Puisi Romo Stef Wolo: Narasi Buku “Dari Nusa Bunga ke Negeri Alpen”

0

 oleh Gerard N. Bibang

Jikalau engkau bertanya apakah yang saya pegang ini adalah sebuah buku, ini jawabku: tidak! Apakah sebuah handbook untuk manusia peziarah pelintas batas? Jawabku, tidak! Apakah sebuah egologi, yaitu kisah dari diri, tentang diri dan kepada diri? Jawabku tetap sama: tidak!

Engkau mungkin bertanya kesal: jadi, ini buku atau tidak? Jawabku: Ini bukan buku. Ini adalah puisi.

Puisi yang seperti apa? Bagi saya, puisi adalah getaran sejati di dalam jiwa manusia di mana getaran-getaran ini menjelma energi bathin yang membantunya untuk bertahan di dunia dan mengantarnya kepada Tuhan.

Maka puisi, dalam hal ini, bisa juga berarti resonansi gelombang Tuhan Yang Maha Abadi, yang dibuntu dan ditimbun oleh segala jenis gemuruh peradaban materialisme, namun bisa ditembus dengan lembutnya pengalaman getaran-getaran jiwa.

Puisi seperti itulah yang saya nikmati di sini. Resonansi gelombangTuhan inilah yang menyapaku setiap kali saya membaca baris demi baris. Resonansi inilah yang menggetarkan sekujur tubuh remaja Stef Wolo sehingga langkahnya ringan terayun dari Wolorowa-Sarasedu menuju SMPK Kotagoa dan SPGK Fransiskus di Boawae, lalu ke Seminari Menengah Yohanes Berkmans Todabelu Matoloko, terus melaju ke Ritapiret dan Bukit Ledalero di mana getaran-getaran jiwanya diperjumpakan dengan Sang Sabda sendiri melalui terang fajar filsafat dan teologi. Dan ketika terang itu kian jelas, getaran-getaran ini dipuncaki oleh sakramen imamat pada 3 September 1997, 25 tahun lalu.

Tidak berhenti di situ. Getaran-getaran yang sudah bertengger pada imamatnya ini kemudian bercetar membentur pantai, bukit dan hutan Ratesuba, berjalan kaki berjam-jam berpeluh keringat dan terpanggang matahari meniti jalan setapak ke Boafeo, Wologai, Mbani, sambil menyisiri anak sungai Wolomari, Lowo Mbani hingga mendayung sesekali di tengah riak-riak sungai Mbakaondo dan Lowo Rhea.

Dari Ratesuba, cetar-cetar getaran berpijar ke Wolotopo, sebuah pegunungan permai dengan pantai hitamnya yang indah di bagian selatan Ende, yang ketika getaran itu diminta meluaskan sayap-sayapnya ke Eiken, Swiss, berubahlah Wolotopo menjadi danau air mata, mengantarkan pastor tercinta mereka melintasi benua dan lautan, terbang 16 jam di udara siang malam, lalu akhirnya mengendarai kereta cepat ICE menuju negeri Alpen.

Delapa tahun sudah di Eiken tapi serasa seperti kemarin. Memang begitulah hakekat getaran jiwa. Tiada pernah bosan, karena yang dialami ialah cinta yang menyentuh keabadian, yang tidak terpaut ruang dan waktu.

Maka menelusuri puisi ini seperti kita sedang menonton film berdurasi 25 tahun seorang imam Stef dan 55 tahun seorang sahabat Stef, di mana dia berjumpa dengan sesama jiwa dalam resonansi gelombang Tuhan yang berbalut narasi kata dan nada.

Sebagai puisi, engkau sebagai pembaca bisa memulai penelusuranmu dari mana saja dan kapan saja: dari tengah, belakang lalu ke depan, bolak balik, terserah, tanpa harus terbeban memikirkan sistematika tapi dijamin tanpa kurang sedikitpun kenikmatannya.

Pengalaman saya sendiri menjadi bukti. Pada hari pertama, dua hari lalu, ketika buku tiba di rumah di Taman Aries siang hari, langsung dalam keadaan yang tidak terlalu fokus, mata saya tertuju kepada Ratesuba, kepada patroli jalan kaki dari pantai ke kawasan gunung, dengan jalan berliku-liku dan meliuk-liuk.

Sesudah itu pindah ke Pater Vincent dan Pater Albert Nampara, dua orang sahabatnya di tanah misi, yang bersaksi siapakah dia. Dari Pater Albert, ternyata Romo Stef ini diterima sebagai anggota keluarga atau hae weki dami (= kami punya keluarga), dan di mana-mana dia disapa Unser Stefan (= kami punya Stef) oleh umatnya. Sementara oleh Pater Vincent, entomusikolog di Seminari Tinggi SVD Sankt Augustin, Jerman, dia disebut sebagai handbuch bagi misonaris lintas batas di era modern seperti sekarang.

Esok harinya, tanpa rencana ketika menunggu jadwal meeting, saya buka buku ini sekenanya saja halaman berapa dan langsung membaca. Setelah selesai, baru saya sadar bahwa saya membaca lagi bagian yang kemarin telah dibaca, yaitu: patroli jalan kaki Ratesuba, Boafeo, Mbani, kicau burung hutan Ratesuba dan riak-riak anak sungai yang tak terhitung serta perjumpaan dengan orang-orangnya.

Yang mencengangkan, saya tidak pernah saya merasa telah membaca ulang.

Karena ‘novelty’ (kebaruan) yang saya peroleh hari ini berbeda dengan kebaruan yang saya nikmati saat membaca pertama, kemarin. Bahwa kejutan hari ini beda rasanya dengan kejutan kemarin. Bahwa ‘aha’ hari ini beda kekuatan ‘nendangnya’ dengan ‘aha’ kemarin.

Yah, memang demikianlah karakteristik mendasar sebuah puisi: selalu baru (immer wieder neue/novelty) dan surprise penuh sentakan-sentakan ‘aha’. Setiap kali dibaca, setiap kali itu juga ada ‘aha,’ ada kebaruan, ada sentakan-sentakan tak terduga.

Sahabat-Kasih-Cinta

Maka, Flores, nusa berbunga warna warni hingga Eiken dengan salju putih tetesan pegunungan Alpen dan terang mentarinya yang adem adalah etape-etape kehidupan puisi Romo Stef, di mana dia bertemu jiwa-jiwa dan meleburkan getaran-getaran jiwa mereka dalam resonansi gelombangTuhan.

Di manakah resonansi itu? Romo Stef dalam kata pengantarnya menyebut frase persahabatan. Persahabatannya itu dirawat oleh rasa terimakasih dan itulah energi jiwa raganya selama ini. Saya mengatakan bahwa inilah resonansinya yang pertama.

Oleh resonansi ini, sudah pasti bahwa muatan hati Romo Stef penuh dengan arus besar yang berputar-putar berupa rasa syukur kepada Allah yang menyayanginya dengan menganugerahkan sahabat-sahabat sejati kepadanya. Sahabat-sahabat yang membuatnya merasa sudah mencicipi surga.

Dan benar begitulah adanya. Hidup ini toh penuh dengan datang dan pergi. Tapi persahabatan selalu tinggal. Freundscahft ist immer geblieben, begitu kata umatnya di Eiken.

Maka tidaklah mengherankan saya, ketika Karl Widmer, ketua dewan paroki Eiken saat perayaan 20 tahun imamatnya beberapa tahun lalu, berkata ‘Stefan, du gehoerst zu uns’, yang dalam bahasa kita di Flores sana, kurang lebih begini: ‘Stef, kau ini sudah jadi kami punya keluarga.’

Mukjizatkah ini? Iyah, kata saya. Jarang-jarang lho orang Eropa mengangkat seorang asing jadi anggota keluarga. Tapi Romo Stef mendapatkannya. Mengapa? Saya menemukan alasannya dari pernyataan Widmer sendiri, ketika dia berkata selama ini Romo Stef mereka alami sebagai seorang sahabat yang terbuka, saleh merayakan misa, dan berkhotbah yang selalu kena (=verstaendlich).

Bahwa kemudian umatnya di Eiken mengirim surat protes ke uskup agar jangan dipindahkan ke paroki lain, bagi saya, adalah riak-riak manja dari tingginya kemesraan hubungan antara para sahabat.

Karena ketika telah menjadi sahabat, ada lagi kah yang lebih dari itu? Tidak ada. Hal-hal kecil dan sederhana selalu dirasakan amat bergairah. Suaranya yang merdu menyanyikan doa syukur agung membuatnya disebut pastor penyanyi, demikian testimonial Pater Albert. Bahkan Romo Stef membeli gitar untuk mengoptimalkan senandungnya, yang kemudian membuatnya berbeda dari sahabatnya Pater Albert yang disebut pater saxofon.

Pernah sekali di tahun pandemi, lupa persisnya kapan, Romo Stef mengirimkan video whatschapp ke saya tentang lagu exultet malam paskah yang baru saja dirayakan di parokinya. Wah, saya tertegun. Vibrasi dan penekanan lagu, sangat pas. Dalam balasan Whatschapp, saya menulis: “Ase (=adik) missionar, ini exultet bikin daun-daun telinga pada tiris (= meleleh) semua!” Dia ngakak, sambil berkata: “aduh ka’e daku (=kakakku), hanya itu yang saya bisa beri ka!”

Tengoklah keseluruhan kehidupan puisinya. Dari baris ke baris hanya berkisah tentang sahabat-sahabatnya yaitu orang-orang kecil dan lingkungan sederhana serta hal-hal yang sederhana pula. Cinta memang tidak harus menunggu hal-hal wah.

Saya teringat akan postingannya sebuah video menari-nari diiringi lagu Be’i benga di depan banyak opa oma dan umat lain, lengkap dengan pakaian adat Ngada, lalu mereka yang hadir tertawa ngakak, sebuah pemandangan yang amat langka untuk bumi Eropa yang berbudaya sendiri-sendiri dan berjuang sendirian.

Yah, memang demikianlah ketika menjadi sahabat naik derajatnya menjadi kewajiban pemanusiaan. Dari sahabat seperti ini, cinta yang benar menjadi nyata, yaitu cinta yang tidak pernah diikat dunia dan menjadi bahagia bergeser artinya, yaitu merangkum sebanyak mungkin orang, melampaui batas-batas sanak famili dan koneksi.

Resonansi kedua ialah imamat sebagai jalan kasih. Simon Leya dalam Prolog mengantarkan kita ke resonansi ini dengan sangat baik ketika dia bercerita terlebih dulu tentang pentingnya seseorang menulis memoar. Tapi buku ini, menurut Simon, lebih dari sekedar memoar melainkan jalan kasih seorang tertahbis yang tertuang dalam kisah tertulis.

Jalan kasih itulah yang dinarasikan di bab-bab selanjutnya, mulai dari keluarga di Sarasedu hingga Eiken diperlengkapi dengan testimonial para sahabat dan barulah di Epilog, Agustinus Tetiro secara lugas dan terus terang menyebut bahwa sahabat yang dirawat dengan jalan kasih itu adalah sejatinya sebuah cinta.

Bagi saya, penyebutan cinta di bagian epilog ini merupakan sebuah resonansi ketiga yang memahkotai resonansi pertama dan kedua. Mengutip pepatah Latin, epilog ini benar-benar sebuah akhir yang memuncaki penelusuran dari halaman pembuka hingga penutup, sebuah finis coronat opus! Sebuah akhir yang baik maka semua-muanya baik adanya. Ende Gut Alles Gut, kata orang Jerman.

Dua Sesuatu

Lalu adakah sesuatu untuk saya dari kehidupan puisi Romo Stef ini? Tentu ada. Saya sebut saja, revolusi paradigmaku dalam beriman dan beragama.

Tentang revolusi ini dapat saya rumuskan begini: bukan karena sastra, seni dan puisi ingin mengantarkan saya ke Tuhan maka mereka perlu bekerjasama dengan agamaku dan hidup berimanku. Melainkan: karena saya orang beriman dan pelaku agama mutlak memerlukan sambungan kasih dan silaturahmiku dengan Tuhan, maka saya memerlukan sastra, seni dan puisi.

Karena Tuhan sendiri pun mempersambungkan diri-Nya kepada manusia melalui firman-firman yang sangat bergelimang sastra, seni dan puisi. Tatkala Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, idiom kasih dan sayang itu bukanlah bahasa hukum yang bisa ditelaah oleh prinsip-prinsip ilmu, melainkan hanya bisa diselami, dinikmati dan disahuti dengan sastra, seni dan puisi.

Jadi, berpusilah dan bersastralah selalu kalau hendak hubunganmu dengan Tuhan senantiasa terjaga hingga keabadian. Ini sesuatu yang pertama!

Sesuatu yang kedua ialah revolusi sangkaan terhadap keindahan. Sejak hampir 35 tahun meninggalkan Ledalero, saya terjebak dalam kurungan peradaban di mana manusia mengimani kehebatan, bertengkar memperebutkan kekuasaan dan uang, mempertahankan harta benda, bersimpuh pada kemenangan serta memompa-mompa diri untuk mencapai suatu keadaan yang mereka sangka sebagai keunggulan.

Yah, sebuah peradaban yang menjalankan salah sangka yang luar biasa terhadap keindahan hidup. Padahal keindahan ini pada intinya hanyalah berbagi narasi kasih, cinta, dan kebaikan sepanjang-panjang bentangan ayunan langkah dengan menjadi sahabat bagi siapa pun di bawah kolong langit ini.

Romo Stef, terimakasih atas kehidupan puisimu ini. Engkau telah mempertontonkan kepadaku dan mungkin kepada engkau-engkau pembaca puisi ini tentang hidup yang amat sederhana, yaitu bersaksi tentang resonansi gelombangTuhan, di mana dan kapan pun, hingga langkah mendarat di alas tiba, di mana pada saat itu, saudara kematian datang tanpa diundang.

Selamat mencicipi surga di atas bentangan-bentangan imamatmu sembari berirama dalam tarian ja’i bersama getaran-getaran jiwa dan resonansi gelombangTuhan, pada tahun-tahun mendatang.

*(gnb:tmn aries:jkt:kamis:25.8.2022)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta

Gerard N Bibang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here