Etika Nikomakhean Sebuah Magnum Opus Aristoteles, Karya Terpenting dalam Filsafat Barat

0

FILSAFAT, Bulir.id – Sering dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban Barat, Yunani Kuno menghasilkan banyak filsuf dan teks filsafat terpenting di dunia Barat. Namun, Aristoteles menonjol sebagai salah satu filsuf berpengaruh yang gagasannya telah membentuk disiplin ilmu ini.

Salah satu karya Aristoles adalah Etika Nikomakhean. Buku tersebut terdapat sepuluh bagian yang mencakup beragam topik mulai dari moralitas dan kebajikan hingga akal budi dan kesejahteraan. Pada artikel ini, kita akan menelisik konteks yang membentuk karya pentingnya.

Aristoteles adalah seorang filsuf pada abad ke-4 SM yang meraih ketenaran sebagai murid Plato di Akademinya. Aristoteles kemudian membuka sekolahnya sendiri dan bahkan menjadi guru bagi Alexander Agung. Ia adalah seorang penulis yang produktif dan mengeksplorasi berbagai topik, termasuk metafisika, biologi, dan kebajikan. Ia diyakini telah menulis sekitar 200 karya, 31 di antaranya masih ada hingga kini. Etika Nikomakhean -nya dianggap sebagai mahakaryanya.

Aristoteles menulis Etika Nikomakhean sekitar tahun 350 SM saat ia tinggal di Athena. Pada saat itu, Athena sedang berada dalam pergolakan politik, sering kali bertransisi antara demokrasi dan oligarki, dan menghadapi meningkatnya kekuatan kekaisaran Makedonia. Ketidakstabilan ini kemungkinan memengaruhi pemikiran Aristoteles dan beberapa pandangan yang diungkapkan dalam Etika Nikomakhean dapat dibaca sebagai refleksi masyarakat Athena pada saat itu.

Ia kemungkinan besar menulis karya tersebut menjelang akhir masa studinya di akademi Plato dan sebelum ia pergi ke Makedonia untuk mengajar Alexander. Pengaruh gagasan para filsuf Athena lainnya, termasuk Plato dan Socrates terlihat jelas dalam karya tersebut.

Aristoteles kemungkinan besar menamai karyanya “Nicomachean” berdasarkan nama seseorang bernama Nicomachus. Nama ini sering dianggap berasal dari putranya, Nicomachus, yang menikah dengan budak Herpyllis dari Stageira, yang merupakan teman Aristoteles setelah kematian istrinya, Pythias. Namun, ini berarti putra Aristoteles kemungkinan besar lahir setelah sang filsuf menulis karya tersebut. Atau, Aristoteles mungkin menamai putra dan karyanya berdasarkan nama ayahnya.

Bukan hal yang aneh bagi para filsuf untuk menamai karya mereka berdasarkan nama orang lain. Plato terkenal karena menamai dialog-dialognya berdasarkan nama-nama yang ia tampilkan atau yang menginspirasinya, sehingga menghasilkan karya-karya seperti Parmenides, Phaedo dan Timaeus.

Kebajikan sebagai Jalan Menuju Eudaimonia

Dalam karya tersebut, Aristoteles mengeksplorasi etika dalam konteks makna hidup. Ia mengkaji hakikat manusia dan tujuan akhir hidup, eudaimonia yang saat ini sering diterjemahkan sebagai bentuk kebahagiaan atau pemenuhan diri. Dalam Etika Nikomakhean, Aristoteles juga menekankan pentingnya mengembangkan kebajikan, baik secara moral maupun intelektual, sebagai cara untuk mencapai eudaimonia.

Ia membahas peran sentral akal budi dan pentingnya sahabat, yang pada akhirnya menempatkan mereka dalam konteks bagaimana mereka dapat membantu mewujudkan kebajikan dan kebahagiaan. Meskipun Aristoteles menyebutkan banyak topik yang berbeda, semuanya kembali pada peran kebajikan dan bagaimana kebajikan dapat digunakan untuk mencapai eudaimonia.

Salah satu topik terpenting yang diperkenalkan Aristoteles dalam Etika Nikomakhean adalah doktrinnya tentang jalan tengah. Tidak seperti filsuf etika lain yang menganut serangkaian aturan dan konsekuensi, Aristoteles percaya bahwa perilaku etis terbentuk dengan menyeimbangkan dua ekstrem. Ia berpendapat bahwa kebajikan ditemukan di antara kekurangan dan kelebihan suatu sifat karakter, dan hidup di antara keduanya mengarah pada kehidupan yang baik.

Ambil contoh, sifat karakter keberanian. Keberanian berada di antara kepengecutan (kekurangan) dan kecerobohan (kelebihan). Meskipun titik yang tepat pada spektrum tersebut dapat berubah tergantung keadaan, seseorang harus selalu berada di antara keduanya. Anda berbudi luhur setelah menemukan titik yang tepat untuk semua sifat karakter (dan mengalami eudaimonia).

Aristoteles adalah salah satu filsuf paling berpengaruh dalam filsafat Barat, dan itu sebagian besar berkat Etika Nikomakheannya. Karya ini merupakan teks dasar bagi etika kebajikan, dan digunakan dalam mazhab-mazhab pemikiran Helenistik lainnya, seperti Stoisisme dan Epikureanisme. Pengaruhnya juga merambah hingga era modern. Etika kebajikan mengalami kebangkitan pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, dan para cendekiawan di berbagai bidang, mulai dari filsafat moral hingga etika profesional (seperti etika bisnis, medis, dan lingkungan) terus menelaah dan memperdebatkan Etika Nikomakheannya.*