MERAGUKAN APA YANG KUTAHU

0
Gerard N Bibang

oleh Gerard N Bibang*)

Aku bertanya kepada-MU
Tidak tidur aku di kereta waktu
Jawablah sedikit saja kepadaku
Karena aku meragukan setiap yang kutahu

Di sana sini zaman kini, kesenangan sesaat menjadi kebajikan tak terkira; tidak jarang membuat terlena bagi siapa yang sedang mengejar keinginannya; peras keringat, banting tulang, sikut kanan-kiri, jegal menjegal, terjang rintangan bahkan langgar aturan tak lagi dipedulikan asalkan yang diinginkan dapat kesampaian; nafsu kepemilikkan mengabaikan keberadaan lingkungan, yang dipentingkan hanyalah kesenangan dirinya sendiri; di saat apa yang diinginkan tercapai, berikutnya justru muncul ketidakbahagiaan yang mencekam; tidak jarang selebriti mengakhiri hidupnya sendiri manakala di puncak kariernya atau sesaat setelah kariernya mulai meredup; yang penting senang-senang, diberi label kebahagiaan; apa yang terjadi akibatnya nanti, yah, soal nanti

Karena aku meragukan setiap yang kutahu
Dengan mempertanyakan bukan berarti tidak percaya
Apakah kebahagiaan selalu buah dari bernafsu-nafsu?
Ketika bersenang-senang, bukankan itu hanya kesenangan sementara yang diada-adakan?
Bisa saja aku lari mengejar hiburan untuk melipur diri, tapi apa jadinya jika rumah tempat kembali tak lagi peduli?
Bisa saja aku disoraki dengan pujian-pujian dari orang di sekitarku atas kehebatan dan kemegahanku
Tapi apalah artinya jika dibalik itu masih ada sikapku yang mengecewakan ibuku
Bisa saja aku memiliki popularitas, reputasi publik, kekayaan, kemewahan, ataupun nama besar

Tapi boleh jadi aku merasa hampa jika tidak bersama dan didukung oleh keluarga yang bahagia

Perjalanan di bumi memang untuk kebahagiaan, maka disebut perjalanan kebahagiaan; yang dapat berarti, bahagianya dapat terjadi di awal perjalanan, di sepanjang perjalanan, atau juga dapat diartikan sebagai kemampuan menerima campur-aduk dari berbagai perasaan susah- senang, suka-duka, bangga-kecewa, sedih-gembira dan berbagai perasaan yang bermunculan sepanjang pengalaman perjalanan hidup; maka, kebahagiaan itu dapat dibuat dengan memaknai setiap peristiwa sebagai nikmat yang diberikan Sang Pencipta

Perjalanan kebahagiaan memang menjadi panduan; kendati ada orang yang senang melihat orang lain susah dan ada orang yang susah melihat orang lain senang; tapi istilah “only happy people can make another people happy” sepertinya lebih layak sebagai pedoman; cobalah tengok para orang tua yang tulus bersusah payah berusaha membahagian anak-anak mereka sejak bayi bahkan sejak anaknya masih di dalam kandungan dengan berusaha mencukupi kebutuhan dan keinginan mereka; tak jarang orangtua mengesampikan kesenangan pribadi mereka demi keperluan anaknya; melihat anak-anaknya senang karena kebutuhanya tercukupi juga dapat menjadi kebahagiaan tersendiri

Maka aku bertanya: mestikah selalu kesukaan, kesenangan, kegembiraan dan kebahagiaan memiliki perbedaan untuk menggambarkan keadaan suasana yang hampir sama?
Mestikah orang akan merasa senang ketika mendapatkan apa yang disukai, dan bergembira ketika dapat berbagi menjadi kebahagiaan berasama?
*(gnb:tmn aries:kamis:1.12.22)