Menilik Konsep Religius dan Moral Dalam Motif Tenun Ikat Kabupaten Sikka

Setiap daerah memiliki kebudayaannya masing-masing dan setiap warisan budaya memiliki beragam makna baik spiritual maupun moralitas. Begitu juga dengan makna dari setiap motif tenun ikat dari Kabupaten Sikka.

0

 

Oleh: Nik Dewa dan Arnol Tanga

Harta. Bulir.id Setiap orang tentunya pernah mendengar term budaya atau kebudayan. Term kebudayaan telah menjadi familiar di kalangan akademisi maupun kaum awam karena sangat menarik untuk dipelajari. Kebudayaan mempengaruhi semua aspek kehidupan manusia. Dalam Bahasa Inggris, budaya atau kebudayaan disebut culture yang berasal dari kata Latin Colere, berarti mengolah atau mengerjakan, mengembangkan. Budaya dapat kita pahami sebagai cara hidup yang berkembang serta dimiliki bersama oleh sekelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari pelbagai unsur-unsur termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, perkakas, bahasa, bangunan, pakaian, serta karya seni.

Mempelajari suatu kebudayaan dapat membantu kita untuk memahami maksud dan tujuan dari sebuah ritus-ritus yang diwariskan oleh para leluhur. Unsur-unsur yang termaktub dalam suatu lingkup kebudayaan memiliki makna dan arti-arti tertentu sesuai dengan kepercayaan dan tradisi yang diwariskan. Salah satu kebudayaan yang akan dibahas dalam artikel ini adalah kebudayaan dari Kabupaten Sikka.  Kabupaten Sikka adalah salah satu kabupaten di provinsi NTT yang memiliki beragam kekhasan dalam bidang seni. Karya seni ini dapat berupa bangunan, kubur batu, senjata,alat musik dan busana daerah. Dalam artikel ini kita akan mengupas sedikit mengenai budaya tenun ikat. Tenun ikat Sikka memiliki simbol-simbol dan arti tertentu yang mengandung pesan-pesan moral bagi hidup bermasyarakat. Penulis akan fokus menilik makna religius dan moral di balik motif tenun ikat Sikka.

Kebudayaan Sikka dan Konsep Ketuhanan

Kabupaten Sikka merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang masih kuat memelihara tradisi nenek moyang. Tradisi itu diwariskan secara turun temurun pada tiap generasi secara lisan melalui cerita rakyat, epos, dongeng maupun mitos dan melalui aktivitas berupa ritual upacara adat.

Orang Sikka memiliki konsep yang unik tentang Tuhan dan penciptaan manusia. Bagi orang Sikka, Tuhan merupakan substansi yang hadir dari kekosongan semesta, Ia adalah “Ada” yang mengadakan dirinya sendiri dari ketiadaan. Tuhan kemudian menciptakan gugusan pulau beserta manusia, tumbuhan dan binatang untuk mendiaminya. Manusia menjadi penguasa bagi ciptaan lainnya oleh karena dia memiliki akal budi dan pengetahuan. Manusia ditugaskan untuk menjaga relasi antara ciptaan (tumbuhan, binatang dan Nitu Noan atau roh Nenek Moyang) dengan Tuhan melalui adat dan agama.

Tuhan dalam kebudayaan Sikka dikenal dengan nama Inang Nian Tana Wawa Amang Lero Wulan Reta yang berarti Ibu penguasa bumi, Ayah penguasa langit. Konsep politiestis ini kemudian diubah oleh para misionaris katolik ketika datang ke Sikka untuk menyebarkan Agama Katolik. Sapaan Tuhan sebagai “Inang Nian Tana Wawa, Ama Leron Wulan Reta” dipahami dalam terang monoteistis. Allah diperkenalkan sebagai satu Substansi yang bisa melakukan segala hal yang diinginkanNya. Konsep teologis ini dapat ditemukan dalam ungkapan adat dalam ritual piongNian tana delo telon, leron wulan bitak natan, bur degu koko leon bitak gliang ganu unu gegar alan mora ewan dunia dadi, adat dadi, agama dadi” yang berarti “sejak dunia ini dijadikan, telah terbentuk gugusan pulau-pulau besar dan kecil. diciptakan manusia untuk menguasai. Terjadilah adat dan agama pun jadi.”

Konsep Religius dan Moral dalam Motif Tenun Ikat Sikka

Sejak awal peradaban Suku Sikka, pakaian telah menjadi kebutuhan yang tidak boleh disepelehkan. Pakaian merupakan salah satu kebutuhan primer manusia di samping kebutuhan pangan dan papan. Busana bukan hanya berfungsi sebagai pelindung tubuh manusia, tapi juga merupakan sistem tanda yang saling terkait dengan sistem-sistem tanda yang lain dalam masyarakat, dan melaluinya kita dapat mengirim pesan atau makna-makna tertentu. Pesan ini dapat berupa sikap, status sosial, kepercayaan, politik, dan masih banyak aspek-aspek lain yang termaktub di dalamnya. Marcel Danesi dalam bukunya yang berjudul Messages, signs and Values atau pesan, tanda dan makna, mengungkapkan bahwa pakaian dapat didefinisikan sebagai tanda yang memperluas makna dasar tubuh dalam konteks budaya.

Ukuran martabat perempuan Sikka tidak hanya dapat dilihat dari belis yang dimintakan kepada pihak keluarga laki-laki ketika proses pertunanganan dimulai. Tetapi juga dari pakaian yang dikenakan perempuan Sikka ketika proses penikahan adat dilangsungkan. Ada sebuah adagium lama yang berbunyi “Du’a utang ling labu welin ” yang berarti “kain sarung dan baju setiap wanita haruslah bernilai dan berharga.” Adagium ini memberi makna bahwa wanita merupakan sosok yang sangat penting dan berharga dalam hidup berkeluarga. Seorang wanita harus dihargai karena seorang pria yang perkasa terlahir dari rahim seorang wanita.

Berbusana telah menjadi bagian integral dari peradaban manusia dan berhubungan erat dengan etika, baik etika yang berbasis pada nilai- nilai religi maupun norma tradisi. Secara prinsip semua kebudayaan memandang etika berbusana untuk menutup aurat adalah bagian yang tak terpisahkan dengan ketaatan pada Tuhan, maka sangat beralasan jika pengaturan etika berbusana di ruang publik mengacu pada nilai-nilai religius. Berbusana atau berpakaian merupakan salah satu wujud keberadaban manusia. Oleh karena itu, berbusana, sesungguhnya bukan sekedar memenuhi kebutuhan biologis untuk melindungi tubuh dari panas, dingin, bahkan serangan binatang, akan tetapi terkait dengan adat istiadat, pandangan hidup, peristiwa, kedudukan atau status dan juga identitas.

Ragam motif dalam tenun ikat Sikka merupakan warisan budaya melalui busana. Tiap-tiap motif dalam tenun ikat Sikka memiliki makna yang berbeda-beda. Beberapa tenun ikat Sikka hanya dapat dipakai oleh orang-orang tertentu, misalnya raja atau pemimpin adat dikarenakan kesakralan makna dalam motif tenun ikat tersebut.

Berikut ini motif-motif tenun ikat Sikka beserta penjelasan singkat akan makna-makna yang terkandung di dalamnya:

Utang Jarang Ata Bi’ang

Utang Jarang Ata Bi’ang adalah salah satu jenis tenun ikat berwarna hitam-nila dengan motif manusia yang hendak mengendarai kuda. Motif ini menggambarkan kepercayaan masyarakat Sikka bahwa arwah orang mati akan dihantar menuju dunia para arwah dengan mengendarai kuda, oleh sebab itu tenun ikat ini hanya digunakan saat kematian. Tenun ikat ini menjadi pengingat bagi manusia akan kefanaanya.

Utang Mawarani 

Utang Mawarani memiliki motif bunga mawar merekah yang diartikan juga sebagai bintang kejora. Tenun ikat ini dipakai oleh wanita sebagai lambang kesuburan, kecantikan paras dan akhlak layaknya mawar, serta kesetiaan, selain dipakai oleh kaum wanita tenun ikat ini juga dapat dipakai oleh para pemimpin suku sebagai lambang kekuatan, petunjuk dan penolak bala. Kaum pria yang tidak memiliki status sosial khusus dalam suku tidak diperkenankan memakai tenun ikat ini.

Utang Oi Rempe-Sikka

Tenun ikat ini memiliki motif tiga bintang yang melambangkan suami, istri dan anak. Motif ini melambangkan keharmonisan dan kerukunan dalam keluarga. Tenun ikat ini hanya digunakan oleh pengantin wanita.

Utang Mitang

Tenun ikat berwarna hitam (mitang) dengan garis-garis biru yang terang. Tenun ikat ini hanya dipakai oleh kaum pria sebagai lambang kematangan, kerja keras dan kesigapan.

Utang Sese We’or

Tenun ikat ini memiliki motif sepasang burung gagak yang saling berhadapan. Motif ini melambangkan kerukunan antar sepasang kekasih serta produktivitas dalam rumah tangga. Tenun ikat dengan motif utang sese we’or biasanya dipakai oleh pengantin lelaki dan wanita saat upacara pernikahan.

Utang Tope

Tenun ikat ini bermotifkan manusia, tumbuhan dan binatang. Utang tope melambangkan keselarasan alam semesta. Keselarasan itu harus diusahakan oleh semua makhluk ciptaan agar dapat tercipta dunia yang damai. Motif Utang tope menjadi pengingat bagi manusia agar tak menggunakan kemampuannya semena-mena. Orang Sikka percaya bahwa alam pun memiliki ruh. Barang siapa yang merusak alam demi kesenangan pribadi akan mendapatkan kutukan dari ruh alam, dapat berupa penyakit, kegagalan dalam usaha bahkan kematian.

Kesimpulan

Pada hakekatnya kebudayaan telah membentuk identitas seorang individu. Budaya merupakan hasil konstruksi manusia berdasarkan refleksi terhadap dirinya, alam dan substansi metafisis yang melampaui keduanya. Manusia sebagai subjek dan objek sejarah memiliki peranan yang amat penting dalam pewarisan kebudayaan. pola perilaku yang dipraktikan secara terus menerus (Rite) dengan maksud dan tujuan tertentu, pada titik tertinggi akan menjadi tradisi yang akan terus diwariskan pada setiap generasi. Usaha untuk mengolah dan mewariskan budaya menciptakan ragam kebudayaan yang bergantung pada kebutuhan manusia di setiap zaman. Ragam tersebut tidak mengubah kekhasan suatu budaya, tetapi menambah corak yang melengkapi kebudayaan tersebut.

Suatu kebudayaan terbentuk dari pelbagai unsur-unsur termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, perkakas, bahasa, bangunan, pakaian, serta karya seni lainnya. Setiap orang patut mempelajari pesan-pesan moral dan makna-makna yang termaktub di dalam kebudayaannya sendiri. Warisan-warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur harus dijaga karena di dalamnya terkandung nilai-nilai religius dan moral yang sangat berguna bagi manusia di setiap zaman.

Salam Selamat Berbudaya…