Percakapan ‘Enu’ dan ‘Nana’ Jelang Natal

0

Oleh Gerard N Bibang*)

Nu, ada yang aneh di badanku

Ada apa Na; kecapekan?

Bukan; mataku terasa berat; inginnya terus dipejamkan sambil membayangkan indahnya hidup di hutan, meninggalkan keramaian dunia

Hah, kenapa; bukannya natal sebentar lagi, hari sukacita

Sukacita?

Aneh kamu, Na; masa’ merayakan ultah bukan sukacita

Sudah, sudah; dasar cewek cerewet, sok-sokan ngajarin segala sesuatu; dengar dulu alasanku baru berpendapat, ok

Okey, okey, aku dengar

Begini; aku tu pengen pejamkan mata dari hiruk pikuk menjelang hari raya; perasaanku gak nyambung dengan realitas dunia nyata yang hari-hari kita alami

Wah, wah, mulai menarik nih topiknya; tumben kamu begini wise dan cerdas

Wuallah, belum apa-apa kamu dah nyinyir; yang begini-begini nih yang membuat laki-laki anggap kamu para cewek…

Anggap apa?

Ya sudah, aku teruskan, boleh? aku pejamkan mata sebenarnya karena aku sedang menikmati kecengengan hatiku; meratap; mengeluh; menyinyir; aku terjerembab di tengah-tengah dunia yang sudah berubah menjadi sangat alamiah

Alamiah? Maksudnya?

Maksudku, semua alamiah karena sudah mirip kambing atau ayam; kambing itu asalkan ada sesuatu yang dimakannya, selesai urusannya; ayam itu asalkan bisa cotok-cotok supaya besok bisa bertelor, tak ada lagi masalah baginya

Terus, masalahnya apa?

Kambing dan ayam itu tidak peduli; bahkan tidak mengerti siapa yang menyediakannya makanan dan minuman; tidak ada urusan halal haram bagi mereka; tidak ada bedanya bagi mereka berdua makanan itu berasal dari kemurahan Tuhan atau pada jalur khianat kepada-Nya; pokoknya, manakala ada insting untuk kenikmatan, ayo kejar dan hantam segala-galanya

Ya jelaslah, mereka binatang kan

Benar, tapi kelakuan manusia-manusia sekarang kan seperti itu; bawel ah kamu, dengar dulu kenapa

Ok, go ahead, Na

Coba lihat kambing, ayam dan sesama hewannya; tidak ada bedanya apakah mereka berposisi sebagai hewan merdeka atau binatang yang diternakkan, dikurung, digiring dan dikandangkan kembali; yang penting bisa makan; dan kalau makanan di depannya lebih banyak jumlahnya, maka siapa saja yang menyediakan makanan yang lebih banyak itu langsung disimpulkan sebagai Tuhan

Waduh, kamu jangan bersastra ya Na; apa sih yang diomongin: binatang atau manusia? bingung aku!

Dengar dulu, kenapa sih; kamu tu bukan dengar tapi menginterpretasi; tapi oke-lah; kamu adikku yang cerdas

Yeeeee, sekarang muji, ntar menghina

Enggak juga, adikku yang cantik; perilaku hewan itu, yah, itulah kenyataan manusia-manusia sekarang; mengejar apa yang disangka surga, padahal bukan; apa saja dikejar, yang penting makan dan minum; terutama kalau bisa ke stasiun televisi nasional, mendaftar untuk ikut menjadi pendengar, membayar berapa saja, pakai seragam, disuruh bertepuk tangan pada saat-saat tertentu, diharuskan tersenyum terus dan tertawa untuk hal-hal khusus, diatur untuk menghapalkan yel-yel, meneriakkannya bersama-sama sambil mengacungkan tangan kompak serempak beramai-ramai.; gapapa, yang penting makan dan minum; disuruh-suruh pake ayat suci untuk turun ke jalan memaki-maki dan mengkafirkn orang lain, dibodoh-bodohin, gapapa, yang penting nasi bungkus dan uang transpor lancar

Ngeri juga ya Na; sepertinya gak ada idealisme lagi hidup ini

Persis, persis; memang banyak di antara manusia sekarang memiliki idealisme, yang terkadang diideologisasikan, untuk tidak mau begitu saja dijajah, diperbudakkan, diperjongos, diinjak-injak martabatnya dan dirampok harta bendanya; semuanya gapapa, yang penting: makan dan minum nikmat, ya, sudah

Itu juga kuamati, Na; banyak dari teman-temanku yang berjuang keras dan tidak pernah putus asa; mereka melakukan apa saja sampai yang sememalukan dan sehina atau sekasar apapun, untuk mencapai posisi tidak dijajah tapi begitu masuk di dalam sistem penjajahan dan pemerasan, jadilah dia pemeras

Hahahaha, pengamatanmu tajam; ini juga satu, Nu; coba lihat mereka-mereka yang teriak anti korupsi; mereka menolak korupsi kalau mereka tidak dilibatkan; mereka menolak perampokan harta rakyat, kecuali mereka diajak merampok; mereka tidak bersedia menjadi jongos, karena cita-citanya adalah menjadi kepala jongos; mereka tidak mau menjadi budak, karena mereka mengerti bagaimana nikmatnya mencambuki punggung budak-budak

Paham, paham; tapi apa hubungannya dengan keinginanmu pejamkan mata dan merindukan hutan?

Ini hubungannya; lebih baik aku menyendiri di hujan daripada terlibat dalam hiruk pikuk perilaku hewani ini; untuk apa dengar lagu-lagu natal tapi kalau sesudah natal, kembali ke perilaku hewani

Gak segitu-gitunya juga kali, Na; realitas dunia bukan untuk dihindari; ntar di hutan, kamu benar-benar hewan dan alamiah lho; mau kamu?

Yaaa gimana donk

Jangan menghindar dari realitas dunia; mari berjuang mengubahnya antara lain dengan menjiwai perayaan natal

Lha, apa hubungannya? kamu neh mulai ngelantur

Bukan ngelantur, Na; natal ini kan perayaan peradaban cinta; perayaan akan sebuah cinta tulus yang menjadi kebenaran terdalam eksistensi manusia; bahwa seorang manusia baru menjadi manusia jika ia mampu melampaui dirinya sendiri, meninggalkan egoismenya untuk dapat berjumpa dengan yang lain

Wuihhh, tumben cerdas

Ah, jangan menghina

Gak, serius aku; berlian benar pendapatmu

Hahaha, bukan ide-ku sih; barusan tadi pagi aku baca tulisan Pastor Katolik Otto Gusti SVD, seorang biarawan Serikat Sabda Allah yang sekaligus profesor filsafat pada STFK Ledalero, yang ditayang di Media Indonesia Online (24/12/21), berjudul: Natal dan Budaya Perjumpaan. Pater Otto bilang begini: “natal adalah ungkapan peradaban cinta karena dalam misteri Natal, Allah mengajarkan manusia melampaui diri sendiri guna membangun solidaritas dengan yang lain, terutama yang terpinggirkan”

Uihhh, indah nian; benar-benar sastra tinggi
Ya bukan sastra-lah Na, tentang kebenaran

Iyah, aku sepakat; sini keningmu: muahhhh; selamat natal, sayangku!

Hmmm, jangan dalam-dalam kecupnya, ntar lama-lama bikin bulu kuduk atas bawah berdiri

Bodoh amat; paling berdirinya bentar doang tapi segera lemah lunglai dikalahkan oleh peradaban cinta

***(gnb:tmn aries:jkt:jumat:24.12.21: sore menjelang vigili natal)

Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Gerard N Bibang