Bukan Setelah Misa Selesai!

0

Oleh Andy Tandang*)

Tilik, BULIR.ID – Catatan ini lahir dari amarah yang masih tersisa. Seorang anak SD mati. Bukan karena perang. Bukan karena bencana alam. Tapi karena hidupnya terlalu berat untuk tubuh sekecil itu.

Di beberapa lapak sosmed, sebuah pertanyaan menggelitik muncul ke permukaan: di mana gereja sebelum anak itu mati?

Mari kita kunyah pelan-pelan dengan kepala dingin, sambil menikmati secangkir kopi pahit.

Begini! Kita itu cenderung menjadikan gereja sebagai penjaga ritual, bukan penjaga kehidupan. Kita rajin bicara soal keselamatan jiwa setelah mati, tapi gagap saat berhadapan dengan perut kosong sebelum mati.

Kita fasih mengutip Injil tentang kasih, tapi sering kaku ketika kasih itu menuntut kita untuk turun dari mimbar, masuk ke rumah reyot yang bau asap dapur dan putus asa.

Kasus anak di Ngada ini bukan kecelakaan. Bukan juga takdir. Ini produk sistemik dari kemiskinan yang dibiarkan, dinormalkan, bahkan diamini dengan kalimat paling ‘berbahaya’ dalam sejarah iman: “Kita serahkan saja pada Tuhan!”

Gereja, kalau masih mau jujur pada Injil, semestinya alergi terhadap kemiskinan ekstrem. Yesus tidak mati disalib supaya gereja pandai mengelola liturgi, tapi supaya yang lapar diberi makan, yang kecil dilindungi, yang lemah tidak dibiarkan sendirian menghadapi dunia yang kejam.

Paus Fransiskus pernah bilang begini: “Saya lebih memilih Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena telah berada di jalanan, daripada Gereja yang sakit karena terkurung dan melekat pada keamanannya sendiri.” (Evangelii Gaudium, No. 49).

Masalahnya, gereja hari ini sering terlalu nyaman menjadi institusi. Terlalu sibuk menjaga wibawa, struktur, dan harmoni internal, sampai lupa bahwa Injil itu adalah teks yang mengganggu status quo. Injil itu tidak sopan terhadap ketidakadilan. Ia tidak netral di tengah penderitaan.

Anak di Ngada itu hidup dalam kemiskinan yang kasat mata: rumah seadanya, jarang makan nasi, tak pernah dapat bansos karena alasan administratif, masa depan yang bahkan tidak sempat dibayangkan.

Tapi kematian itu juga membuka kemiskinan lain yang lebih telanjang: kemiskinan kehadiran. Tidak ada sistem yang cukup dekat untuk mendeteksi keputusasaan. Tidak ada komunitas yang cukup peka untuk membaca tanda-tanda rapuh. Tidak ada jaringan perlindungan yang benar-benar bekerja sebelum semuanya terlambat.

Dan di sinilah gereja seharusnya berdiri, kalau masih mau disebut gereja. Bukan sebagai komentator moral setelah tragedi, tapi sebagai penjaga pertama kehidupan.

Gereja mestinya jadi ruang aman sebelum negara datang, sebelum statistik bicara, sebelum berita viral. Gereja mestinya tahu siapa anak yang tidak makan cukup, siapa keluarga yang hidup di bawah garis kemanusiaan, siapa yang mulai kehilangan harapan.

Kalau gereja hanya muncul setelah peti mati ditutup, itu bukan kehadiran profetis. Itu cuma ritual kesedihan. Gereja tidak bisa terus bersembunyi di balik doa sambil menutup mata dari struktur kemiskinan yang membunuh. Doa tanpa keberpihakan adalah bentuk kesalehan yang kosong.

Yesus sendiri keras soal ini: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40).

Tuhan tidak tinggal di gedung gereja yang tenang. Dia ada di gubuk-gubuk tua tempat anak-anak belajar menahan lapar dan memendam air mata sendirian.

Kematian anak di Ngada ini seharusnya jadi cermin retak buat gereja. Bukan untuk menyalahkan satu pihak, tapi untuk menggugat kita semua: apakah kita masih setia pada Injil, atau hanya setia pada rutinitas rohani?

Gereja tidak dipanggil untuk menjadi penonton yang saleh, tapi pengganggu yang penuh kasih. Mengganggu ketidakpedulian. Mengganggu sistem yang menormalisasi kemiskinan. Mengganggu kenyamanan iman yang terlalu kokoh di mimbar doa.

Karena kalau gereja tidak hadir di tengah kemiskinan, lalu untuk apa salib itu digantung? Untuk apa semua doa itu dinaikkan?

Kalau gereja masih punya nyali moral, maka kematian anak di Ngada ini bukan hanya tragedi. Ini adalah panggilan darurat. Panggilan untuk turun, hadir, dan berpihak. Bukan besok. Bukan setelah misa selesai. Tapi sekarang.

Karena iman yang datang terlambat, pada akhirnya, tidak pernah benar-benar menyelamatkan siapa pun.

Andy Tandang (Eks Frater)