Makna Kehidupan: Keyakinan, Bunuh Diri, dan Absurditas Albert Camus

0

UTAMA, Bulir.id – Albert Camus merupakan salah satu tokoh kunci kehidupan sastra di Prancis pascaperang dunia. Dia merupakan seorang filsuf, penulis, dan anggota Perlawanan bawah tanah.

Camus mengalami sakit tuberkulosis akut di masa kanak-kanak yang juga pada akhirnya memengaruhi filsafatnya. Dia penganut eksistensialisme dan mengukir posisinya sendiri dalam gerakan filosofis ini. Karyanya dicirikan oleh pesimisme sosial yang nyata dan dikhususkan untuk topik bunuh diri, pembunuhan, kerusuhan dan teror.

Camus berulang kali menolak dirinya disebut seorang filsuf. Namun demikian, karya-karyanya memasuki filsafat sebagai doktrin pesimis tentang absurditas dan eksistensi.

Siapakah Albert Camus?

Albert Camus adalah seorang penulis, filsuf, dan jurnalis Prancis. Karya-karyanya yang paling terkenal antara lain The Stranger, The Myth of Sisyphus dan The Rebel. Camus dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada tahun 1957.

Lahir di Aljazair pada tahun 1913, Camus adalah putra dari ayah seorang Prancis dan ibu Aljazair. Dia dibesarkan di lingkungan kelas pekerja yang miskin di Aljazair. Camus bersekolah di sekolah lokal dan kemudian melanjutkan studi di Universitas Aljazair.

Pada tahun 1935, Camus menerbitkan buku pertamanya, The Stranger. Novel tersebut bercerita tentang seorang pria Aljazair bernama Meursault yang membunuh seorang pria Arab tanpa alasan yang jelas. Novel itu menimbulkan sensasi dan menjadikan Camus selebriti dalam semalam.

Pada 1940-an, Camus terlibat dalam gerakan Perlawanan Prancis melawan pendudukan Nazi di Prancis. Dia juga menulis beberapa drama dan esai yang mencela absurditas perang.

Setelah perang usai, Camus kembali ke Aljazair dan terus menulis tentang kondisi manusia. Pada tahun 1957, ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra. Camus meninggal dalam kecelakaan mobil pada tahun 1960. Namun, karyanya terus dibaca dan didiskusikan oleh para pelajar dan sarjana di seluruh dunia.

Eksistensialisme Camus

Ide-idenya disajikan baik dalam bentuk risalah filosofis maupun dalam bentuk karya seni: cerita, novel, dan lakon. Gaya tulisannya terkadang kiasan dan metaforis. Plot naratifnya berputar di sekitar individu dan hubungannya dengan dunia sekitarnya, baik itu sosial maupun alam.

Dalam istilah filosofis, Camus diasosiasikan dengan eksistensialisme. Titik tolak umum filsafat eksistensialisme adalah bahwa keberadaan manusia adalah satu-satunya realitas yang harus dan dapat dieksplorasi.

Eksistensialisme Camus didasarkan pada keputusasaan, yang disebabkan bukan oleh kekejian hidup dan manusia (seperti dalam Sartre) tetapi oleh pemikiran tentang kebesaran individu dan ketidakmampuannya untuk menemukan hubungan dengan dunia yang acuh tak acuh (tapi indah). Di sepanjang karya Camus, motif kesepian, “pengabaian”, absurditas, kematian, dan keputusasaan adalah motif utama yang konsisten.

Tema sentral filsafat Camus adalah pertanyaan tentang makna keberadaan manusia, apakah “hidup itu layak untuk dijalani”. Filsuf berusaha mempelajari individu modern, memeriksa kehidupan mereka dengan detail dan berusaha memahami makna eksistensi mereka sendiri yang menyakitkan.

Camus menyimpulkan bahwa eksistensi manusia itu sendiri tidak masuk akal dan mengambil konsep tersebut sebagai dasar filsafatnya.

Bunuh Diri

Dalam esainya The Myth of Sisyphus, Albert Camus mengklaim bahwa hanya ada satu masalah filosofis yang serius, yaitu bunuh diri. Camus percaya bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar memahami arti kehidupan adalah menghadapi kemungkinan kematian. Bagi Camus, pertanyaan apakah hidup itu layak dijalani atau tidak merupakan pusat pemahaman kita tentang bagaimana kita seharusnya menjalani hidup kita.

Camus tidak menganjurkan bunuh diri, tetapi dia mencoba membuat kita melihat bahwa masalah kematian adalah sesuatu yang harus kita hadapi jika kita ingin memahami apa artinya benar-benar hidup. Dia percaya bahwa menghadapi keniscayaan kematian kita sendiri dapat membantu kita menghargai nilai kehidupan. Dengan kata lain, kita dapat belajar lebih menghargai kehidupan dengan memahami bahwa kematian tidak dapat dihindari.

Camus memahami bahwa hidup tanpa makna tidak layak dijalani dan menangani masalah secara langsung. Pertama, dia menyimpulkan bahwa bunuh diri tidak banyak berguna bagi kita, karena kematian tidak lebih berarti daripada hidup. Selanjutnya, Camus mempertanyakan apa yang membuat hidup layak dijalani tetapi tidak menawarkan banyak bantuan praktis dalam menemukan makna dalam hidup kita.

Pemikiran Camus tentang bunuh diri kontroversial, tetapi menawarkan perspektif yang menarik tentang bagaimana kita harus memandang kematian kita sendiri. Keyakinannya bahwa kita harus menerima kematian untuk menghargai kehidupan dapat membantu kita melihat nilai setiap saat.

Apa arti kehidupan?

Apa arti kehidupan? Mengapa kita disini? Apa gunanya semua ini? Ini adalah pertanyaan yang telah ditanyakan sejak zaman lampau, namun belum ada yang bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Camus percaya bahwa alasannya adalah karena tidak ada makna hidup. Tentu saja, itu adalah pandangan yang absurd. Tetap saja, Camus berpendapat bahwa itu adalah satu-satunya kesimpulan logis yang dapat dicapai seseorang ketika mempertimbangkan buktinya.

Dia mulai dengan melihat pertanyaan dari sudut pandang ilmiah. Jika kita menganggap alam semesta begitu saja, itu adalah tempat yang acuh tak acuh dan tanpa tujuan. Bintang-bintang tidak peduli dengan kita; kita hanyalah setitik kecil dalam skema besar. Ini adalah petunjuk pertama yang mengarahkan Camus pada kesimpulan bahwa hidup tidak ada artinya.

Dia kemudian beralih ke agama, yang secara tradisional dipandang sebagai sumber makna hidup. Namun, Camus menunjukkan bahwa kepercayaan agama pun pada akhirnya didasarkan pada iman, bukan bukti. Dan bahkan jika Tuhan itu ada, diragukan apakah Dia akan peduli dengan hidup kita atau bahwa Dia akan memiliki rencana besar untuk kita.

Selanjutnya, Camus mempertimbangkan gagasan untuk menciptakan makna hidup kita sendiri. Ini adalah pendekatan yang diambil banyak orang, tetapi Camus berpendapat bahwa itu pada akhirnya sia-sia.

Makna apa pun yang kita berikan pada hidup kita akan didasarkan pada preferensi dan pendapat subjektif kita sendiri. Dan karena tidak ada dasar obyektif untuk preferensi-preferensi tersebut, namun preferensi-preferensi itu pada akhirnya berubah-ubah.

Lebih buruk lagi, Camus percaya bahwa mencoba memaksakan makna pada alam semesta adalah bencana. Signifikansi apa pun yang kita coba ciptakan pada akhirnya akan dibantah oleh bukti dan akan runtuh karena beban absurditasnya sendiri.

Pada akhirnya, Camus menyimpulkan bahwa satu-satunya tanggapan yang masuk akal terhadap pertanyaan tentang makna hidup adalah dengan mengatakan tidak ada. Hidup pada akhirnya adalah urusan yang absurd dan tanpa tujuan. Itu mungkin bukan pemikiran yang menghibur, tetapi Camus percaya itu adalah satu-satunya kesimpulan jujur ​​yang bisa kita capai.

Absurd Camus

Apa yang tidak masuk akal? Bagi sebagian orang, ini mungkin tampak seperti konsep filsatat belaka. Tetapi bagi orang lain, absurditas adalah cara hidup yang tak terhindarkan.

Bagi Albert Camus, yang absurd didefinisikan sebagai “konfrontasi manusia dengan yang irasional”. Dengan kata lain, ini adalah benturan antara kebutuhan kita akan makna dan tujuan hidup serta ketidakpedulian total alam semesta terhadap keberadaan kita.

Di satu sisi, kita memiliki keinginan bawaan untuk menemukan makna dalam segala hal yang kita lakukan. Kita ingin hidup berarti, menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Namun, di sisi lain, alam semesta adalah tempat impersonal di mana segala sesuatu mungkin terjadi. Kedua kekuatan itu berlawanan secara diametral satu sama lain, dan ketegangan ini menimbulkan absurditas.

Absurd bukan hanya konsep filosofis, itu adalah pengalaman hidup. Ini adalah pengalaman merasa tersesat dan sendirian di dunia yang tidak masuk akal. Pengalaman terjebak dalam siklus kesia-siaan, di mana usaha kita sepertinya selalu gagal. Pengalaman mencari jawaban tetapi tidak pernah menemukannya.

Absurd bukanlah sesuatu yang harus ditakuti atau dihindari; itu adalah sesuatu yang harus dipeluk. Bagi Camus, yang absurd bukanlah kekuatan negatif melainkan kekuatan positif. Itu adalah pengingat bahwa kita hidup dan bahwa hidup kita memiliki nilai, meskipun pada akhirnya tidak ada artinya.

Bagaimana Hidup di Dunia yang Absurd dan Tidak Menjadi Gila?

Dalam karyanya The Myth of Sisyphus, Albert Camus membahas pertanyaan terpenting dari sudut pandangnya: “Apakah hidup layak dijalani?”. Bagaimanapun, mengingat semua keadaan, hidup menjadi tidak masuk akal dan tidak berarti. Kita menyadari hal ini pada saat-saat langka ketika gagasan kita tentang dunia tiba-tiba berhenti bekerja dan ketika tindakan dan upaya rutin mulai tampak tidak berarti.

Kita secara rutin membuat rencana yang masuk akal untuk hidup kita yang gagal – kita menemukan diri kita berhadapan muka dengan dunia yang tidak dapat diprediksi yang tidak sesuai dengan ide-ide kita.

Ini adalah absurditas keberadaan kita: konyol untuk bersikap masuk akal di dunia yang tidak masuk akal. Ini mengarah ke masalah besar berikutnya. Camus mengatakan bahwa jika komponen utama dari masalah adalah pikiran dan dunia yang tidak masuk akal, maka kita dapat “menipu” dan menyiasatinya dengan menghilangkan salah satu dari dua hal:

1. Cara pertama adalah mengabaikan keberadaan yang tidak berarti. Bertentangan dengan bukti nyata, seseorang dapat berpura-pura bahwa dunia stabil dan hidup mengikuti tujuan yang jauh. Namun menurut Camus, dalam hal ini kita tidak bisa bertindak bebas karena tindakan kita terikat dengan tujuan yang sewenang-wenang tersebut.

2. Cara kedua untuk menghindari absurditas adalah dengan meninggalkan penalaran yang masuk akal. Beberapa filsuf melakukan ini dengan menyatakan pikiran sebagai alat yang tidak berguna (misalnya, Karl Jaspers). Yang lain mengatakan bahwa dunia mematuhi rencana ilahi yang tidak dipahami orang (Kierkegaard).

Hidup Menurut Albert Camus

Camus menganggap ketidaktahuan yang disengaja tentang ketidakberartian eksistensi dan pengabaian penalaran yang masuk akal tidak dapat diterima. Tetapi bunuh diri juga bukan pilihan bagi seorang filsuf. Dari sudut pandangnya, ini adalah sikap putus asa dari penerimaan akhir kontradiksi antara pikiran manusia dan dunia yang tidak masuk akal. Alih-alih semua ini, Camus menyarankan tiga hal:

1. Pemberontakan terus-menerus. Filsuf percaya bahwa kita harus terus berjuang melawan keadaan eksistensi kita. Jangan pernah mengaku kalah, bahkan saat menghadapi kematian, meski kita tahu itu tak terelakkan. Camus mengatakan bahwa pemberontakan terus-menerus adalah satu-satunya cara untuk hadir di dunia.

2. Penolakan kebebasan abadi. Alih-alih menjadi budak gagasan abadi tentang dunia, seseorang harus mematuhi akal tetapi menyadari keterbatasannya dan menerapkannya secara fleksibel dalam setiap situasi tertentu. Artinya, kita harus mencari kebebasan di sini dan sekarang dan bukan dalam kekekalan.

Meski demikian, Camus menyebutnya bahagia. Filsuf mengatakan bahwa Sisyphus adalah model yang sempurna bagi kita. Dia tidak memiliki ilusi tentang posisinya dan ketidakberartiannya, tetapi dia memberontak melawan keadaan. Dengan setiap jatuhnya batu baru, dia secara sadar memutuskan untuk mencoba lagi. Dia mendorong batu ini berulang kali dan menyadari bahwa inilah makna dari eksistensinya.*