Dari Flores untuk Vatikan, Lipa Prenggi dan Topi Songke jadi Kado Istimewah untuk Paus Fransiskus

0

VATIKAN, Bulir.id – Imam Keuskupan Maumere, Yakobus Donnisius Migo (36) alias Romo Donnie berkesempatan berjumpa dengan pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiskus pada audiensi umum di Lapangan Basilika Santo Petrus, Vatikan, Rabu 26 April 2023.

Perjumpaan dengan Paus Fransiskus itu merupakan momen spesial bagi Romo Donnie. Sebab pada kesempatan yang sama itu pula, ia berkesempatan menyerahkan dua kado istimewa dari Flores.

Kado yang diberikan Romo Donnie berupa tenun ikat tradisional yakni Lipa Prenggi khas Maumere dan topi Songke Manggarai saat audiensi umum di Lapangan Basilika Santo Petrus.

Usai menerima dua kado khas Flores tersebut, Paus Fransiskus menyampaikan grazie mille, atau terima kasih dalam Bahasa Italia.

Diketahui Lipa Prenggi berasal dari Maumere terbuat dari bahan-bahan alami dan ditenun secara manual. Memiliki simbol kehormatan dan biasa digunakan oleh para pria dalam suatu acara resmi.

Sedangkan Songke semacam topi berbentuk seperti peci merupakan topi khas Manggarai, juga ditenun secara manual. Songke itu digunakan oleh para pria Manggarai sebagai lambang kehormatan dan juga kepemimpinan.

Diketahui sebelum ditahbiskan menjadi Imam, Romo Donnie bertugas sebagai frater top di Paroki Santa Maria Imakulata Habi, Desa Habi, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka.

Kini Romo Donnie tercatat sebagai imam Keuskupan Maumere (KUM). Alumnus Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero itu sedang melanjutkan studi dengan Program Magister di Facolta della Comunicazione Istitozionale della Chiesa (Fakultas Komunikasi Institusi Gereja), Pontifica Universita della Santa Croce-Roma.

Romo Donnie kemudian membagikan pengalaman perjumpaan langsung dengan Sri Paus serta momen penyerahan dua kado istimewa tersebut di laman akun media sosialnya.

Berikut beberapa kutipan goresan tulisan Romo Donnie Migo terkait momen perjumpaannya dengan Paus Fransiskus seperti dikutip Bulir.id dari Kompas.com.

Setelah menunggu cukup lama, apalagi dengan berbagai pembatasan setelah pandemi covid-19, maka tibalah waktu yang penuh sukacita, tepatnya, Rabu, 26 April 2023, persis sehari setelah pesta Santo Markus Pengarang Injil, saya mendapat kesempatan untuk berjabatan tangan dengan Bapa Paus Fransiskus di halaman Basilika Santo Petrus, Vatikan.

Pertemuan ini terjadi dalam agenda audiensi umum tiap hari rabu dalam pekan yang berlangsung dari jam 09.00 hingga 11.00 waktu Eropa Tengah. Dalam audiensi ini Paus Fransiskus berbicara tentang semangat untuk evangelisasi. Pada kesempatan yang sangat berbahagia ini, saya menyerahkan dua kenangan, yakni Lipa Prenggi dari Kabupaten Sikka; tempat asal ayah saya dan tentunya di mana saya menjadi bagian dari imam Keuskupan Maumere. 

Saya juga membawa Topi Songke dari Manggarai, tempat asal ibu saya dan disanalah saya dilahirkan dan memperoleh pendidikan hingga seminari menengah. Saya juga menyertakan selembar kertas di mana saya menulis penjelasan tentang profil saya, kedua kenangan yang saya serahkan, dan permohonan doa bagi Keuskupan Maumere, Bapa Uskup Mgr Edwaldus Martinus Sedu, para rekan imam, para seminaris, rohaniwan dan umat beriman. 

Sewaktu menerima dua kenangan itu, reaksi Bapa Suci adalah tersenyum, melihat senyum Bapa Suci, saya tidak dapat berkata-kata, padahal saya sudah siapkan apa yang harus saya katakan. Lalu teman kelas saya yang duduk tepat di samping menyampaikan kepada saya untuk menjelaskan kedua kenangan yang saya bawa. 

Saya mengatakan “Tenun ikat ini Namanya Lipa Prenggi berasal dari Maumere – Indonesia; terbuat dari bahan-bahan alami, ditenun secara manual. ini simbol kehormatan dan biasa digunakan oleh para pria dalam suatu acara resmi. Sedangkan yang satunya adalah topi berbentuk seperti peci, yang terbuat dari Songke Manggarai, ditenun secara manual, juga digunakan oleh para pria selain lambang kehormatan juga kepemimpinan. 

Kedua kenangan ini berasal dari kampung orangtua saya.” Bapa suci dengan sabar mendengarnya dan tetap tersenyum, dan pada akhirnya dia mengangguk dan mengatakan “grazie mille” (terima kasih) sambil memberkati saya. Pertemuan itu sangat singkat, apalagi ada hampir seribu orang yang menunggu kesempatan untuk berjabatan dengan Sri Paus. 

Sementara yang hadir dalam audiensi sekitar 30-an ribu dan bisa lebih, sebelum pandemic bisa sampai 60 ribu tetapi berkat kedua kenangan itu Bapa Suci bisa berhenti sekitar 30 detik di depan saya, itu membuat saya sungguh sangat bersukacita.

Saya menghadiri audiensi ini bersama dengan teman-teman imam dan dua suster sekaligus mereka adalah teman kelas saya di Facoltà della Comunicazione Istituzionale della Chiesa (Fakultas Komunikasi Institusi Gereja), Pontifica Universita della Santa Croce-Roma.*