Filsafat Telah Mati? Rocky yang Membunuhnya!

0

Oleh: Djanuard Lj*

FILSAFAT, Bulir.id – Filsafat menjadi populer di Indonesia setelah Rocky Gerung tampil di banyak kesempatan di ruang publik. Sebelumnya Filsafat hanya dikenal di ruang-ruang sunyi, di kelas-kelas fakultas Filsafat.

Filsafat baru mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia setelah Rocky tampil di berbagai ceramah dan seminar di ruang publik. Ia begitu piawai mengolah argumen yang runut, kritis dan logis yang seringkali sulit dibantah lawan debat.

Sebagai filsuf, Rocky seringkali berusaha merangsang jalan pikiran publik agar selalu berjalan pada koridor akal sehat. Ia seumpama lebah penyengat yang menyengat pikiran publik agar tetap terjaga (kesadaran).

Jika kita ingat dalam Apology 30e-31a, seorang filsuf digambarkan “sebagai lebah penyengat bagi kuda besar yang malas”. Dalam teks tersebut Sokrates menyebut dirinya sebagai “lebah penyengat” sedangkan publik digambarkan sebagai “kuda besar yang malas”.

Pristiwa pengadilan yang dialami Sokrates inilah yang ingin diadopsi oleh Rocky. Ia ingin menjadikan dirinya sebagai lebah penyengat dan publik sebagai yang tersengat.

Namun dalam perjalanan waktu, Rocky sebagai pemikir bebas mengambil jalan berbeda dengan jalan yang selama ini ia perjuangkan. Kini ia masuk ke dalam ruang kekuasaan menjadi anggota Watimpres.

Seringkali ruang kekuasaan tidak memberi tempat untuk upaya nalar kritis berkembang. Ruang kekuasaan selalu mengungkung nalar kritis yang selama ini ia perjuangkan.

Rocky yang sebelumnya menjadi lebah penyengat yang kedudukan sebagai pemikir bebas yang pikirannya didengar, tulisannya dibaca ketika masuk dalam ruang kekuasan ia hanyalah budak kekuasaan.

Proyek Membunuh Filsafat

Filsuf seringkali menciptakan ketidaknyamanan bagi para politisi. Ia mengusik. Ia menggugat. Dan itulah yang membuat kekuasaan tidak suka padanya. Sehingga salah satu upaya menjinakkan Rocky adalah dengan cara memberikan jabatan.

Boleh jadi ia ingin mengikuti jejak filsuf Jerman Martin Heidegger yang secara terbuka memuji dan mendukung rezim totaliter Adolf Hitler serta rezim Nazi setelah ia diangkat sebagai Rektor Universitas Freiburg pada tahun 1933.

Dalam pidato pelantikannya, Heidegger menyerukan agar universitas dan para mahasiswa mengabdi pada negara Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Ia menyatakan dukungan penuh bagi kebangkitan Jerman melalui gerakan Nasional Sosialisme (Nazi).

Demikian pun Rocky, pada banyak kesempatan kuliah dan seminar publik, ia secara eksplisit menyebut Prabowo sebagai realitas masa kini dan masa depan Indonesia. Ia dengan antusias terlibat dalam propaganda dan inisiatif rezim Prabowo termasuk memperkenalkan Prabowonomics. Sehingga baginya, tidak ada alasan tidak mendukung Prabowo.

Di kelas filsafat dan ceramah-ceramahnya di ruang publik ia menawarkan apa yang ia sebut sebagai “akal sehat”. Rocky menginginkan ada pertengkaran akal di ruang publik sebagaimana yang dilakukan founding parents di masa lalu.

Rocky memberikan dukungan filosofis atas rezim Prabowo dalam berbagai seminar dan ceramah-ceramah memperkenalkan pentingnya program MBG, KDMP dll sebagai bagian dari amat konstitusi. Ia dengan terang-terangan mendukung dan sama sekali tidak menentang program prioritas Prabowo yang mendapatkan rapor merah dari berbagai lembaga riset dan koalisi masyarakat sipil.

Ia juga terlibat dalam perebutan pengaruh di dalam rezim tersebut, mengklaim mampu mengajarkan orang lain tentang “akal sehat. Rocky ingin menjadi filsuf yang ide-idenya dapat “memimpin para pemimpin”.

Rocky kerap kali mengecam kaum akademisi dan aktivis serta oposisi yang mengkritisi kebijakan Prabowo. Ia menganggapnya sebagai “dungu” sebab baginya mereka mendasarkan pada argumen rasional kosong.

Padahal kritik lembaga riset, akademisi dan masyarakat sipil bukan muncul dari ruang kosong seperti yang dituduhkan Rocky. Kritik mereka lahir dari riset di akar rumput misalnya penegakan hukum tumpul dan partisipasi publik dalam perumusan kebijakan kurang bermakna, kebijakan fiskal, beban pajak, serta efektivitas stimulus ekonomi menjadi catatan buruk di mata publik dan para ahli.

Rocky sejatinya memaksakan kehendak untuk merasionalisasikan program rezim. Hal ini hanya menjebak dirinya sendiri jatuh dalam kubangan “kedunguan.”

Dengan demikian filsafat yang diperkenalkan Rocky telah mati, karena filsafat telah digantinya dengan logika kekuasaan. Sebelumnya ia melihat nilai tertinggi dalam ruang publik adalah nalar kritis sebagai bagian dari filsafat. Dengan kematian filsafat, ruang publik berada dalam dunia hampa tanpa nilai.

Kini Rocky hanya memiliki kehendak untuk berkuasa sebab ia sudah kehilangan nalar kritisnya. Sebagaimana Nietzsche dalam kritiknya bahwa kehendak untuk berkuasa seringkali digerakan oleh kekuatan irasional yang ada di dalam diri setiap orang yang memengaruhi keinginan dan motivasi serta tujuan.

Kehendak untuk berkuasa sebagaimana dipahami adalah dorongan mendasar yang terdapat dalam diri setiap orang, tetapi mengekspresikan dirinya dalam berbagai cara. Filsuf dan ilmuwan mengarahkan kehendak mereka untuk berkuasa menjadi kehendak untuk mencari kebenaran. Seniman menyalurkannya menjadi kehendak untuk menciptakan. Pengusaha memuaskannya dengan menjadi kaya.

Bagaimana filsafat, “cinta akan kebijaksanaan”, dapat sejalan dengan kekuasaan yang paling menjijikkan, pada seseorang yang sering dipuji sebagai “pemikir terbesar Indonesia”?

Pertanyaannya apakah Rocky yang memilih masuk dalam kekuasaan mengarahkan kehendak untuk berkuasa menjadi kehendak untuk mencari kebenaran? Ataukah menjadi watimpres adalah sebuah upaya pengejaran kekuasaan semu?*


Djanuard Lj merupkan alumnus Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Kini bekerja sebagai konten kreator dan penulis tetap di media online Bulir.id