Memahami Kehidupan dan Filsafat Rene Descartes

0

FILSAFAT, Bulir.id – Filsuf Prancis Rene Descartes membantu mengembangkan prinsip-prinsip rasionalisme, sebuah gerakan filosofis abad ketujuh belas. Saat ini Descartes dikenang sebagai bapak filsafat modern serta ahli matematika.

René Descartes (1596-1650) adalah seorang filsuf, matematikawan, dan ilmuwan Prancis abad ke-17. Dia membantu membangun berbagai prinsip filsafat, termasuk rasionalisme modern.

Sebagai seorang ahli matematika, Descartes mengembangkan sintesis aljabar dan geometri yang dikenal sebagai geometri analitik, yang kadang-kadang disebut sebagai geometri Cartesian. Dia juga menemukan sistem koordinat Cartesian, yang masih digunakan secara luas hingga saat ini.

Sebagai seorang ilmuwan, Descartes membantu mengembangkan hukum pembiasan (dikenal sebagai Hukum Descartes di Prancis) dan menggambarkan radius sudut pelangi.

Sebagai ahli matematika dan ilmuwan, dia berusaha menjelaskan banyak fenomena alam dalam publikasi seperti The World, Optics, Meteorology, Geometry, dan Discourse on the Method of Right Conducting One’s Reason and of Seeking Truth in the Sciences.

Dia juga seorang Katolik Roma yang menggunakan metafisika untuk memberikan penjelasan rasional tentang keberadaan Tuhan, yang paling terkenal dalam Meditationes de prima Philosophia (Meditasi tentang Filsafat Pertama). Descartes menyaingi Aristoteles untuk kontribusinya terhadap filsafat metafisika dan ilmu-ilmu fisik.

Biografi Singkat Rene Descartes

Dari masa kecilnya di Prancis hingga kehidupan kerjanya di Belanda dan tahun-tahun terakhirnya di Swedia, René Descartes mengabdikan hidupnya untuk mempelajari secara saksama hal-hal yang bersifat material dan kebenaran metafisik.

Kehidupan awal di Prancis: Tahun-tahun awal kehidupan Descartes dihabiskan di Prancis. Ia lahir pada tahun 1596 di La Haye en Touraine, sebelah selatan Paris. Ibunya, Jeanne Brochard, meninggal tak lama setelah melahirkan, dan ayahnya, Joachim, sering berada di luar rumah untuk menjalankan tugasnya di Parlemen Brittany di Rennes.

Dengan demikian, Descartes muda sebagian besar dibesarkan oleh nenek dan paman buyutnya. Sebagai seorang anak laki-laki, Descartes belajar matematika dan fisika (termasuk karya perintis Galileo) di Sekolah Tinggi Jesuit Royal Henry-Le-Grand di La Flèche. Dia kemudian melanjutkan ke Universitas Poitiers, lulus dengan gelar di bidang kanon dan hukum perdata. Dia pindah ke Paris pada tahun 1616 dengan rencana menjadi pengacara atau perwira militer.

Ambisi militer: Tidak lama setelah pindah ke Paris, Descartes mengalihkan fokusnya ke dinas militer. Meskipun beragama Katolik, ia menjadi tentara bayaran di Tentara Negara Belanda Protestan di Breda, bertugas di bawah pimpinan Maurice dari Nassau.

Selama di Breda, Descartes menaruh minat yang lebih besar pada matematika dan teknik. Di sana, ia berkenalan dengan filsuf dan matematikawan Belanda, Isaac Beeckman, yang kemudian menjalin persahabatan yang panjang. Mereka tetap berhubungan hingga kematian Beeckman pada tahun 1637.

Penglihatan religius: Pada bulan November 1619, Descartes mengalami penglihatan religius yang menurutnya mengilhami terobosan-terobosan dalam filsafat dan matematika. Dia meninggalkan tentara Protestan dan mendaftar di tentara Katolik Duke Maximilian dari Bavaria (sekarang Jerman). Setelah beberapa kali melakukan perjalanan, Descartes kembali ke Prancis, menghabiskan waktu di Paris dan La Haye.

Pindah ke Belanda: Pada sekitar tahun 1628, Descartes mulai menyusun salah satu karya besarnya yang pertama, Regulae ad Directionem Ingenii (Aturan untuk Arah Pikiran). Pada tahun 1630, ia mendaftar di Universitas Leiden di Belanda, membagi waktunya antara kota Leiden dan ibu kota Belanda, Amsterdam.

Hubungannya dengan seorang pelayan muda bernama Helena Jans van der Strom menghasilkan seorang anak perempuan, Francine, yang meninggal karena demam berdarah tidak lama setelah ulang tahunnya yang kelima. Kehilangan Francine sangat mempengaruhi Descartes dan mungkin telah mengilhami arah baru dalam perjalanan filosofisnya.

Dua dekade yang bermanfaat: Karya-karya Descartes yang paling terkenal semuanya tercipta selama dua dekade menetap di Belanda. Selama masa ini, Descartes melakukan perjalanan ke seluruh Eropa, tetapi Belanda adalah tempat tinggalnya.

Karya-karya awal dari era ini termasuk “Les Météores” (The Meteor), “La Dioptrique” (Dioptrics), dan Discours de la méthode (Wacana tentang Metode), yang merupakan sebuah pengantar untuk sebuah teks yang disebut La Géométrie (Geometri).

Puncak karya filosofis: Selama dekade 1640-an, Descartes menghasilkan karya-karya filosofisnya yang paling bertahan lama, yang kemudian menjungkirbalikkan konsep-konsep Aristoteles yang telah berusia berabad-abad dan memperkenalkan era baru filosofi alam.

Karya-karya ini termasuk Meditationes de Prima Philosophia (Meditasi pada Filsafat Pertama) tahun 1641, Principia Philosophiae (Prinsip-prinsip Filsafat) tahun 1644, dan Les Passions de l’âme (Gairah Jiwa) tahun 1649, yang didedikasikan Descartes untuk Putri Elisabeth dari Bohemia.

Tahun-tahun terakhir di Swedia: Pada tahun 1649, Ratu Christina dari Swedia mengusulkan agar Descartes mengepalai akademi ilmiah baru di Stockholm. Descartes menerima posisi tersebut dan pindah ke Stockholm, tinggal sebagai tamu di rumah Pierre Chanut. Terinspirasi oleh musim dingin yang menghukum di Swedia, Descartes menghabiskan sebagian tahun-tahun terakhirnya untuk menguji apakah tekanan atmosfer dapat digunakan untuk memprediksi cuaca.

Kematian dan warisan: Descartes meninggal karena pneumonia di Stockholm pada tanggal 11 Februari 1650. Claude Clerselier, saudara ipar Pierre Chanut, mendekati Vatikan tentang potensi kesucian bagi Descartes. Ambisinya menjadi bumerang pada tahun 1663 ketika Paus menempatkan karya-karya Descartes dalam Indeks Buku Terlarang.

Tindakan Paus tidak berhasil; teori-teori Descartes telah menyebar ke seluruh komunitas intelektual Eropa dan mengilhami tulisan-tulisan filosofis Baruch Spinoza, Gottfried Wilhelm Leibniz, François Poullain de la Barre, Nicolas Malebranche, dan banyak tokoh rasionalis di masa depan. Temuan matematikanya membantu memengaruhi Sir Isaac Newton, yang terutama mempelajari Descartes melalui terjemahan matematikawan Frans van Schooten.

4 Karya Terkemuka dari René Descartes

Tulisan-tulisan filosofis Descartes secara nyata membentuk filsafat Barat dan memberikan kerangka kerja untuk pendekatan filsafat, matematika, dan ilmu pengetahuan yang disebut metode Cartesian. Beberapa karya utama membentuk dasar Cartesianisme.

1. Wacana tentang Metode Menjalankan Akal dengan Benar dan Mencari Kebenaran dalam Ilmu Pengetahuan (1637) 

Teks yang ditulisnya pada tahun 1637 ini memperkenalkan kutipan Descartes yang paling terkenal, “Je pense, donc je suis” (“Saya berpikir, karena itu saya ada”). Ini juga memberikan dasar untuk skeptisisme metodologis, sebuah teknik yang akan digunakan Descartes dalam tulisan-tulisan selanjutnya.

Dia memulai dengan pernyataan skeptis tentang berbagai konsep yang dianggap sebagai kebenaran dogmatis. Descartes kemudian menggunakan logika dan argumen rasional untuk membuktikan bahwa, memang, konsep-konsep dan prinsip-prinsip ini benar.

2. Meditationes de Prima Philosophia (Meditasi tentang Filsafat Pertama)  

Publikasi yang relatif singkat ini memperkenalkan inti dari filsafat Descartes dan kembali pada skeptisisme metodologis Descartes (kadang-kadang disebut “keraguan Cartesian”). Dengan menggunakan argumen ontologis dan argumen khasnya, Descartes menawarkan serangkaian bukti untuk menegaskan keberadaan Tuhan, manusia.

Teks ini juga bertahan karena memperkenalkan dualisme pikiran-tubuh, yang juga disebut dualisme Cartesian, dan apa yang kemudian dikenal sebagai masalah pikiran-tubuh, yang diperdebatkan oleh para filsuf masa depan seperti John Locke, Thomas Hobbes dan David Hume.

3. Prinsip-prinsip Filsafat (1644)

Teks ini menampilkan kutipan Latin, “Cogito ergo sum,” sebuah terjemahan dari kutipan Prancis, “Je pense, donc je suis,” dan bahasa Inggris, “I think therefore I am.” Buku ini mengembangkan gagasan epistemologi yang ditemukan dalam Meditasi Descartes, tetapi reputasinya sebagian tercemar oleh sejumlah pernyataan tentang fisika yang kemudian dibantah.

4. Les Passions de l’âme (Gairah Jiwa) (1649)

Karya ini menandai risalah filosofis terakhir Descartes. Teks ini mengeksplorasi hubungan antara sains dan filsafat moral. Karya ini juga meninjau kembali dualisme pikiran-tubuh (dualisme Cartesian) yang diperkenalkan dalam karya-karya sebelumnya dan menyajikan konsep “animal spirit”, yang diyakini Descartes mengendalikan perilaku fisiologis dalam diri manusia.

Dia menyatakan bahwa nafsu menyerang jiwa dan memaksa tubuh untuk berperilaku tidak pantas. Teks ini menyatakan bahwa memahami nafsu, dan mengendalikannya, merupakan bagian integral dari kehidupan moral.*