kebenaran di Balik Suara yang Membimbing (Daemon) Sang Filsuf Socrates

0

FILSAFAT, Bulir.id – Socrates, filsuf Yunani legendaris, menghadapi hukuman mati di Athena karena dianggap tidak taat beragama dan merusak moral kaum muda. Namun, ia membela diri dengan klaim yang luar biasa: suara batin, yang disebut “daemon”-nya, membimbingnya menjauh dari perbuatan salah.

Berbeda dengan iblis dalam mitologi selanjutnya, daemon Socrates bukanlah roh jahat. Sebaliknya, itu adalah tanda daemon, peringatan batin yang misterius. Tetapi apa sebenarnya suara misterius ini, dan mengapa suara ini sangat penting bagi kehidupan dan filsafatnya?

Socrates adalah seorang filsuf Yunani kuno dan dihormati sebagai bapak filsafat Barat. Ia menggunakan percakapan dalam filsafatnya, bukan teks tertulis seperti banyak filsuf modern lainnya. Percakapan ini melibatkan pertanyaan-pertanyaan tajam yang memadukan logika dan mitos, sebuah metode yang masih dipraktikkan oleh banyak filsuf, yang sekarang dikenal sebagai “metode Sokratik.” Muridnya yang paling terkenal, Plato, menulis dialog-dialog dramatis tentang percakapan filosofis gurunya dengan warga Athena yang terkemuka.

Kematian Socrates di tangan Kekaisaran Athena sangat terkenal karena menjadi latar belakang dramatis bagi empat karya penting Plato: Euthyphro, Apology, Crito, dan Phaedo. Keempat dialog ini menceritakan kisah hari-hari terakhir Socrates saat ia dijatuhi hukuman mati oleh perwakilan negara kota Yunani kuno.

Ketika ditanyai secara resmi tentang motifnya, Socrates bersaksi bahwa tanda-tanda daemon menginspirasi tindakannya. Banyak orang menganggap daemon Socrates sebagai malaikat pelindung atau suara hati nuraninya, bukan sebagai kerasukan setan yang jahat.

Socrates bersaksi bahwa daemonnya bertanggung jawab atas banyak tuduhan yang diajukan terhadapnya dan memerintahkannya untuk tetap tinggal dan menghadapinya daripada melarikan diri. Socrates mempercayakan hidup, kesalehan, dan filsafatnya kepada daemonnya.

Daemon vs. Demon: Meluruskan Kesalahpahaman

Ada dua cara filsafat kontemporer menggunakan kata “demon” yang mungkin salah menggambarkan daemon Socrates. Pertama, filsafat modern, dimulai dengan Descartes, telah menggunakan setan sebagai eksperimen pemikiran: Descartes membayangkan setan yang terus-menerus memperdayainya; Laplace membayangkan setan yang dapat mengetahui posisi dan pergerakan setiap molekul; dan Maxwell membayangkan setan yang dapat menguji hukum termodinamika.

Penggunaan kedua dari kata “setan” dalam filsafat berkaitan dengan Kekristenan dan malaikat yang jatuh. Kata “daemon” mirip dengan “setan,” meskipun ejaan khusus tersebut menandakan bahwa kata daemon hanya digunakan dalam pengertian klasik atau Helenistik, bukan dalam pengertian Kristen kontemporer.

Meskipun “setan” adalah makhluk jahat dalam mitologi Kristen, daemon dapat mewakili makhluk baik atau jahat karena definisi mereka dipengaruhi oleh mitologi pada masa itu. Tidak seperti dalam mitologi Kristen, mitologi Yunani melibatkan banyak dewa dengan berbagai motif altruistik dan egois.

Plato sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata untuk dialog-dialog Socratik. Frasa “daemon Socrates” mungkin bukan terjemahan yang tepat dari bahasa Yunani karena menyiratkan keberadaan entitas seperti setan atau malaikat.

Sama seperti bahasa Inggris dapat mewakili entitas (“demons”) dan kualitas (“demonic”) melalui kata-kata yang terkait, demikian pula bahasa Yunani kuno mewakili entitas dan kualitas tersebut. Plato menggunakan kualitas “daemonic” untuk menggambarkan tanda-tanda, suara, atau sesuatu yang berhubungan dengan Socrates, tetapi ia tidak pernah menggunakan kata “daemon” untuk mewakili entitas spiritual.

Plato juga menggunakan kata “daemon” dalam karyanya Simposium, yang dapat membantu kita menentukan apakah daemon Socrates adalah entitas ilahi atau hanya sebuah tanda yang dianggap memiliki kualitas ilahi.

Tokoh Diotima menggunakan kata “daemonik” untuk aktivitas perantara antara manusia dan ilahi, seperti doa, pengorbanan, dan ramalan. Oleh karena itu, tanda-tanda, suara, atau hal-hal daemonik muncul dari para dewa, meskipun para dewa atau makhluk ilahi tidak hadir secara langsung sebagai entitas. Penggunaan frasa “daemon Socrates” mungkin masih tepat karena tanda-tanda daemonik menyiratkan adanya daemon atau dewa.

Apology : Kunci untuk Memahami Suara Batin Socrates

Dari keempat dialog Plato yang membahas hari-hari terakhir Socrates, Apologi memberikan argumen yang paling jelas tentang daemon Socrates dan perannya dalam pembelaannya.

Socrates bersaksi tentang pentingnya tanda daemoniknya, yang ia gambarkan sebagai suara batin yang mencegah tindakan-tindakan tertentu. Pada akhir dialog, orang-orang Athena memberikan suara dan menjatuhkan hukuman mati kepada Socrates.

Tuduhan Athena berpusat pada ketidaktaatan kepada Tuhan dan kerusakan moral kaum muda, dan tuduhan ketidaktaatan kepada Tuhan ini relevan dengan penyelidikan kita tentang daemon Socrates. Orang Athena menuduh Socrates tidak percaya pada dewa-dewa kota tetapi pada hal-hal spiritual lainnya. Menariknya, tuduhan tersebut mengaitkan kata “theos” dengan dewa-dewa kota dan kata “daemonic” dengan praktik-praktik tidak taat kepada Tuhan yang dilakukan Socrates.

Socrates terpaksa membela diri dengan menjelaskan hubungannya dengan daemonnya, dan oleh karena itu proses hukum yang digambarkan dalam Apologi Plato mungkin menjadi kunci untuk memahami Daemon Socrates.

Ramalan Delphi dan Bimbingan Kenabian Socrates

Socrates membela diri terhadap tuduhan Athena dengan bersaksi bahwa aktivitas filosofisnya sebagian disebabkan oleh Oracle Delphi. Oracle Delphi adalah seorang pendeta wanita di Kuil Apollo di Delphi. Bertahun-tahun sebelumnya, Oracle tersebut mengatakan bahwa Socrates adalah orang paling bijak di Athena. Sebagai tanggapan terhadap ramalan yang membingungkan itu, Socrates mencari orang paling bijak di Athena dan menyinggung beberapa warga melalui pertanyaan-pertanyaannya yang lugas.

Sebagai tanggapan atas tuduhan ketidaktaatan kepada Tuhan, Socrates bersaksi bahwa ia lebih memilih untuk menaati dewa Oracle daripada orang-orang Athena karena filsafat akan mengarah pada kesalehan dan kesempurnaan jiwa. Socrates menggunakan komitmennya pada filsafat dan kehendak para dewa sebagai pembelaan terhadap tuduhan bahwa ia adalah seorang ateis dan tidak taat kepada Tuhan. Apollo, dewa kebenaran dan nubuat, memimpin Oracle di Delphi; kita dapat berasumsi bahwa daemon Socrates pada akhirnya terkait dengan Apollo.

Dalam Apologi Plato, Socrates bersaksi bahwa daemonnya mencegahnya melakukan tindakan tertentu, seperti melarikan diri dari Athena atau mengajar siswa tertentu. Socrates mengatakan bahwa daemon itu bersamanya sejak kecil. Daemon itu akan berbicara melalui suara batin untuk menentang tindakan tertentu. Socrates menggambarkan daemon tersebut secara impersonal sebagai suara negatif.

Daemon yang dikemukakan Socrates telah ditafsirkan sebagai suara hati nurani atau alam bawah sadar, bahkan mungkin bukan makhluk spiritual sama sekali. Pembacaan kita terhadap Apologi menunjukkan bahwa Socrates menggunakan frasa impersonal atau adjektiva seperti “sesuatu yang ilahi” atau “daemonik,” tetapi tidak pernah menggunakan frasa personal atau objektif seperti “Tuhan” atau “daemon.”

Namun, Socrates berulang kali menghubungkan tanda-tanda daemoninya dengan kekuatan kenabian. Kata dasar dari “nubuat” adalah “mantis,” itulah sebabnya terkadang disebut ” seni mantik.” Socrates mengatakan bahwa suara batinnya adalah sejenis nubuat kecil, dan kata “mantis” secara langsung menghubungkan daemon Socrates dengan Oracle di Delphi, yang juga menggunakan kata dasar tersebut.

Dunia Mitologi dan Spiritual Daemon Socrates

Hubungan antara daemon Socrates dan nubuat juga selaras dengan mitologi inti Sokrates, seperti perubahan jiwa. Sekuel dari Apologi Plato adalah Phaedo, yang menceritakan kematian Socrates dan membahas mitos tentang keabadian jiwa.

Meskipun mungkin tergoda untuk menafsirkan daemon Socrates sebagai personifikasi dari hati nuraninya, Plato menggambarkannya sebagai nubuat. Akar kata “mantis” digunakan untuk menggambarkan cara untuk memahami alam jiwa abadi, yaitu dunia bentuk, serta suara batin daemon Socrates. Socrates sendiri mengakui bahwa ia memiliki sedikit kekuatan kenabian, mungkin dibandingkan dengan Oracle di Delphi. Oleh karena itu, terdapat spektrum kekuatan kenabian dari suara kecil Socrates hingga oracle Apollo yang kuat.

Suara batin Socrates adalah cara uniknya berhubungan dengan hal ilahi, mungkin secara langsung dengan dewa mitologi Apollo, yang ia panggil sebagai saksi selama pembelaannya dalam Apologi Plato.

Sungguh menggoda untuk membayangkan bahwa orang-orang kuno secara naif mempercayai mitologi mereka sendiri, seolah-olah Zeus secara fisik tinggal di puncak Gunung Olympus seperti yang digambarkan Homer. Kita telah melihat bahwa mudah untuk mengacaukan hal-hal yang bersifat daemonik dengan daemon. Di satu sisi, hal-hal yang bersifat daemonik bersifat impersonal, seperti suara batin Socrates atau ramalan dari Delphi. Di sisi lain, daemon adalah makhluk pribadi, seperti Apollo atau Asclepius. Apollo adalah dewa nubuat. Asclepius adalah putra Apollo dan dewa mimpi.

Apakah Socrates percaya bahwa Apollo benar-benar berbicara kepadanya melalui suara batinnya? Dalam tulisan Plato, Socrates menghindari menjawab pertanyaan tersebut secara langsung. Dalam Apologi, ia menyebut dewa dari Oracle Delphi sebagai saksi kesalehannya. Socrates juga bersaksi bahwa suara batin yang bersifat daemon membimbing tindakannya dan mencegah baik ketidaktaatan terhadap agama maupun ateisme, tuduhan yang ditujukan kepadanya. Suara itu bukanlah personifikasi dari hati nuraninya, sebuah eksperimen pikiran, atau entitas spiritual seperti malaikat atau iblis. Sebaliknya, Socrates bersaksi bahwa daemonnya adalah kemampuan kenabian kecil yang berbicara melalui tanda-tanda, suara, dan hal-hal yang bersifat daemon.

Daemon Socrates adalah istilah singkat untuk pengalaman kenabian yang melibatkan suara batin. Meskipun mudah untuk membayangkan bahwa Socrates dirasuki oleh setan secara harfiah atau kiasan, kata-kata yang digunakan Plato menunjukkan bahwa Socrates bersaksi tentang kemampuan kenabiannya berdasarkan otoritas spiritual dari Oracle Delphi.

Peran Sejati Daemon Socrates

Socrates tidak pernah berbicara tentang entitas atau dewa yang terkait dengan suara batinnya. Sebaliknya, ia bersaksi bahwa suara batinnya adalah nubuat daemon atau komunikasi spiritual. Tulisan-tulisan Plato mengandung banyak referensi tentang hal-hal daemon, seperti suara batin Socrates. Sebaliknya, tulisan Plato hanya sedikit merujuk pada daemon itu sendiri.

Perbedaan antara “daemon” dan “daemonic” sama dengan perbedaan antara “angel” dan “angelic.” Di satu sisi, hal-hal yang bersifat malaikat mungkin termasuk cahaya di awan, musik yang indah, dan perasaan kasih sayang, tetapi malaikat adalah makhluk spiritual yang memiliki kepribadian yang bertindak di dunia ini seperti kita. Socrates tidak bersaksi tentang perjumpaan dengan makhluk spiritual. Sebaliknya, ia bersaksi tentang suara batinnya yang bersifat kenabian.

Perbedaan antara “daemon” dan “daemonic” memang halus, tetapi sangat penting. Socrates hanya bersaksi tentang hal-hal daemonic di dunia ini, seperti ramalan dan nubuat. Ia menyebut Apollo sebagai saksi kesalehannya. Namun, ia tidak memberikan kesaksian langsung tentang interaksinya dengan dewa atau entitas spiritual lainnya.*