BEREBUTAN JILAT (Tentang Mengenang)

0

Oleh: Rantho Dannie*

CERPEN, Bulir.id – Telur ayam kampung sering dicari. Alasannya sederhana; orisinal dan enak. Bapak tentu menyadari alasan ini. Saat kami masih kecil, Bapak punya kandang ayam di samping dapur. Setiap pagi dan sore, beliau begitu akrab dengan ayam-ayam peliharaannya. Ayam-ayam juga dekat dengan dia. Biasanya lima sampai sepuluh bulir jagung diambil untuk kasih makan ayam-ayam itu. Jagung itu tidak harus dibeli tetapi sudah digantung di atas tungku api sehabis panen. Tujuannya biar tahan lama dan tidak mudah lapuk. Ketika butir-butir jagung sudah dihambur, ayam-ayam terlihat begitu riang. Mereka berkotek dan berkokok. Bersahutan. Bunyi kibasan sayap-sayap juga terdengar jelas. Ada yang saling mengejar untuk beradu kekuatan kaki. Ada yang saling mengusir agar butir-butir jagung itu hanya boleh dimakan sendiri. Ini cara curang yang turun-temurun. Ada yang jatuh cinta pagi-pagi di hadapan kerabat. Jika tembolok mereka sudah kencang, satu persatu mulai pergi. Yang sedang bertahan adalah induk-induk ayam dan anaknya. Mereka juga terlibat baku serang sampai anak-anak mereka menangis panjang. Para induk ayam tidak rela jika anak-anaknya tidak kebagian jatah makan pagi. Sekalipun sampai merelakan satu-dua bulu terlepas. Ini adegan seru di pagi hari. Ketika letih, mereka akan pergi juga. Kelompok terakhir yang belum jalan adalah anak-anak ayam tanpa induk yang merana berteman sepi. Tangisan mereka lebih panjang karena mencari induknya yang tiada. Kejadian selalu sama dialami induk-induk ayam yang naas ini. Mereka jadi korban incaran elang-elang pesisir pantai yang lapar. Kuku kaki elang dengan cakar yang tajam telah memusnahkan mimpi anak-anak ayam untuk belajar lebih banyak dari ibunya. Mereka belum sanggup makan jagung pula. Kepada mereka, Bapak beri perhatian khusus. Dia segera mengambil potongan-potongan kayu bakar yang sudah lapuk. Lantas, dibenturkannya ke tanah. Rayap-rayap akan muncul dari patahan kayu lapuk tersebut. Berhamburan di tanah. Sekejap saja, rayap-rayap itu lenyap di mulut anak-anak ayam yatim-piatu. Itu makanan yang Bapak khususkan bagi mereka. Sesekali terlihat Bapak melatih anak-anak ayam untuk terbang. Tujuannya agar mereka bisa mandiri lebih cepat. Sesudah kenyang, mereka akan bermain hanya di sekitar rumah; tidak sampai jauh. Lalu Bapak mulai fokus pada ayam yang terlihat murung dan menyendiri. Dia sudah bisa pastikan penyebabnya. Tak perlu banyak waktu, beliau langsung bertindak seolah dokter bedah. Tembolok ayam yang sakit itu akan dioperasi. Dia mengeluarkan karet gelang dari dalam tembolok ayam itu. Lalu menjahit luka bedah itu. Dua-tiga hari berikutnya, ayam itu bebas dari sakitnya; sembuh dan segar kembali. Gelar dokter kampung pantas disematkan untuk beliau. Dokter yang belajar dari pengalaman, tanpa sekolah, hanya modal nekat.

****

Suatu pagi, saya tanya beliau tentang rahasia membuat ayam jinak. Pertanyaan penuh penasaran. Soalnya, ayam-ayam begitu liar ketika kami kasih makan sore hari. Ada yang membangkang dan tidak mau masuk kandang. Beliau menjawab santai bahwa bulu-bulu sayap bagian dalam harus dicabut agar mereka jinak. Jawaban yang diperoleh semakin buat saya bingung. Tidak masuk akal. Sampai sekarang, saya belum temukan relasi resiprok antara cabut bulu ayam dengan jinak. Tapi, itu selalu dibuat dan berhasil. Beliau memang beda. Selain akrab, dia peduli juga. Ketika pulang kerja sudah malam, dia selalu sempatkan diri untuk mengecek ayam di kandang. Dia yang paling tahu jumlah ayam dan ciri-ciri mereka. Jika ada yang hilang, langsung ketahuan. Kami yang jadi sasaran amarah karena tidak bisa perhatikan ayam saat matahari sudah benam. Kami diam seribu kata. Tidak berani membantah karena salah. Rupa-rupa omelan mulai mengalir deras dari mulutnya. Kadang, nadanya tinggi dan keras. Bagi kami, sebenarnya amarah itu tidak punya dasar. Sejak pagi, ayam-ayam itu sudah punya rute sendiri. Mereka bebas dengan dunianya. Lalu kami harus ke sekolah. Kami dan ayam tentu beda jalur. Kami ke sekolah. Ayam tidak sekolah. Bagaimana mungkin kami bisa jaga mereka. Namun alasan logis ini hanya berputar di dalam otak saja, tidak sampai keluar dari mulut. Mau membantah tapi takut sebab suasana akan berubah mencekam bila dia naik pitam. Di sela-sela omelannya itu, saya lihat beliau simpan kembali handuknya. Sepertinya ia batal mandi. Dia ambil senter dan cari ayam yang hilang. Ketika bertemu, beliau akan bawa pulang ke rumah dan masukkan ke kandang. Barulah omelannya selesai. Memang kerja keras beliau membawa hasil. Tangannya dingin untuk urusan pelihara ternak, entah ayam maupun sapi. Ayam-ayam kampung berkembang biak dengan baik. Kepada kami, beliau selalu berjanji bahwa jika kami dapat juara 1 di sekolah, dia kasih hadiah. Maksimal dia potong satu ekor ayam untuk makan bersama. Hati ayam khusus untuk yang Juara 1. Jika tidak juara, minimal kami dikasih telur ayam kampung. Hadiah tak bernilai namun berharga dan akan dikenang menembus waktu. Hadiah yang tidak mewah namun bermakna. Cara ini beliau pakai untuk mempererat keakraban kami dengan buku-buku pelajaran dan tugas-tugas sekolah. Kami terpacu untuk juara lagi di semester berikut. Dan kami tetap setia menjaga janji itu. Selalu!

****

Selain diambil sebagai hadiah, telur-telur itu biasa kami makan ketika lauk lain tidak ada. Itulah sebabnya litani omelan Bapak di atas ada benarnya. Kami juga punya tanggung jawab untuk jaga ayam-ayam itu karena banyak manfaatnya. Namun ada yang aneh. Bapak memang rajin memelihara ayam. Tapi dia tidak suka telur rebus. Apalagi telur goreng. Dia lebih suka minum telur ayam kampung. Tanpa campuran apapun. Bila letih, dia rutin minum. Katanya, kuning telur ayam kampung bisa buat badan pulih lebih cepat. Beliau tidak peduli bau amis. Saya selalu geli, jijik dan mual saat lihat dia minum telur mentah. Tapi soal kenyamanan dan perasaan tentu tidak bisa dipaksa. Selagi beliau nyaman dengan rasa amis telur mentah, saya hanya bisa diam saja. Satu-dua kesempatan, beliau suruh saya ikut minum. Tapi, saya tolak mentah-mentah. Berbeda dengan Mama. Apabila bulan Desember tiba, telur-telur ayam kampung akan diambil dan disimpan. Ia tidak minta izin di Bapa. Bapa diam saja. Mama selalu punya alasan tak terucap. Mama tidak harus beli telur ayam milik tetangga. Karena harga telur ayam kampung memang sedikit lebih mahal.

****

Telur yang Mama simpan itu ternyata beliau gunakan untuk kebersamaan kami tanggal 25 dan 31 Desember. Dua hari itu adalah hari spesial; hari riang gembira seperti keriangan ayam-ayam menunggu jatah makan pagi dan sore. Kami makan kue tart buatan Mama saat Natal dan Tahun Baru. Mama memang tidak mengenyam pendidikan khusus dan kursus tataboga atau semacamnya. Dia hanya punya modal berani belajar sendiri ketika menjadi tukang masak di pastoran. Pastor paroki selalu bawa buku petunjuk membuat jenis-jenis kue berbahasa Swiss. Buku itu sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dilengkapi dengan gambar bahan-bahannya. Mama jadi lebih cepat paham. Ia mahir buat kue tart. Enak pula. Namun sebesar apapun rasa riang kami, tentu tidak melebihi suasana riuh saat kami bantu Mama buat kue. Segala jenis permainan akan ditunda. Kami seolah sibuk dengan tugas masing-masing, mulai dari menyiapkan tempat pembakaran kue, mencuci dan mengeringkan pan kue, menyaring tepung untuk adonan, mengocok telur ayam, dan lain-lain. Semua kami lakukan tanpa mengeluh. Mama tahu pasti arti dari giat kami saat itu. Kami hanya menunggu waktu di mana adonan sudah dimasukkan ke dalam pan kue. Saat paling menegangkan. Sebab kami akan ramai-ramai berebut baskom yang Mama pakai untuk mengaduk adonan. Di dalamnya, ada sisa-sisa adonan mentah yang jadi kesukaan kami. Ketika tidak berhasil merebut, maka kami hanya bisa pasrah melihat baskom itu ada di tangan yang menang. Sepanjang masa kecil, saya hanya berhasil mendapat kesempatan dua kali. Sisa adonan pada baskom itu akan kami jilat sampai sukses; sampai bersih; tidak perlu dicuci lagi. Adonan mentah yang enak. Terkadang sisa adonan itu menempel di rambut-rambut kami karena kepala terlampau jauh masuk ke dalam baskom. Campuran segala macam bahan buat telur ayam kampung tidak lagi amis. Harum. Kadang, Mama iba dengan kami. Oleh sebab itu, dia selalu buat empat kue tart agar setiap kami mendapat giliran untuk jilat sisa adonan pada baskom. Jika mengandalkan kekuatan, tentu adik perempuan selalu kalah. Mama pakai cara itu untuk mengakrabkan kami dengan keadilan dan tindakan berbagi. Telur ayam kampung memang beda. Rasanya beda namun menyatukan kami dalam kebersamaan.

****

Cara-cara yang dipakai Bapa dan Mama selalu buat saya lupa bahwa Natal dan Tahun Baru itu identik dengan hal baru. Natal adalah keriuhan anak-anak manusia menanti santapan Sabda yang menjelma. Natal adalah Bapa yang akrab dan peduli terhadap sesama yang bersusah. Natal adalah bau amis kandang hewan yang harus ditelan dalam penciuman. Natal adalah hadiah dari Bapa. Sedangkan Tahun Baru adalah kesempatan menjilat sampai tuntas peluh-peluh kerja keras, keriuhan yang asri, dan segala kenangan yang pernah hidup. Tahun Baru adalah telur ayam kampung yang amisnya tak bisa dibantah. Tahun Baru adalah baskom adonan yang berisi sisa-sisa mimpi yang harus dituntaskan….

(theendofthisyear2022)

(waitingfornewyear2023)