“Sunyi itu Rindu” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

SUNYI ITU RINDU

berguru kepada sunyi
jalan kepada jatidiri
engkau tidak ku-duakan
menjadi satu hingga ke alas tiba

jalan sunyi
menuju sebait puisi
lha, bukannya karena jatuh cinta maka lahir sebuah puisi, tanyamu
dalam cinta kalau tidak ketemu kekasih ketemunya sunyi juga, jawabku

rindu itu isinya sunyi, utuh
cinta mendapatkan derajatnya yang penuh

ketika sunyi tak harus berarti sendiri
yang tampak memang sendiri tapi tidak sendirian
sunyi tidak selalu isolasi mandiri
jikalau gelisah justru menyuburkan puisi dalam jiwa
jadilah sunyi adalah puisi dan puisi adalah sunyi
bukan fatamorgana, bukan mimpi tidur siang seorang pemalas

puisi mendewasakan seorang pribadi
adalah sunyi yang membawanya ke sarang angin
menghindarkannya dari kutukan menjadi kanak-kanak abadi
adalah sunyi yang memantapkannya menjadi roh dan cinta
menghindarkannya dari hakekat semata-mata fana

rindu dalam sunyi itu, penuh
tak tertahankan untuk segera melumerkan cinta
maka ‘sambil menyeberangi sepi, kupanggil namamu, wanitaku”
ratap seorang WS Rendra ketika rindunya kepada wanita bernama Dik Narti, memuncak

jangan sepelekan sunyi
ia adalah mantera cinta
mendengarkan suara suara dari lubuk hati, sendiri
menangkis gerakan angin oleh gerakan pedang lawan
memilah-milah apakah yang di dekatmu itu manusia yang sedang sembunyi atau jin
sembari mendebarkan cinta, selalu dan di mana-mana

setiap sunyi itu isinya rindu, penuh
ia mengatasi ruang dan waktu
menjelma puisi, buah-buah sunyi
maka bacalah sunyi, akan ketemu puisi
dirimu yang sejati

*(gnb:tmn aries:jkt:senin:17.1.2022)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta