Lionel yang Bukan Messi dan Kelas 1997

0

Oleh Rizal Fernandez (Kolumnis BULIR.ID) 

Tilik, BULIR.ID – Hajatan sepakbola sejagad sudah usai. Argentina menobatkan diri sebagai juara kali ketiga. Yang tersisa adalah luapan kegembiraan dari pendukung fanatik seperti saya, dan sedikit rasa lelah akibat begadang.

Setidaknya ada dua nama insan sepakbola yang paling sering disebut seusai laga final kali ini yakni Lionel Messi dan penjaga gawang Emiliano Martinez. Tapi, saya tidak ingin latah membicarakan kedua bintang ini.

Saya cuma ingin membahas tentang Lionel yang lain, yakni Scaloni, sang arsitek di balik kegemilangan penampilan Argentina. Sebentar-sebentar. Tidak akan ada pembahasan mengenai taktik strategi di sini. Saya hanya ingin bernostalgia dengan sosok yang satu ini.

Semua berangkat dari jersey yang dikenakan oleh Scaloni pada saat penyerahan medali dan trofi Piala Dunia. Iya! Dia mengenakan jersey miliknya sebagai anggota skuad Argentina U-20 ketika menjuarai Piala Dunia junior di Malaysia pada 1997. Dalam laga itu, Argentina berhasil comeback 2-1 setelah terlebih dahulu ketinggalan 0-1.

Masih segar dalam ingatan saya ketika menyaksikan pertandingan tersebut di TVRI. Argentina tertinggal melalui tendangan bebas pada babak pertama. Di babak kedua, Tim Tango berhasil membalikkan kedudukan dalam laga yang berlangsung keras. Saking kerasnya, jersey Juan Riquelme sampai sobek di bagian dada karena ditarik oleh pemain lawan.

Scaloni punya peran sentral dalam turnamen itu. Satu golnya yang saya ingat ketika berhadapan dengan Inggris di perempatfinal. Setelah berhasil melewati hadangan bek kiri lawan, penjaga gawang yang mengira Lionel akan memberikan umpan. Namun bola justru dicocor ke gawang Inggris yang saat itu diperkuat oleh Michael Owen. Pada babak semiginal, giliran Brazil yang dipecundangi dengan skor 2-0.

Tahun itu, materi Argentina bertabur para pemain yang di kemudian hari menjadi bintang yang cemerlang. Selain Scaloni yang pernah memperkuat sejumlah klub seperti Deportivo La Coruna, Lazio dan Atalanta, ada juga nama beken lainnya seperti Juan Roman Riquelme, playmaker piawai, Pablo Aimar, Walter Samuel, Esteban Cambiasso, Diego Placente, Leandro Cufre, penjaga gawang Leo Franco, dan sebagainya.

Nama-nama ini, kecuali Placente dan Aimar yang cuma berlaga di Piala Dunia 2002, sebagian besar dibawa oleh pelatih yang sama, Jose Pekerman ketika menukangi tim senior di Piala Dunia 2006.

Kesuksesan kali itu merupakan kesuksesan kedua Pekerman setelah pada 1995, Argentina juga berhasil menjadi juara pada turnamen yang sama dan digelar di Qatar! Negara ini sepertinya menjadi ladang kesuksesan Argentina! Pekerman kemudian meraih kesuksesan yang sama pada 2001 dengan bintang andalannya Javier Saviola, serta Andres D’Allesandro.

Selepas 1997, tidak ada nama-nama skuad junior yang masuk ke tim senior pada Piala Dunia 1998 di bawah asuhan Daniel Pasarella, sang peraih gelar sebagai pemain pada 1978 dan 1986.

Maklum saja, saat itu, Argentina sarat akan bintang yang berlaga di berbagai liga papan atas Eropa. Seperti yang sudah saya sebut di atas, tim 1997 baru mencuat secara kolektif bersama bintang-bintang lainnya yang muncul pra dan pasca1997, termasuk Messi, pada gelaran Piala Dunia 2006.

Bagi saya, setelah 1986, Argentina 2006 merupakan tim yang paling atraktif. Rohnya terletak pada jenderal lapangan tengah, Juan Riquelme. Kepiawaiannya menata serangan diiringi skill individu yang mumpuni plus piawai eksekusi bola mati dan didukung oleh kaki kiri dan kanan yang sama hebatnya, membuat Argentina benar-benar luar biasa.

Sayang, langkah tim ini harus terhenti di babak perempatfinal oleh tuan rumah Jerman lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 di waktu normal.

Ya! Meskipun kelas 1997 tidak bisa meraih prestasi di level senior pada 2002 dan 2006, namun pada akhirnya, kelas 1997 bisa meraih prestasi tersebut dari tepi lapangan, sebagai juru taktik, melalui Scaloni yang diasisteni oleh Pablo Aimar serta Walter Samuel. Mereka mengakhiri puasa gelar Argentina, baik untuk Copa Amerika sejak 1993 dan Piala Dunia tentu saja, sejak 1986.

Kelas 1997, menjawab mimpi anak-anak Argentina sebagaimana tersurat dalam lirik lagu Muchacos yang kerap dinyanyikan setiap Argentina meraih kemenangan.  “The finals we lost how many years I cried….. I want to win the third I want to be world champion”.

Vamos Argentina!