Mengubur Benih-Benih Kebencian

0

Oleh Rian Agung, S.H, Paralegal, Alumnus Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul

Tilik, BULIR.ID – Di era digitalisasi saat ini, manusia sedang mengalami patologi sosial, sebuah situasi yang mendepak manusia dari kejernihan identitas eksistensialnya kepada sesuatu yang absurd. Kebencian adalah satu gejala umum patologi sosial yang sedang menjangkiti masyarakat moderen.

Oleh dan melalui kebencian, manusia sesekali dapat bertransformasi menjadi sosok yang beringas dan emosional. Pada tingkat yang paling ekstrim, fatalitas dan efek domino kebencian dapat mengubah manusia menjadi pemangsa dan penindas manusia lain yang lemah dan tak berdaya (Homo Homini Lupus).

Dalam kehidupan bermasyarakat, kebencian dapat menjadi bom waktu yang meretakkan kohesi sosial dan keintiman relasi antar sesama. Konflik bernuansa SARA yang menggoyah bangunan kebangsaan, sebagaimana sering terjadi di Indonesia, ditenggarai oleh pembiaran atas benih-benih kebencian ini.

Di sini, kebencian akan dengan mudah menyeret banyak orang kepada fanatisme dan eksklusivisme. Celakanya, fanatisme dan eksklusivisme ini selalu berjejaring dan menular dengan menghasut orang lain membenci pihak-pihak tertentu, tidak saja berdasarkan SARA tetapi juga karena disabilitas dan orientasi seksual.

Penghasut kebencian biasanya bukanlah orang biasa, tetapi sosok yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, dianggap kredibel, berkuasa dan setiap ucapannya diyakini sebagai sebuah kebenaran.

Mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donal Trump adalah tokoh publik yang pernah diglorifikasi oleh pendukung dan simpatisannya karena berhasil memantik kebencian masal kepada golongan kulit hitam, kaum imigran, perempuan, orang-orang non Amerika dan kelompok minoritas lainnya.

Produksi narasi kebencian itulah yang mengantar Donal Trump meraih kursi kepemimpinan AS. Apa yang terjadi di Amerika sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kondisi di Indonesia saat ini, dimana kebencian seringkali dijadikan alat dan propaganda politik untuk meraih kekuasaan.

Media Sosial

Media sosial itu ibarat buah simalakama. Dari media sosial, orang bisa mendapatkan informasi positif untuk menunjang potensi dirinya, tetapi pada saat yang sama ruang media sosial juga menyediakan ekses negatif bagi penggunanya. Melalui ekses negatif inilah kebencian diproduksi secara masif sehingga mempengaruhi persepsi publik terhadap fakta-fakta sosial di sekitarnya, termasuk membentuk persepsi negatif orang terhadap fakta pluralisme.

Di Indonesia, penyebaran narasi kebencian lewat medsos ini memasuki kategori yang sangat brutal. Dalam sebuah infografis yang pernah dikeluarkan oleh Facebook pada tahun 2020, terlihat, sebanyak 6,9 juta ujaran kebencian disebarkan melalui platform ini dan mengalami peningkatan yang signifikan di tahun-tahun sesudahnya (Muhammad Aulia Shidiq & Ahmad R. Pratama).

Sementara itu, Virtual Police mengidentifikasi, media sosial Twitter menjadi penyumbang terbesar bersarangnya oknum nakal penyebar konten-konten kebencian melalui 195 akun, menyusul Facebook 112 akun, Instagram 13 akun dan YouTube 8 akun.

Di tahun ini (2022), Mabes polri menemukan, potensi ujaran kebencian lewat medsos akan semakin tinggi dimana ada 1.042 akun media sosial yang sedang dalam pengawasan (CNN).

Penyebar ujaran kebencian ini biasanya menyembunyikan identitas asli mereka. Mereka menggunakan akun palsu (anonim) untuk melakukan penghinaan dan teror. Anonimitas inilah yang membuat mereka merasa aman untuk melakukan cyberbulling tanpa memikirkan efek negatif bagi korban.

Korban cyberbulling di medsos banyak yang mengalami nasib tragis. Ada yang mengalami traumatis dan tidak sedikit yang memilih jalan bunuh diri. Megan Taylor Meirer dan Phoebe Prince adalah dua korban cyberbulling di AS yang memilih jalan bunuh diri.

Di Kanada, ada Amanda Todd, Remaja 15 tahun yang tewas karena gantung diri setelah selama tiga tahun menerima perlakuan ciber bullying di dunia maya. Perempuan berusia 12 tahun di Inggris, Katie Webb tewas karena gantung diri di rumahnya di Evesham, Worcestershire.

Dari penyelidikan terungkap, Katie, menjadi bulan-bulanan di media sosial karena gaya rambut dan pakaiannya yang tidak bermerek. Di Indonesia, aksi nekat Yoga Cahyadi (36), menabrakkan dirinya pada Kereta Api di Yogyakarta pada tahun 2013 silam diduga karena tekanan dan hujatan akibat gagalnya acara musik Locstock Fest 2, dimana dia yang menjadi event organizer (EO)-nya.

Kisah-kisah tragis di atas menunjukan kekelaman hidup manusia di ruang virtual, suatu tatanan dunia baru yang sedang digandrungi saat ini. Dunia baru dengan lanskap digitalisasi itu ternyata dapat membunuh manusia secara membabi buta hanya karena orang lain berbeda dengan kita; hanya karena subjektivitas kita terlampau diproyeksi sebagai satu-satunya kebenaran, tanpa peduli pada standar dan kebenaran orang lain.

Menahan Diri

Kebencian, dalam bentuk apapun ia disalurkan terbukti membawa maka petaka besar dalam hidup. Kebencian menyulap media sosial menjadi pisau tajam yang membunuh manusia secara fisik dan mental. Kebencian juga memperuncing perbedaan di tengah-tengah komunitas sosial hingga memicu konflik horisontal dan vertikal.

Itulah sebabnya kita membutuhkan seperangkat paket kebijakan yang mampu membendung persemiaan benih-benih kebencian ini. Paket kebijakan ini tentu saja harus menyentuh banyak aspek termasuk menciptakan ruang media sosial yang aman dan nyaman.

Namun di atas semua itu, menahan diri untuk mengolah kebencian menjadi sikap saling memaafkan, saling pengertian dan menjauhi prasangka akan jauh lebih menentukan terciptanya ruang hidup yang damai dan bebas konflik.

Menahan diri penting karena kebencian berawal dari ketidakmatangan personal dalam menerima setiap informasi yang diterima, lantas sedikit saja informasi itu menyinggung sisi emosional manusia, pecahlah konflik. Menahan diri menjadi pilihan paling rasional karena dendam dalam hati manusia tak sepenuhnya dapat dilacak oleh kecanggihan teknologi.

Perangkat-perangkat teknologi hanya mampu menjangkau apa yang kelihatan – dan persis disitulah ia tak dapat diandalkan menumpas fatalitas benih-benih kebencian ini. Disinilah kehadiran institusi-intitusi kemanusiaan, termasuk agama dibutuhkan. Ajaran-ajaran agama harus diformulasi sedemikian rupa sehingga kompatibel dengan fakta sosial kehidupan umat/masyarakat.

Refleksi teologis agama harus diletakkan dalam konteks keterlemparan manusia dari identitas religiusnya yang rentan menebar teror dan kebencian. Agama harus melakukan pendekatan personal dan komunal guna memastikan terputusnya benih-benih kebencian dalam kehidupan bersama.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here