Gilbert Pengeran Muda dari Egonesia, Pencetus Mahkamah Keluarga 

0

Oleh: Djanuard Lj*

SPIRITUAL, Bulir.id – Gilbert Pengeran muda dari Egonesia dikenal karena peran pentingnya dalam dinasti keluarga. Keluarganya dikenal mengobrak-abrik konstitusi di negara itu. Menjadikannya konflik berskala epik yang terjadi antara para pendukung pro dan kontra.

Reputasinya sebagai tokoh muda yang romantis sering dikaitkan dengan mahkama keluarga. Hubungannya antara paman sebagai ketua Mahkamah Konstitusi, mengahntarkannya selangkah lebih dekat dengan kekuasaan.

Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohon batas usia minimal capres-cawapres menyebabkan terjadinya benturan antara dua kubu pro dan kontra di Egonesia. Karena dampak negatif dari terkabulnya permohonan itu, Gilbert menjadi tokoh kontroversial, yang motivasi dan pilihannya terus membuat penasaran para akademisi dan khalayak.

Beberapa orang menganggapnya sebagai sosok tragis yang keinginannya dianggap terkutuk yang membawa kehancuran pada dirinya sendiri dan juga konstitusi negara itu. Yang lain melihatnya sebagai individu yang egois dan tidak bertanggung jawab yang membawa kerugian dan kehancuran yang tak terukur bagi keluarga dan negara.

Gilbert lahir dari keluarga penguasa dengan ayahnya yang sebelumnya merupakan seorang pengusaha kecil yang berkat kemampuan dan integritasnya dipilih menjadi penguasa Egonesia. Selama dua periode ayahnya menjadi pemimpin yang disegani negara di dunia, namun kemudian di akhir masa jabatannya ia terkesan memaksakan Gilbert untuk menggantikan dirinya. Ini akan menjadi kisah dari akhir kejatuhannnya.

Kisah ini hampir mirip dengan legenda Yunani, Paris pengeran muda Troya yang karena keegoisannya menghancurkan kerajaannya sendiri. Demi cinta akan anaknya Paris, Raja Priam pun mengambil resiko meski harus berhadapan dengan pasukan Spartan dari Yunani.

Meskipun Aesacus menyarankan agar anak tersebut dibunuh, Priam tidak sanggup menyakiti putranya sendiri dan malah meninggalkannya di Gunung Ida. Paris dibesarkan oleh para penggembala, yang menamainya Alexander. Ia menunjukkan bakat alami dalam musik, puisi, memanah, dan berburu, serta dikenal karena ketampanannya dan karismanya.

Kemasyhuran kisah Gilbert dimulai dengan perannya sebagai anak muda yang jauh dari kekuasaan ayahnya. Ia menjauh dari kekuasaan dengan menjadi seorang pengusaha muda.

Gilbert dalam sebuah wawancara dengan seorang jurnalis wanita ternama di Egonesia, mengungkapkan bahawa ia tak tertarik dengan dunia politik. Namun tak berselang lama pernyataan tersebut kemudian dikhianatinya sendiri, ia kemudian menyatakan ketertarikan dengan politik dan dipilih menjadi Walikota.

Tak sumur jagung menjadi walikota, ia berambisi menjadi cawapres. Memanfaatkan ayah dan keluarga dekatnya untuk mengobrak-abrik konstitusi Egonesia.

Rakyat Egonesia marah besar. Dalam kemarahannya, mereka melemparkan apel emas yang bertuliskan ‘untuk yang paling adil’. Hal ini memicu perselisihan sengit antara di antara dua kubu itu. Antra kubu pro dan kontra, masing-masing mengklaim apel itu untuk dirinya sendiri.

Kubu kontra memohon kepada Presiden Egonesia untuk menyelesaikan konflik tersebut, namun ia menolak untuk campur tangan, dan malah menyarankan agar biarkan, rakyat Egonesia menentukan pilihannya. Kubu Gilbert bersukacita atas kemenangan itu.

Bukan tanpa alasan Gilbert ditolak menjadi cawapres, sebab dinila menerabas konstitusi Egonesia. Banyak akademisi memberikan pandangan namun tak satu pun mereka didengarkan.

Gilbert memulai sebuah misi dengan menggugat konstitusi. Beberapa catatan menyatakan bahwa ia berhasil menyelinap ke kamar sang ketua MK dan meyakinkannya untuk meloloskan permohonannya.

Terlepas dari metode yang tepat, tindakan tersebut merupakan pelanggaran terhadap konstitusi Egonesia. Para akademisi dan rakyat Egonesia marah karena presiden dan anaknya dinilai telah menerabas ke wilayah yang paling intim dari konstitusi negara tersebut.

Rakyat Egonesia yang marah atas penghinaan terhadap kehormatannya, meminta para akademisi untuk membantu mengembalikan konstitusi Egonesia seperti sediakala. Namun rakyat juga akan mengambil dan menghukum mereka yang bertanggung jawab atas penerabasan konstitusi tersebut pada Pemilu 2024 mendatang.

Di satu sisi, Gilbert dalam penerabasan konstitusi digambarkan sebagai seorang pria muda yang tampan dan menawan yang termotivasi oleh cintanya dan keyakinannya bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin Egonesia.

Terlepas dari statusnya sebagai pahlawan bagi sebagian kaum muda, Gilbert terutama digambarkan sebagai seorang kontestan yang pengecut dan tidak berpengalaman, yang sering menghindari pertempuran dan mengandalkan orang lain untuk melindunginya.

Secara signifikan, ini adalah episode pertengkaran antara kubu pro dan kontra batas usia minimum cawapres. Pertarungan antara kedua kubu itu digambarkan sebagai pertarungan yang maju mundur, dengan masing-masing menampilkan keterampilan dan ketajaman strategi mereka.

Pertarungan belum berhenti, menambah ketegangan antara kedua belah pihak. Episode ini menggambarkan presiden Egonesia tak lagi menjadi teladan kehormatan dan keberanian, sementara Gilbert digambarkan sebagai sosok yang kurang berani dan pengecut.

Keahlian Gilbert dalam kepemimpinan di kota kelahirannya memperkuat sifat-sifat karakter tertentu, terutama kesombongan dan kepengecutannya. Kesukaannya menggunakan pengaruh orang tuanya berkontribusi pada kurangnya keberaniannya, karena tidak mau terlibat dalam pertarungan tangan kosong. Selain itu, kekagumannya yang berlebihan pada diri sendiri dan membanggakan kemampuannya menambah gambaran negatif dari karakternya.

Gilbert juga digambarkan sebagai sosok yang egois dan tidak bertanggung jawab, lebih mementingkan kesenangannya sendiri daripada kesejahteraan rakyatnya.*


*Djanuard Lj merupakan salah satu penulis tetap di di Bulir.id. Menyelesaikan studi Filsafat di Fakultas Filsafat Widya Mandala Surabaya. Bidang minat utamanya adalah filsafat politik dan etika.