“Ketika Hekekat Tiada Melebur” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

KETIKA HAKEKAT TIADA MELEBUR

engkau bukan tanpa nama
tergumam selalu dalam sukma
namamu terdiri dari tiga patah klasik:
cinta-kasih dan sayang
di atas pundakmu setiap kisah tegak berdiri
menjangkau bintang-bintang dengan hati dan janji
menepis deru ombak hingga ke tebing tebing samudera
mungkin sebelum tiba di sana, langkahmu dan langkahku menapak di atas tiba
ketika hakekat tiada melebur dalam Sang Cinta
engkau dan aku disempurnakan oleh-NYA

SEKEPING CINTA, APA MUSTAHIL

mencinta dalam tiada, mungkinkah
yang satu di sini, yang lain di sana
sekeping saja cinta, apa mustahil
toh cinta yang sudah dimulai tak akan mati-mati

Tuhan menganugerahkan kebebasan kepadamu dan kepadaku; ucapan ya terhadap cinta telah digumamkan tanpa dipaksa oleh siapa-siapa atau oleh suatu apa; tapi mengapa yang satu di sini, yang lain di sana

rasa-rasanya kebebasan kita mesti di-redefinisi; bahwa bebas bukan sebebas-sebebasnya melainkan tahu batas alias tahu diri; sekeping saja cinta, apa mustahil

namun engkau dan aku lebih sering memahami kebebasan hanya melalui pintu hak; apa hakku maka apa yang kudapatkan; bagaimanakah nasib cinta yang sudah dimulai tapi tidak mati-mati?

ENGKAU SABDA

bukan tanpa nama-lah engkau
aku pun tahu
namamu bukan dirimu
engkau bingung, bisu
tapi engkau adalah Sabda Tuhan
lebih dari sekedar raga yang menawan
yang menjadi dasar untuk nikmat-nikmat dunia

rasa-rasanya engkau dan aku perlu belajar lagi untuk mendengarkan Sabda Tuhan yang memancar pada tradisi alam, hukum jagat raya serta diri manusia sendiri, termasuk engkau, dirimu dan juga diriku

rasa-rasanya aku perlu belajar lebih banyak lagi tentang sabda Tuhan, tentang engkau yang lebih dari sekedar nama; sebab jikalau aku tak bisa paham bahwa engkah adalah sabda Tuhan; maka aku-lah yang merebut engkau dari hakekatmu; mengangkatmu ke permukaan dunia dan menjadikanmu sebatas apa yang tampak untuk pemuas nafsu dan nikmat dunia

KEMBALILAH GULUNGAN ASAP PUTIH

kembalilah sekali lagi
ke dalam mimpiku, kembalilah ke sini sekali lagi
aku dan kekasih di sini sedang sendiri-sendiri
kanan kiri kami pelan-pelan dilingkupi oleh semacam gulungan-gulungan asap putih
ternyata itu bukan telaga kaca, bukan pula air, melainkan kerinduan
tersembunyi namun nampak

kami berdua meloncat ke arah telaga; tampak di bawah permukaan air telaga itu seperti gambar kedalaman bumi, dengan lempengan-lempengan yang bergerak, berdesakan, saling menekan, saling mematahkan dan saling meremuk; namun cinta kami tetap utuh; kami sudah bukan lagi dua melainkan satu
*(gnb:tmn aries:jkt:selasa:8.2.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta