“Asal Buat Kamu Senang,” Kumpulan Puisi Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

SAWAH KASIH TUHAN

hati petani adalah lumpur
rahim bagi tumbuhnya batang padi yang hijau
sangat karib dengan Tuhan dan penuh syukur
hujan keringat mereka melebihi mukjizat di padang gurun
memberi makan kepada makhluk bernama manusia
selama di sini, di dunia fana

maka apakah sawah itu bagiku
ialah kelopak bunga kasih Tuhan
kepada ciptaan-NYA sepanjang waktu
kepada siapa pun yang mengingkarinya
Tuhan menyatakan perang kepadanya

jadilah dedaunan hijau batang padi sebuah nyanyian mazmur
tancapan cangkul bapak-bapak petani itu
membuat mereka dan sawah memperoleh kemuliaan
dari Sang Maha Agung Pemilik Langit dan Bumi
janganlah main-main dan mempermainkan sawah padi yang menguning
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu:26.1.22; foto by Yosef Lagut: sawah di Rawuk, Kolang, Manggarai, Flores, NTT)

ASAL BUAT KAMU SENANG

asal buat kamu senang
apa yang sebenar-benarnya tidak diperkatakan
demi citra yang baik
tidak apa-apa, air ludah pun harus ditelan berkali-kali

janji manis yang lalu-lalu, berlalu
mengapa dan untuk apa kamu-kamu yang di luar sana menyebut-nyebut lagi hal itu

asal untuk tampil beda dengan yang sebelum-sebelumnya
yang tidak masuk akal dipaksa-paksa dirasionalkan
mumpung para pendukung lelap dalam kebodohan tingkat dewa
yang penting seiman, habislah segala gundah gulana

bagi berjuta-juta saudaramu yang memberikan suara di kotak suara sehingga engkau duduk di pusat uang dan kekuasaan
pernahkah engkau sekedar berdoa saja bagi kesejahteraan mereka?

tanah tempat kakimu, kakiku dan kaki mereka berpijak, sudah amat tua
darahnya engkau hisap bersama-sama dengan mereka-mereka yang engkau sebut sohib dan sesama
kehidupan kami semakin rapuh
dan sakit kami tidak semakin sembuh
di atas sana langit robek-robek
badan kami semakin dipanggang hawa panas
sejumlah jalan dilubangi dan tenggelam
lainnya menjadi rawa-rawa
anak cucu kami akan hidup sengsara
karena menu makanan alam bagi masa depan
telah dihisap dengan semena-mena
*(gnb:tmn aries:jkt:26.1.22)

PEMASRAH RINDU

ini rinduku, itu penjaramu
ini puisiku, itu halusinasimu
begitulah kau menyebut aku

apakah kau menyangka aku sedang menghibur diri, atau menimbun-nimbun air mata agar tetap mampu bertahan terhadap keadaan yang kau anggap menyiksa hidupku, yang kau sebut penjara itu?
apakah kau melihat aku sebagai kenihilan, kenaifan, sikap fatal dan membelenggu?
apakah kau sedang melihat aku sedang mendongakkan leherku dan memasrahkannya untuk dipenggal kemudian tubuhku dicincang-cincang karena tersiksa rindu?

ingatkah kau waktu mendadak kuusap wajahmu sedetik setelah kau sebut aku sebagai pemasrah romantis yang mencinta?
ingatkah kau waktu mendadak kita tertawa dan nyambung kata dan rasa tanpa direncanakan?
sebenarnya kau tak salah menyebutku pemasrah

aku memang pasrah; tetapi kepasrahanku hanyalah kepada sesuatu yang harus ditegakkan; kepada keharusan; kepada keniscayaan; kepada immanensi; kepada cinta sejati, sekarang dan di sini

dalam penjara rindu, pasrahku adalah kekuatanku; bisa saja besok pagi akan kubakar gedung tinggi yang amat menyinggung perasaanku, dan itulah gerangan rasa pasrahku; bisa saja kau memukul daguku, dan kupukul balas dagumu, maka itulah juga bentuk kepasrahanku

berpasrah dalam dinding penjara rindu berujud banyak rupa; aku pasrah kepada kegelapan ini; kepada lingkaran dinding penjara ini; tetapi kepasrahanku tidak pernah berhenti; kepasrahanku adalah bukti yang dinamis, setia dan terus-menerus, tanpa boleh sepenggal pun berhenti

jadi silahkan melapis tebal dinding penjaraku, wahai orang-orang di luar sana; aku tak akan mengelakkan; aku pasrah dengan cara menggempurnya sehingga aku tidak akan tanggal dari diriku sendiri; menjadi diri sendiri adalah cara terbaik mencintaimu seorang diri, sendiri dalam sunyi
***gnb:tmn aries:jkt:sabtu:29.1..22)

DALAM RINDU MELEBUR

untuk apa memilah-milah dalam rindu
kau dan aku selalu bergumam bisu
tidak ada apa-apa dalam hidup ini yang bisa kaupilah-pilahkan untuk kaubenci atau kaucintai
tidak ada baik atau buruk
tidak ada senang atau sedih
tidak ada nasib sial atau nasib untung
tidak ada kodrat buruk dan kodrat rahmat
tidak ada malapetaka atau rezeki
kenapa tidak, yah, ini alasanku
dalam rindu aku merasakan hidup ini sebulat-bulatnya tanpa membagi ruang, jaringan-jaringan atau pemotongan-pemotongan waktu
segalanya merupakan kesatuan, kebulatan dan keutuhan yang kau bisa telan tanpa merasakannya manis atau pahit
karena dalam rindu, kau dan aku telah melebur satu
*(gnb:tmn aries:jkt:sabtu:29.1.22)