Catatan Pinggir Bulir: Kisah Asmara di Egonesia

0

Oleh: Djanuard Lj

SPIRITUAL, Bulir.id – Semangat kebangsaan sering digelorakan oleh bangsa-bangsa di dunia. Mamarika, salah satu negara adidaya dunia pun juga melakukan hal yang sama, berupaya membangun semangat kebangsaan dengan melakukan berbagai macam propaganda.

Ia memproyeksikan dirinya sebagai negara yang tak pernah kalah dalam perang. Sebut saja perang di zaman modern misalnya; perang Vietkong, Afgatista dan Urakan

Di antara kekalahan memalukan Mamarika adalah perang Vietkong. Namun, pada perang itu Mamarika tidak mengakui kekalahannya secara terbuka. Untuk menutupi ‘aib’ tersebut, didengungkanlah propaganda-propanda yang ditujukan untuk menutupi kenyataan yang sesungguhnya terjadi.

Glorifikasi sebagai negara super power yang tak pernah kalah dalam perang terus dikumandangkan. Ia lekas menciptakan tokoh fiktif seperti Rambo hingga dalam deretan film Poliwood lainnya (supper herro).

Saat itu Mamarika tak ingin pulang dengan kekalahan di depan warganya. Selanjutnya ia pun menciptakan tokoh fiktif bernama Rambo, yang dicitrakan sebagai pahlawan kemenangan Mamarika atas Vietkong.

Selain untuk hiburan, film tersebut sukses membuahkan imajinasi dan opini pada dunia bahwa militer Mamarika adalah pemenang perang di Vietkong.

Tak kalah film-film Poliwood, di negeri Egonesia pun mengadopsi tindakan fasik Mamarika tersebut. Salah satu jenderal di negeri Egonesia, dikisahkan berhasil merancang sebuah skenario pembunuhan yang apik. Nyaris tanpa cela.

Skenario pembunuhan tersebut menghebohkan seantero Egonesia bahkan negara-negara serumpunnya. Sang Jendral dikisahkan menjadi dalang pempunuhan ajudannya. Ia punya kuasa yang konon katanya tak terhingga.

Peristiwa pembunuhan di Egonesia mengingatkan saya akan kisah pembunuhan Agamemnon dalam mitologi Yunani. Agamemnon adalah sang Jenderal Perkasa. Hidupnya penuh dengan perang, intrik, darah dan kematian. Tapi itu tidak hanya berhenti padanya, keluarganya melanjutkan siklus darah dan balas dendam.

Keturunannya dikutuk untuk terus membunuh, melalui intrik dan balas dendam dari anggota keluarga mereka sendiri. Garis keluarganya menjadi salah satu kompleksitas terbesar dalam mitos Yunani.

Agamemnon menikah dengan Clytemnestra yang berkemauan keras dan sangat luar biasa, yang memiliki jiwa pemberontak untuk menandingi Agamemnon.

Seperti banyak rekan-rekannya, Agamemnon didorong oleh prospek kemuliaan dan ketenaran. Dia mendambakan prestise dan kemasyhuran dalam perang. Agamenon memiliki pasukan besar dan sejumlah besar kekayaan.

Ia memperluas kerajaannya menjadi lebih besar dengan berturut-turut menyerang dan menaklukkan tanah dan kota terdekat. Dia menjadi salah satu raja yang paling kuat di Yunani. Digelari “Raja Segala Raja” di antara orang-orang Yunani.

Ketika terlibat perang dengan Troya, Dewi perang Artemis menuntut agar Agamemnon mengorbankan salah satu putri tersayangnya. Ambisinya untuk kekuasaan dan kemuliaan menjadi dilematis karena harus mengorbankan putrinya sendiri.

Kematian putrinya tersebut membuat murka istrinya Clytemnestra sehingga merencanakan kematian Agamenon. Ia mengatur bahwa obor api unggun harus ditempatkan di sepanjang jalan dari Mycenae ke Troy. Obor itu akan menyala ketika suaminya pulang.

Agamemnon menafsirkan ini sebagai istri yang penuh kasih yang ingin tahu kapan dia akan kembali. Namun bagi Clytemnestra, itu adalah peringatan untuk kepulangannya sehingga rencana pembunuhan suaminya harus dilaksanakan.

Sekembalinya Agamemnon, istrinya meletakkan karpet merah darah dari pintu masuk tembok kota besar ke pintu rumah mereka. Menginjak karpet ini dianggap tabu karena menunjukkan kebanggaan. Kebanggaan yang sama yang telah membawanya pada pembunuhan putri Agamemnon sendiri. Akhirmya istrinya menghabisi suaminya dalam sekejap, tanpa perlawanan.

Semua upaya Agamemnon untuk memenangkan perang dan mencapai kemuliaan, yang berasal dari pengorbanan putrinya, benar-benar dimusnahkan. Agamemnon tidak pernah bisa merasakan buah kemenangannya di kampung halamannya setelah sepuluh tahun berperang, dan pengorbanannya menjadi kesalahan terbesarnya.

Kebanggaan dan keangkuhan telah membawa Agamemnon pada kehancurannya. Rupanya prestise dan kebanggan yang dibangun bertahun-tahun rasanya sia-sia. Hal yang sama pun di daalami oleh Jenderal Ambo.

Seperti Agamemnon, Jenderal Ambo pun demikian. Akibat didorong oleh prospek kemuliaan dan ketenaran, ia bahkan tak segan-segan untuk melengserkan nyawa siapa pun. Bahkan istri sekalipun di korbankannya. Mirip Agamenon yang mengorbankan putrinya.

Dia mendambakan prestise dan kemasyhuran dalam perang melawan kejahatan (rekayasa). Ambo bahkan memiliki pasukan khusus dan sejumlah besar kekayaan dari jarahan dan rekayasa yang berhasil ia lakukan.

Dalam jangka waktu yang singkat ia bahkan berhasil naik jabatan yang strategis. Bahkan melewati rekan dan seniornya. Ia diberi kedudukan yang strategis. Dan merupakan orang yang paling berpengaruh di negara Egonesia. Ambo kemudian digelari “Mafia” di antara orang-orangnya.

Ambisinya untuk kekuasaan dan kemuliaan menjadi dilematis karena harus mengorbankan ajudan dan melibatkan istrinya sendiri. Demi kenikmatan duniawi ia bahkan tak segan menembak mati ajudan kepercayaanya dan merekayasa tindakannya itu.

Ambo seperti Mamarika yang dengan kekuatan dan kewibawaanya berhasil merekayasa apa pun bahkan merekayasa kematian ajudannya. Rekayasa tersebut banyak melibatkan anak buah dan rekan-rekannya yang loyal.

Publik Egonesia tak lantas percaya dengan rekayasa kematian itu. Rekayasa itu hanya memunculkan tanya. Tanya itu bahkan membuka selubung kabut misteri. Secercah kebenaran pun menyeruak ke permukaan.

Ambo pun mengaku sebagai dalang pembunuhan dengan motif asmara. Asmara seringkali menjadi dalang pembunuhan. Agamenon pun demikian, usai menang perang ia membawa selir dari negara taklukan. Hal ini membuat api amarah istrinya berkobar. Darah mengalir, nafas pun berhenti.

Drama berakhir dengan pembentukan penyelidikan untuk menguak dalang pembunuhan. Ambo akan diadili.

Pengadilan di negeri Egonesia sangat diragukan keadilannya sebab di negeri itu hukum masih bisa dibeli. Yang kuat dan berduit bisa membeli. Hukum bisa saja tumpul ke atas dan tajam ke bawah.

Belum tentu Ambo dinyatakan bersalah. Ini menjadi tugas dan tanggung jawab pihak berwenang. Sistem peradilan di negeri Egonesia itu sangat dipertaruhkan kredibilitasnya.

Kisah pembunuhan ajudan Sang Jenderal menarik perhatian pada istilah dan klasifikasi keadilan dan balas dendam. Siapa yang benar? Dan siapa yang salah?

Para dewa akan murka dengan kembalinya kekerasan dan pertumpahan darah di negeri Egonesia.*