BUNGA BAKAU (Tentang Mengenang)

0

Oleh: Rantho Dannie*

BULIR.ID – Anak-anak bakau selalu senang ketika laut mencumbu batas dapur rumah pesisir. Dari pinggir jalan raya, pucuk-pucuk bakau terlihat mengapung di atas permukaan laut. Sebelum pulang rumah, kami bergegas menerjang pasang. Tas sekolah digantung pada dahan-dahan bakau.

Sepatu dan seragam sekolah pun demikian. Tak peduli lapar. Tak hirau jika buku-buku catatan basah keciprat gelombang pasang. Tak malu bila kami harus telanjang. Ketika siap, masing-masing mulai cari puncak tertinggi bakau. Panjat sampai di atas. Usai hitungan ke tiga, kami terjun dengan gaya bebas; salto belakang dan depan seperti biawak.

Bahagia melebur dalam riuh gelak tawa. Puncak bahagia nampak saat tubuh menabrak permukaan laut, benam sesaat dan muncul lagi. Kulit badan yang telanjang terasa pedis seperti ditampar. Mata berubah merah kena air laut bergaram. Itu biasa. Kami sudah terbiasa.

Di sela riuh, biasa terdengar ada suara orang tua yang panggil kami pulang. Kami tak peduli. Suara mereka seperti terpantul di dahan-dahan bakau. Kadang orang tua pulang tanpa kami. Mereka paham dunia kami. Tapi tidak demikian untuk saya dan beberapa teman. Kami kenal baik kalau Bapak atau Mama yang panggil.

Mereka akan tunggu sampai kami pulang. Jika suara mereka agak keras dan berulang, itu tandanya mereka sudah marah. Kami akan bergegas tinggalkan suasana riuh, lari tanpa celana. Tas dan seragam sekolah lupa diambil. Siap menghadap mereka di pinggir pantai. Tanpa bicara, cemeti dari ranting asam langsung diayun.

Mereka seolah kompak pegang cemeti jenis itu. Mereka sadar bahwa tamparan tangan sudah tidak pas karena kami sudah kebal dengan tamparan gelombang laut. Pedisnya kurang lebih sama. Kami tidak boleh lari saat itu. Itu cara untuk meredakan amarah mereka. Meski pantat sudah berbekas, kami mesti tetap berdiri diam.

Jika lari, hukuman jilid dua siap diberi nanti di rumah. Ada macam-macam : kami tidak dapat makan siang; dijemur di panas; berlutut di lumpur bakau, dan lain-lain. Tapi kami memang beda. Esok hari ketika pasang, pasti kebiasaan itu akan terulang lagi. Kami anak bakau sepertinya lebih cinta riuh daripada hukuman.

Lebih suka lompat daripada berjalan. Lebih suka telanjang badan daripada menutup diri. Lebih suka merasakan pedis yang plus. Itu tipikal kami anak-anak bakau. Bisa saja hukuman orang tua itu punya alasan. Mereka sering cerita bahwa laut itu beda. Laut itu tenang menghanyutkan. Orang bisa saja mati tanpa harus tenggelam.

Orang juga bisa nafas putus tanpa harus dihantam tsunami. Orang bisa mati karena terseret arus tak dalam. Ataupun mati tersengat jarum kecil dari ikan beracun. Ada yang mati karena hanya terpaksa telan air laut tak banyak. Itu alasan orang tua harus panggil kami cepat pulang. Namun….

****

Suatu kesempatan pulang sekolah. Saya dan teman-teman bermain pasang lagi. Saat itu musim barat; hujan deras, angin kencang, laut bergelora. Jiwa kami anak bakau lebih bergelora lagi.

Di pesisir, saya melihat Bapak berdiri. Tanpa dipanggil, saya perlahan menjumpai beliau. Jalan dengan wajah layu. Kepala tunduk. Tetes-tetes air laut di sekitar mata dan bibir lupa diusap. Takut. Teman-teman mulai berpencar. Lari satu persatu. Ada yang jatuh karena lari sambil pakai celana. Mereka selamat. Saya gagal selamat. Dalam hati, saya kesal.

“Mengapa harus beliau lagi? Kenapa bukan orang tua lain agar saya juga bisa lari menghindar?”.

Menyesal tak ada guna. Beliau cambuk liar. Sekujur badan penuh garis. Kulit pantat terkelupas. Air mata jatuh menyatu dengan air laut. Menangis lama. Air mata jatuh banyak. Tapi tidak akan pernah buat air laut jadi tawar. Beliau jemur saya tepat di tempat pecahnya ombak. Tubuh tidak sanggup berdiri tegak. Sempoyongan. Ombak pukul begitu kuat.

Pertahanan seorang anak kecil tentu tidak sebanding dengan kekuatan air laut yang sudah makan banyak garam. Warna kulit yang agak gelap menjadi semakin tak terang. Hitam. Pekat. Seperti pantat belanga. Lalu air laut mengering di badan. Badan penuh garam. Jika lebih lama lagi dijemur, saya sangat yakin, saya bisa jadi ikan asin yang tidak akan laku di pasar.

****

Beliau bawa saya pulang. Menangis masih berlanjut. Tanpa mandi, saya langsung tertidur. Lelah bermain pasang. Lelah menahan siksa. Sejak saat itu, saya tobat. Teman-teman mulai tanya banyak ketika esok hari di sekolah. Saya bagi cerita agar mereka tahu cerita saya. Juga agar mereka kompak tobat; berhenti bermain pasang.

****

Anak-anak bakau memang unik. Tak semua anak lahir dari rahim bakau. Ketika kecil, kami jadikan bakau seperti hewan tunggangan yang siap dinaiki, bahkan sampai ada yang patah. Setiap kali bermain pasang, pasti ada bakau yang tersakiti. Bakau seperti barisan para dara dan kami adalah kaisar Caligula. Kami hanya tahu melukai, mencemari barisan bakau tanpa peduli keindahan yang wajib dijaga.

Ketika keindahan direnggut, mereka perlahan mati tanpa meninggalkan benih. Kami belum sadar kala itu bahwa bunga bakau lebih indah dari teratai rawa. Ketika bunga-bunga bakau mekar pada musimnya, yang terlihat bukan lagi pucuk-pucuk bakau tapi bunganya. Bunga-bunga yang terapung saat pasang menjadi saripati keindahan eksositem bakau. Puncak kebahagiaan kami akan beralih, bukan lagi pada riuh anak bakau tapi pada semarak bunga bakau.

****

Anak-anak bakau kini tidak lagi bermain pasang. Mereka lebih memilih cara main yang baru. Judul permainan ini adalah “Teluk Watubaing”. Teluk hasil peduli anak-anak bakau dulu yang berulah. Teluk itu adalah cara mereka merawat bakau sampai berbunga. Ada jalan-jalan setapak untuk menjelajahi bakau.

Jalan bertiang bambu, beralaskan papan. Ada rumah singgah kecil di sisi-sisi jalan. Orang tua tidak lagi berani memanggil pulang karena mereka sudah punya rumah bakau. Semarak bunga bakau di Teluk Watubaing sudah nampak. Bunga-bunga bakau memanggilmu semua ke sana. Tidak akan ada lagi tas sekolah, sepatu dan seragam yang ditemukan di sana. Yang ada hanyalah gantungan rindu untuk selalu pulang ke sana…

****

Tak seindah bunga bakung…
Karena bukan di ladang…
Sudah cukup ia berdiri…
Di rahim pantai abadi…

Apalagi kini ia berbunga…
Menambah riang anak bakau…
Kita jaga sepanjang waktu…
Selalu ada dan ada…

Bunga bakau di pantai…
Semerbak menawan hati…!
Ulah liar sudah berlalu…
Itu dulu, sudah lampau…

(pada 23.31)


*Rantho Dannie merupakan alumnus di Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Kini ia sedang menebarkan benih kebijaksanaan (staf pengajar) di salah satu lembaga pendidikan di bumi Cendrawasih Merauke-Papua.