“Hari Puisi Sedunia Senin 21 Maret 2022”

0
Gerard N Bibang

Oleh Gerard N Bibang*

ENGKAU PUISIKU

akhirnya kuakui di harimu ini, hari puisi
engkau adalah puisi itu sendiri
senantiasa baru untuk sebuah warta yang dari dahulu kala selalu relevan
tentang kesaksian sederhana orang biasa
dalam berkasih-sayang dan mencinta

engkau adalah puisi
menyapa sanubariku saban hari
tentang hidup di dunia yang hanya bisa sederhana
karena jenis dan standar kebahagiaan kita memang sangat biasa-biasa saja
toh diyakini sejak awal penciptaan engkau dan aku diminta hanya untuk saling setia
tiada lain selain menaburkan kasih sayang sejauh-jauh kaki melangkah

engkau adalah puisi
selalu menunjuk kepada apa dan siapa yang menjadi inti
yang seharusnya selalu dirindukan dan dicari-cari
karena kaki hidupmu dan hidupku tidak meloncat menggapai langit
tak ada yang kita kejar hingga lari terbirit-birit
di lubuk sukma
bertahta cinta yang tak lekang oleh zaman
menggelegar jiwa raga
tak harus menjadi pengumuman untuk semua yang di luar sana

engkau, puisiku
meredam tangan dan lenganku untuk tidak mengacungkannya ke angkasa mengepalkan tinju
sebab tak ada satu unsur apapun dalam kehidupan ini
yang membuatku kagum dan terpana dalam arti paling sejati
kecuali kasih dan cinta yang mengalir hilir tanpa arah kembali
mengayuh bathin melibas serpihan-serpihan tiada tepi

puisiku-lah, engkau, adalah kekuatanku
untuk tak akan menyentuh siapa dan apa hanya demi hasrat dan nafsu
membuatku tidak tertarik pada kemenangan atas siapa pun
toh hidup ini, sejak awal memang tidak dimaksudkan untuk saling menang-menangan
kecuali berkata ya untuk mencinta

kalaupun pikiranku mengembara sampai ke ruang hampa
hatiku sudah lama selesai dan tak menuntut apa-apa
tak ada sekilaspun padaku mimpi menaklukkan engkau
sebab engkau lebih berharga dari apa yang dunia tawarkan kepadaku

engkau, puisiku
maka tak ada sedikitpun minatku terhadap kehebatan diriku
puisimu berkata lantang tentang jenis kelemahanku
ialah kebiasaan untuk mentertawakan diriku sendiri
toh hidup ini hanya sendagurau sebelum kita dipanggil ke tanah abadi

BERBAIT PUISI

kutuliskan sebait puisi
mungkin berbait-bait tapi pasti tidak pernah selesai
tentang hidup yang bukan sebuah logika yang jelas terurai
tentang perjumpaan lalu jatuh cinta dan akhirnya terjerat dalam dilema
tentang cinta, yang orang katakan, itulah yang sebenar-benarnya cinta

berbait puisiku pasti tidak runtut
terimalah ini sebagai arus panas pencair beku
penentang pikiran buntu
ketika segala sesuatu tampak hampa dan tidak menjadi apa-apa
oleh jarak, waktu dan pikiran yang banal
seakan-akan sesudah dunia tidak ada surga

tentang berbait puisi ini
kutuliskan sendiri, dalam sepi
membawaku ke tepian tiada pernah engkau duga
bahwa lebih baik mati di tengah samudra raya daripada tenggelam di dalam sebuah kubangan
bahwa cintaku kepadamu memang tak sepenuhnya sempurna, sekarang dan di sini
tapi di sana, sesudah dunia, ada kepenuhan kasih

berbait puisi
kucukupkan di sini
bukan untuk halu saat sendiri
adalah sebuah pembebasan
simpatiku kepadamu sang cinta
*(gnb:tmn aries:jkt:senin:21.3.22:hari puisi sedunia)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.