Apa yang Paradoks dari Musik Timur? Sebuah Bantahan Semantik atas Artikel Yogen Sogen

0

Oleh: Defri Ngo

Jurnalis & Founder POLISLAB

 

OPINI, Bulir.id – Harian Pos Kupang pada Jumat (3/10/2025) menurunkan sebuah opini dengan judul yang nyentrik, tetapi juga membingungkan: “Paradoks Musik Timur, dari Tenda Pesta ke Gugatan Publik.”

Artikel itu ditulis oleh Yogen Sogen, seorang mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pemerintahan di STIPAN, Jakarta. Sebagai orang yang mendaku diri pegiat sastra, Yogen rupanya sedang membuat sejumlah artikulasi semantik yang keliru.

Namun demikian, tanpa perlu terburu-buru memdedah karya itu, saya ingin menegaskan posisi tilik saya sebagai pembaca karya yang memiliki otonominya sendiri. Kritik saya semata tertuju pada teks dengan sejumlah persoalan semantik dan logika berbahasa yang dibangun penulis.

Terkait hal ini, saya teringat prinsip hermeneutika Gadamer (2004) yang menyebut bahwa teks memiliki daya ungkap dalam apa yang disebut sebagai peleburan cakrawala (Horizontverschmelzung). Di sana, cakrawala penafsir bertemu dan melebur dengan cakrawala teks atau subjek sehingga menghasilkan pemahaman.

Namun demikian, bagaimana memahami sebuah teks jika teks itu terjebak dalam ketakbermaknaan? Pertanyaan ini membuka keluar sejumlah pertanyaan lain tentang makna paradoks, status paradoks dalam musik Timur, dan alasan musik Timur disebut paradoks yang dimuat dalam artikel Yogen.

Tiga Kesalahan Dasar

Setelah membaca secara teliti dan detail seluruh artikel Yogen, saya menemukan setidaknya tiga kesalahan mendasar yang mencederai bangun tulisannya.

Kesalahan Pertama: Penulisan Judul Artikel

Judul yang dibuat Yogen, hemat saya, memuat satu variabel utama terkait “paradoks musik Timur” (objek) yang bergerak “dari tenda pesta ke gugatan publik” (keterangan tempat).

Pertanyaan saya kemudian, apa yang paradoks dari musik Timur? mengapa musik Timur disebut paradoks? di mana letak paradoks musik Timur? dan bagaimana situasi yang paradoks itu ditangkap oleh subjek politik (baca: pemerintah)?

Pertanyaan-pertanyaan ini tak satu pun dijawab Yogen dalam artikelnya. Dari total 5 sub bab artikel dengan 63 paragraf tersebut, Yogen justru menunjukkan situasi paradoksal dalam sistem birokrasi dan subjek politik, bukan sebaliknya pada musik Timur.

Cambridge Learner’s Dictionary (4th Edition, 2021) mendefinisikan paradoks sebagai “a situation that seems very strange or impossible because of two opposite qualities or facts” atau “sebuah situasi yang tampaknya sangat aneh atau tidak mungkin karena dua kualitas atau fakta yang bertentangan.”

Pernyataan serupa disampaikan Aristoteles dalam karya fenomenalnya Metaphysics (340–320 SM) yang mendefinisikan istilah paradoks sebagai kasus di mana premis yang masuk akal akan menghasilkan kesimpulan yang tidak masuk akal.

Aristoteles menekankan bahwa “tidak mungkin sesuatu pada saat yang sama ada dan tidak ada,” yang kelak menjadi dasar dari hukum non-kontradiksi. Dalam sebuah rumusan sederhana, paradoks dapat ditulis dengan notasi:

P⟺¬P

di mana sebuah proposisi tidak dapat bernilai benar dan salah secara bersamaan menurut logika klasik. Dalam bentuk logika proposisional lebih eksplisit, paradoks dapat digambarkan dalam notasi:

(P→¬P)∧(¬P→P)

yang menjelaskan dua arah implikasi yang saling bertentangan, sehingga menandakan ketidakmungkinan atau kontradiksi internal dalam sistem logika tertentu.

Dua notasi tersebut menunjukkan bahwa suatu proposisi atau sistem menghasilkan kesimpulan yang bertentangan dengan premisnya sendiri, meskipun semua langkah logis tampak sah.

Lantas, kembali ke pertanyaan awal, apa yang paradoks dari musik Timur? Bunyikah? Atau irama? Atau justru kata-katanya yang bersifat menggetarkan dan mempesona (tremendum et fascinosum)?

Saya tak yakin soal itu. Sebaliknya, yang saya cermati, Yogen sesungguhnya mau bilang bahwa sistem birokrasi dan subjek politik kita sedang menemui titik paradoksnya.

Para pejabat menikmati musik Timur dengan tarian, tetapi di saat yang sama melupakan persoalan-persoalan yang dialami masyarakat dari Indonesia Timur. Bukankah demikian maksud Yogen?

Pernyataan ini tampak jelas pada pembahasan di sub judul kedua di mana ia menulis bahwa, “ketika para pejabat ikut berjoget, mereka sebenarnya sedang merayakan sebuah pergolakan batin yang tak mereka sadari.” Di titik ini, paradoks yang dimaksud Yogen sesungguhnya diciptakan oleh pejabat itu sendiri dan bukan oleh musik Timur.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa “kegembiraan yang ditampilkan justru berpotensi mengaburkan realitas ketimpangan dan ketidakadilan yang masih membelenggu tanah di mana musik itu lahir.”

Lagi-lagi, sorotan utama di sini terletak pada sikap pejabat sebagai subjek politik yang “mengaburkan” persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan. Mereka bukan lagi penyambung lidah rakyat, tetapi penutur dari egoisme diri dan kroni.

Itu berarti, musik Timur bukan objek yang paradoksal. Ia adalah stimulus yang justru merangsang kesadaran tentang sistem birokrasi dan kondisi politik yang bermasalah. Musik tersebut secara tak langsung menelanjangi keaslian diri para pejabat.

Kesalahan Kedua: Struktur yang Timpang

Ketika membaca artikel ini secara keseluruhan, pembaca akan menemui kebingungan untuk menerjemahkan status paradoks yang entah disematkan pada subjek politik (pemerintah) atau justru pada musik Timur.

Yogen memulai artikel dengan gambaran umum soal perkembangan musik Timur yang disebutnya “terus bertahan” dan “diterima luas.”

Artikel lalu masuk ke sub judul soal kebangkitan musik Timur yang sebenarnya hanya bertujuan menjelaskan apa yang sudah disebutkan pada paragraf pembuka dengan sedikit penjelasan tambahan.

Ia kemudian meneruskan ke sub judul kedua soal narasi pemberontakan dalam musik Timur. Secara singkat, bagian ini berisi penjelasan bahwa terdapat narasi yang kelam dalam setiap musik Timur dan berusaha diungkapkan keluar oleh para penyanyi.

Narasi-narasi kelam tersebut, misalnya terkait “belenggu kemiskinan, akses pendidikan, kesehatan dan infrastruktur yang jauh dari kata layak.” Lantas, dengan musik, kata Yogen, masyarakat “tidak berteriak menuntut keadilan, melainkan menari dan bernyanyi dengan semangat menyala-nyala.” Ini membingungkan!

Kalau Yogen paham sungguh ekspresi kebudayaan di wilayah Timur, khususnya di Pulau Flores dan Timor, menari dan bernyanyi adalah ekspresi budaya yang natural sebagai respons atas hal-hal yang dialami dalam kehidupan bersama.

Tarian “gawi” dari Ende, misalnya melambangkan harmonisasi untuk bersama-sama membentuk ikatan kekeluargaan dan persaudaraan (Lina, dkk: 2023). Dengan “gawi”, masyarakat seperti mau mengatakan bahwa “bebanmu adalah bebanku dan tawaku adalah tawamu.” “Gawi”, dengan begitu adalah ekspresi menyatukan kekuatan bersama untuk menghadapi kehidupan.

Hal yang lebih membingungkan lagi (dan ini yang saya persoalkan), pada paragraf selanjutnya, Yogen bukannya menjelaskan maksud dari pernyataan sebelumnya yang bermasalah, tetapi menulis bahwa para pejabat yang berjoget dengan menggunakan lagu Timur “sebenarnya sedang merayakan sebuah pergolakan batin yang tak mereka sadari.”

Pertanyaan saya: Kok tiba-tiba membahas soal pejabat? Apa maksud pergolakan batin di situ? Masa orang berjoget disebut merayakan pergolakan batin? Lucu, bukan?

Seperti merasa cukup berkenan dengan pernyataan tersebut, Yogen menulis lebih lanjut bahwa “jogetan itu bisa menjelma semacam kudeta budaya, di mana rakyat dari Timur, melalui musiknya berhasil menghipnotis para penguasa untuk mengikuti irama mereka.”

Pertanyaan saya: Anda sebenarnya mau menulis tentang apa? apakah mau menganalisis tentang joged sebagai kudeta budaya atau musik Timur yang paradoks tadi? Kalau musik Timur itu menghipnotis, di mana letak paradoksnya?

Di sini, saya benar-benar lelah mengartikulasikan maksud Yogen. Loncatan dari suatu maksud ke maksud lain berulangkali dibuat sehingga menjadikan artikel ini seperti rimbah raya segala arah. Karena itu, kesalahan kedua saya cukupkan sampai di sini!

Kesalahan Ketiga: Generalisasi Fakta

Yogen memulai seluruh uraian dengan mengafirmasi fakta bahwa musik Timur “semakin menemukan jalannya. Ia terus bertahan dengan warna musiknya dan kini diterima secara luas.”

Pernyataan di atas sepintas terdengar menyenangkan. Yogen sendiri mengambil contoh dua lagu Timur yang kini viral di jagad media, yakni “Tabola Bale” karya Silet Open Up dan “Gemu Fa Mi Re” karya Nyong Franco yang keduanya berasal dari daratan Flores, NTT.

Pertanyaannya, apakah dengan demikian, “musik Timur semakin menemukan jalannya dan kini diterima secara luas?” Jawabannya: belum!

Rasa gembira terhadap ekspansi musik Timur dalam skema musik nasional tidak bisa dibangun dengan generalisasi. Kita tentu ingat, banyak musik Timur asli dengan nada dan corak yang khas justru tenggelam dan bahkan ditinggalkan masyarakat.

Saya menyebut paling kurang beberapa contoh lagu seperti “Bo Lele Bo” (Rote), “Ana Rinting Teong” (Maumere), “Ie Bele Wea” (Ende), “Bei Benga” (Bajawa), dan “Benggong” (Manggarai) yang kian tergerus zaman.

Lagu-lagu ini hampir pasti dilupakan para remaja dan generasi sekarang karena dominasi musik pop. Oleh karena itu, menyebut “musik Timur semakin menemukan jalannya sendiri dan diterima secara luas” agaknya terlalu berlebihan, untuk tidak menyebutnya naif.

Generalisasi fakta adalah bentuk lain dari sikap dominatif yang justru menghilangkan solidaritas dengan banyak musik Timur lain yang perlahan-lahan tenggelam. Selebihnya, dalam upaya negosiasi politik kebudayaan, sikap yang sama akan menutup ruang bagi akses yang lebih luas terhadap ekspresionisme musik-musik Timur.

Paradoks Yogen

Tiga kesalahan pada bagian sebelumnya berujung pada satu kesimpulan bahwa Yogen dalam artikelnya telah melakukan pembauran makna yang serampangan.

Loncatan dari satu bagian ke bagian lain artikel telah mengaburkan makna utama yang hendak dicapai penulis sendiri.

Oleh karena itu, alih-alih menyebut bahwa musik Timur sedang mencapai paradoks, Yogen sendiri sesungguhnya sedang memiliki paradoks dalam dirinya. Paradoks itu terkait upaya menyampaikan pesan yang bisa dimengerti publik.

Kalian bisa saja memaki-maki saya untuk tulisan yang panjang ini. Namun, satu yang penting adalah bahwa pemahaman terhadap makna kata dan logika berbahasa perlu diperhatikan secara serius. Hanya dengan itu, kita bisa mencerdaskan publik pembaca. Salam!

 

*DAFTAR PUSTAKA:*

Aristotle. (1998). Metaphysics (W. D. Ross, Trans.). The Modern Library.

Cambridge University Press. (2021). Cambridge learner’s dictionary (4th ed.). Cambridge University Press.

Gadamer, H.-G. (2004). Truth and Method (2nd rev. ed.; J. Weinsheimer & D. G. Marshall, Trans.). Continuum.

Virgilius Bate Lina, V., Meo, L. F., & Amus, A. (2023). “Tarian Adat Gawi untuk Membentuk Karakter Peserta Didik dalam Pembelajaran di Sekolah Dasar.” Jurnal Bina Gogik, 10(2).