“Filsafat Sudah Mati” Rocky Yang Membunuhnya

0
Gregorius Sukur
Gregorius Sukur - Filsafat sudah mati

Bulir.id – Nietzche dalam sebuah aforismenya berucap “tuhan sudah mati, kamulah yang membunuhnya”. Bagi Nietsche, kematian semacam ini sangat tidak menggembirakan bahkan mengejutkan sekaligus. “Ini adalah sebuah tragedy,” katanya.

Kita kehilangan satu-satunya Matahari, so beware! Pandangan semacam ini tentu berbeda dengan pandangan Kristen. Kekristenan menganggap kematian sebagai berkat. Kematian membawa manusia pada kemuliaan hidup baru.

Tulisan ini tentu tidak berupaya untuk membedah masalah filosofis sekitar kematian, tetapi lebih sebagai ilustrasi sederhana untuk mempersoalkan gaya berpikir Rocky yang selalu merepresentasikan “filsafat” dalam seluruh narasi publiknya.Tampak sekilas, Rocky seperti pahlawan Rasionalisme Kritis ala Kantian. Namun berbeda dengan Kant, Ia acapkali terburu-buru mengabarkan kematian “akal sehat”. Tetapi mari kita lihat apa persisnya berpikir rasional itu?

Renungan Teoretis

Masyarakat Modern ditandai dengan lahirnya rasionalisme pada abad XVII. Aliran ini mengutamakan akal budi ratio untuk menemukan kebenaran. Salah satu tokoh penting rasionalisme adalah Rene Descartes. Adagium Descartes yang terkenal adalah Cogito Ergo Sum: “Aku berpikir, maka aku ada” yang berarti essensi mendahului eksistensi.

Otoritas ratio adalah sumber dari segala pengetahuan. (Praja, 2003 Hal;91). Jauh sebelumnya, pandangan rationalisme ini sebenarnya sudah berkembang di tangan tokoh-tokoh seperti Socrates, Plato dan Aristoteles (Hadiwijono, 1980;15).

Baca Juga: Makna Kehidupan: Keyakinan, Bunuh Diri, dan Absurditas Albert Camus

Mereka menjadi penopang utama bagi perkembangan rasionalisme modern yang lahir sebagai bentuk penolakan terhadap penafsiran tunggal agama atas kebenaran.

Secara historis, tampak jelas bahwa rasionalisme kritis bukan merupakan hal yang baru. Cara berpikir rasional telah mengalami evolusi dari zaman ke zaman dan menyusup ke hampir seluruh dimensi kehidupan manusia, terutama dunia politik.

Sam Harris mengategorikan perkembangan rasionalitas manusia itu ke dalam apa yang dia sebut sebagai “fase kognitif”. Fase inilah yang menurut Rocky hilang dari cakrawala berpikir masyarakat Indonesia. Kemunduran akal ini sering ia sebut sebagai kedunguan.

Atas kepiawaiannya itu, rocky tak jarang dijuluki sebagai filsuf. Namun dari sejumlah antrian panjang tokoh-tokoh besar dunia, Rocky tidak lebih dari “catatan kuku kaki” dalam khasanah Filsafat.

Meski demikian, orang tentu tidak bisa meremehkan retorika seorang Rocky. Diksi dan gaya bahasanya yang nyentrik selalu berhasil mencuri perhatian publik. No rocky no party (Q&A Metro TV). Bagi Rocky, ini adalah gaya filsafat yang sesungguhnya, yang ia sebut sebagai “Big Ideas” bukan “Big Datas”.

Baca Juga: Seberapa Penting dan Bernila Belajar Filsafat?

Secara historis, model berpikir semacam ini dapat ditemukan akarnya di dalam tradisi filsafat Yunani Kuno, suatu cara berpikir yang khas Sofistik.Rocky dalam jebakan sofisme

Sofisme berkembang sekitar abad 5 sebelum Masehi. Kelompok ini biasanya mengembara dari suatu tempat ke tempat lain di sekitar Wilayah Yunani. Mereka mengajarkan pengetahuan tentang politik dan pemerintahan dengan penekanan terutama pada kemampuan berpidato menggunakan pendekatan persuasi.

Beberapa alasan kemunculan sofisme antara lain; pertama adalah menurunnya minat para sofis dalam kosmologisme, yaitu suatu cara berpikir kontemplatif kosmis. Kedua, runtuhnya kekuatan politik yang berpusat pada aristokrat sekaligus memicu kemunculan demos sebagai kekuatan politik baru (Sunarjo 1983:55).

Di Indonesia, cara berpikir sofistik ini muncul dengan gejala yang more or less seperti di Yunani meski dengan varian berbeda. Pertama, menurunnya refleksi kosmologis-kontemplatif masyarakat Indonesia, sebagai gantinya orang mulai berpikir pragmatis.

Kedua menurunnya pengaruh aristokrat yang cukup dominatif pada masa Soeharto. Kelompok aristokrat ini akhirnya tumbang dalam revolusi 1998. Lalu muncullah kekuatan politik baru yang berbasis pada demos.

Model politik berbasis demos ini terus berkembang hingga hari ini. Rocky lahir dari lingkungan berpikir semacam itu, tapi dengan kiblat yang agak berbeda, yang oleh Tesich sebut sebagai golongan Post-Truth.

Baca Juga: Begini Sejarah Perkembangan dan Makna Filosofis Uang

Rocky dan The death of expertise

Berkembangnya cara berpikir sofistik dan post-truth tentu saja berdampak pada apa yang ditulis Tom Nichols dalam bukunya “The death of expertise”. Orang tidak lagi bicara berdasarkan kepakarannya. Siapa saja bisa bicara apa saja, sejauh ia bisa menarik simpati publik.

Padahal menurut Nichols, mesti ada kriteria dasar terhadap sesuatu. Kriteria itu penting agar tidak terjadi simpang siur informasi khususnya ketika orang sedang mencoba untuk menemukan kebenaran yang objektif.

Bagi Nichols, kepakaran atau keahlian adalah perpaduan antara pendidikan, bakat, pengalaman dan rekognisi. Empat aspek inilah yang dianggap sebagai standar keahlian, namun orang akan memilih kombinasi-kombinasi yang paling sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Pertama pendidikan formal, misalnya perolehan ijazah sebagai bukti standar kompetensi. Kedua, bakat yang ditandai dengan kemampuan kodrati. Ketiga, pengalaman atau jam terbang. Keempat rekognisi yaitu semacam pengakuan dari suatu lembaga untuk memastikan spesifikasi kepakaran tertentu (Nichols, 2021;36).

Rocky menurut saya terjebak dalam ketegangan sofisme ala Protagoras, post-truth ala Tesich. Berkali-kali ia juga jatuh pada apa yang disebut Nichols sebagai the death of expertise.

Baca Juga: 17 Agustus Sebagai Momentum Bagi Pencerahan Bangsa

Kematian kepakaran tentu tidak dimengerti sebagai kekurangan kognitif, seolah-olah Rocky tidak memiliki kemampuan apapun atau dalam istilah Rocky sendiri sebagai “Dungu”.

Hanya saja bagi Nichols, kepakaran itu mesti dipahami sebagai orang yang memiliki pengetahuan “komprehensif” dan “otoritatif”. Pakar adalah juga berarti seseorang yang perintahnya dalam bidang tertentu merupakan informasi yang sepenuhnya benar dan dapat dipercaya. Dalam arti itulah penulis menjerat Rocky sebagai tersangka utama dalam tragedi kematian filsafat. “Filsafat sudah mati, Rocky-lah yang membunuhnya”.*

*Penulis: Gregorius Sukur* (Alumnus Institute Filsafat dan Teknologi Ledalero) – Tulisan ini pernah terbit di NetiTalk.com tanggal 01 Juni 2023 dengan judul yang sama Filsafat Sudah Mati, Rocky yang Membunuhnya.