Ekonomi Indonesia Catat Tren Positif: Inflasi Terkendali, Surplus Perdagangan Berlanjut, dan PMI Manufaktur Ekspansi

0

Jakarta, BULIR.ID Perekonomian Indonesia menunjukkan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian global. Pada Senin (1/9/2025), pemerintah merilis tiga indikator makro yang mencatatkan tren positif: inflasi yang terkendali, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang kembali ekspansi, serta surplus neraca perdagangan yang terus berlanjut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Agustus 2025 mengalami deflasi 0,08% (mtm) atau inflasi 2,31% (yoy), masih dalam sasaran 2,5±1%. Inflasi inti naik tipis 0,06% (mtm) dan 2,17% (yoy), menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga. Sementara itu, inflasi Volatile Food (VF) turun 0,61% (mtm) dan berada di level 4,47% (yoy), sesuai target pemerintah menjaga inflasi pangan di kisaran 3–5%.

Deflasi Agustus terutama dipengaruhi penurunan harga tomat dan cabai rawit akibat panen raya. Inflasi Administered Price (AP) juga turun 0,08% (mtm) atau 1,00% (yoy), didorong penurunan harga BBM nonsubsidi serta diskon tiket pesawat dalam rangka HUT RI ke-80.

“Pemerintah akan terus menjaga daya beli masyarakat. Penyaluran beras SPHP ditargetkan 1,3 juta ton hingga akhir tahun. Akses pembiayaan pertanian melalui KUR dan Kredit Usaha Alsintan juga terus diperluas, dengan realisasi Rp60,93 triliun hingga Agustus,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto.

Dari sisi perdagangan, Indonesia kembali membukukan surplus USD4,17 miliar pada Juli 2025, meningkat 1,71% dibandingkan bulan sebelumnya. Ekspor naik 5,6% (mtm) menjadi USD24,75 miliar, lebih tinggi dari impor sebesar USD20,57 miliar. Surplus ini memperpanjang rekor 63 bulan berturut-turut.

Kinerja ekspor ditopang kenaikan harga komoditas utama seperti batu bara, gas alam, kelapa sawit, karet, bijih besi, dan timah, serta produk manufaktur bernilai tambah seperti kendaraan, mesin, dan alas kaki. Surplus juga tercatat dengan Amerika Serikat mencapai USD2,2 miliar pada Juli, meski ekspor masih dikenai tarif baseline 10%.

Dari sektor manufaktur, Purchasing Managers’ Index (PMI) Agustus 2025 naik signifikan ke level 51,5 dari 49,2 pada Juli, menandai kembalinya Indonesia ke zona ekspansi setelah empat bulan kontraksi. Peningkatan ini didorong naiknya permintaan domestik dan ekspor, dengan pesanan baru dan aktivitas produksi tumbuh untuk pertama kalinya sejak September 2023.

“Kembalinya PMI manufaktur ke zona ekspansi menunjukkan optimisme pelaku usaha dan perbaikan daya beli masyarakat yang akan mendukung pertumbuhan ke depan,” kata Airlangga.

Pemerintah menegaskan akan menjaga momentum pertumbuhan melalui implementasi Kredit Industri Padat Karya dan penguatan permintaan produk dalam negeri, termasuk lewat program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas).