Balada Lelaki Pemuja Sampah

0

oleh Gerard N Bibang

Di balik gemuruh menuju orang nomor satu
Terdengar tangis lelaki pemuja sampah
Di tengah keringat dan umpatan tiada tentu
Ditaruhnya onggokan sampah di atas meja
Menyelinapkan pisau rahasia
Menunggu saat penikaman tiba

Hujan turun
Ya, hujan turun
Hujan sudah lama turun
Sampah-sampah membanjiri ibukota
Tak kasatmata bagi mata bening nurani
Sampah-sampah itu adalah dirinya sendiri
Adalah akal sehat yang tak ada saringannya
Yang menjelma nafsu brutal, cacat otak dan mental miring
Adalah lumpur-lumpur kental
Menggelepoti bumi nusantara
Campur minyak dan lidah api
Memusnahkan hari demi hari

Sampah-sampah itu memang tesebar di sana sini
Di gedung-gendung pencakar langit
Menjelma cinta buta kepada dunia
Cinta tuli kepada harta benda
Cinta buntung kepada polularitas
Cinta bunuh diri kepada kekayaan
Cinta muncrat kepada karier dan jabatan
Cintra jrot kepada gambar-gambar wajahnya sendiri
Yang dipasang di sepanjang jalan, televisi dan media online sendiri
Di dunia maya dan lembaga survey buatan sendiri

Kita hanya debu, wahai lelaki pemuja sampah!
Lekat di ban mobil
Terhimpit aspal panas
Kita terlempar
Di parit busuk kita terkapar
Untuk apa kau menyelinapkan pisau rahasia
Di antara onggokan sampah di atas meja
Menuju orang nomor satu, kuasa dan nama besar
*(gnb:tmn aries:jkt:selasa:4.10.22: saat partai-partai mengusung capres)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Gerard N Bibang