Selepas Cinta Pergi!

0

Oleh: Andy Tandang 

(Penikmat Sastra – Tinggal di Jakarta)

 

Elisabeth menengadah. Langit di atas gereja berwarna hitam. Tidak ada bintang. Hanya cahaya lampu yang sesekali tertutup daun.

Air matanya tumpah. “Tuhan, aku mau hidup dua ribu tahun lagi.”

Di belakang gereja ada Gua Maria. Kecil. Hanya cukup untuk beberapa orang duduk bersimpuh. Di depannya ada lilin-lilin yang hampir habis.

Malam itu tak banyak orang yang datang. Elisabeth menunduk di atas kramik tua yang mulai kusam. Sesekali ia mengusap hidungnya dengan punggung tangan.

Sudah tiga bulan terakhir ia sering datang ke tempat itu. Suaminya tidak tahu. Atau mungkin tahu, tapi tidak peduli.

Elisabeth tidak pernah bertanya. Ia juga sudah lama berhenti bertanya banyak hal.

Misalnya, mengapa suaminya sekarang pulang lewat tengah malam. Mengapa ia lebih sering melihat layar telepon daripada wajah Elisabeth. Mengapa setiap kali Elisabeth bercerita, laki-laki itu hanya mengangguk.

Dulu mereka bisa berbicara sampai pagi. Sekarang, untuk menghabiskan satu makan malam saja, rasanya sangat susah.

Elisabeth masih mencintainya. Itulah yang membuat semuanya menjadi rumit. Kalau sudah tidak cinta, mungkin ia sudah pergi.

Tetapi ia masih menyimpan baju suaminya dengan rapi. Masih menyiapkan bekal sebelum berangkat kerja. Masih menyeduh kopi kesukaan laki-laki itu meskipun jarang diminum bersama.

Kadang ia membenci dirinya sendiri karena melakukan semua itu. Namun pada pagi berikutnya, ia tetap melakukannya.

Suatu malam, Elisabeth pernah bertanya. “Sayang, kita masih bahagia?”

Suaminya sedang membuka sepatu. Ia tidak langsung menjawab.

“Kenapa tanya begitu?”

“Tidak apa-apa.”

“Ya sudah.”

Elisabeth menunggu. Laki-laki itu mengambil handuk. Lalu masuk kamar mandi. Percakapan selesai. Begitu saja.

Sejak malam itu Elisabeth mulai menghitung. Bukan uang. Bukan hari. Ia menghitung berapa kali suaminya menyentuh tangannya dalam sebulan.

Tiga kali.

Pertama, ketika mereka menyeberang jalan.

Kedua, ketika suaminya hampir jatuh karena tersandung. Ketiga, ketika mereka menghadiri resepsi pernikahan iparnya.

Itu pun sebentar. Selebihnya tidak ada. Elisabeth tidak pernah menceritakan hitungan itu kepada siapa pun. Ia takut terdengar konyol.

Orang-orang akan bilang, “Namanya juga rumah tangga.” Atau, “Yang penting suami tidak macam-macam.” Atau, “Bersyukur saja masih punya suami.”

Mereka tidak tahu. Kadang-kadang yang paling menyakitkan bukan kehilangan seseorang. Melainkan tinggal bersama seseorang yang sudah kehilangan kita.

Elisabeth kembali menatap Gua Maria.

Seorang perempuan tua di sebelahnya sedang menggenggam rosario.

“Jangan menangis, Nak,” katanya kepada Elisabeth.

Elisabeth menoleh. Perempuan itu tersenyum.

“Kamu masih muda.” Elisabeth ikut tersenyum.

“Iya.”

“Suamimu?”

Elisabeth diam sebentar.

“Di rumah.”

“Menunggu?”

Elisabeth melihat nyala lilin di depan Maria.

“Entahlah.”

Perempuan itu tidak bertanya lagi. Barangkali ia mengerti bahwa ada beberapa jenis kesedihan yang lebih baik dibiarkan tetap menjadi rahasia.

Elisabeth berdiri. Ia membuat tanda salib.

Sebelum pergi, ia menatap patung Maria sekali lagi.

“Tuhan,” bisiknya.

“Aku mau hidup dua ribu tahun lagi.”

Kali ini ia tersenyum. Bukan karena ia benar-benar ingin hidup selama itu. Ia hanya ingin punya waktu yang cukup untuk mencari tahu:

berapa lama seseorang boleh mencintai orang yang tidak lagi mencintainya.

Di luar gereja, kendaraan terus lewat. Rumah-rumah mulai menutup pintu. Elisabeth berjalan pulang. Ia tahu suaminya ada di sana.

Dan entah mengapa, malam itu ia lebih takut menemukan suaminya sedang menunggu daripada menemukan rumah itu kosong.