“Cahaya pada Empat Tatapan” oleh Gerard N Bibang

0

CAHAYA PADA EMPAT TATAPAN

PADA tatapan pertama di sebuah perjumpaan; pasti bukan kebetulan;
tatapanmu memancar cahaya; tak bisa dikisahkan; bisa mungkin; mungkin, mungkin; tapi aku ini dungu; ilmuku masih tingkat babu

PADA tatapan kedua; kegelapan tiada tara; seperti memasuki belantara tanpa peta; tapi beberapa kata mulai bisa mengucap; karena rahasia di pelupuk matamu menyapa begitu hangat sanubariku

PADA tatapan ketiga; engkau dan aku pelan-pelan dalam satu bahasa; engkau dan aku menyatu dalam kata KITA; mulailah kita menangis cengeng; ingin melempari galaksi supaya bintang runtuh; mulailah kita mengais bumi mencari permata; untuk kita kunyah-kunyah demi kenikmatan raga dalam mengisi hari-hari selanjutnya

tapi cahaya pada tatapanmu segera membentak: ‘ wahai dua anak manusia yang mencinta! kamu ditujukan bukan untuk nikmat-nikmat dunia!”

PADA tatapan keempat; kita bergelut dalam tawa dan tangis, melebur dalam kegembiraan; yah, ada lagikah yang dirisaukan dalam cahaya? kalau kita gembira bukanlah kita yang bergembira; sebab sesungguhnya SANG MAHA CAHAYA mentakdirkan kita utk tertawa dan tangis dalam suka duka

maka hari-hari selanjutnya menjelmakan kita menjadi cahaya; menyatu dalam waktu-waktu berikutnya tanpa orang banyak harus paham seperti apa dan bagaimana hakekatnya; mengalir di bawah tetes-tetes cahaya; memang selalu ada kegelapan meski belum sepenuhnya kita tahu bentuknya; hanya selalu terngiang di dalam dada sebuah tembang tentang cinta yang tak terlukiskan kata
**
(gnb:tmn aries:jkt:selasa:11.1.21)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here