MANUSIA PENGHUJUNG SENJA

0
Gerard N Bibang

(kepada CN, budayawan besar yang menyebut presiden kami firaun)

Oleh Gerard N Bibang*)

Hatiku bergolak tak karu-karuan di penghujung senja; kepalaku penuh abu; omonganku yang berbusa-busa dianggap angin lalu; sungguh aku sakit hati; kenapa tidak terang-terangan mereka menyebut aku sudah mati? apakah ini yang disebut fenomena penghujung senja? makin tua makin bukanlah apa-apa, apalagi siapa-siapa

Aku kian gusar; rasa tidak tega yang terlalu cengeng dan bekal hidup berupa rasa tidak berarti lagi, diam-diam telah mendobrak dinding sukma; membuatku segera ambil kuda-kuda rohani dan ayat-ayat suci untuk meredam rasa hampa yang terus menggurita; sehingga menyilaukan mataku untuk memastikan mana utara dan mana selatan; tapi terus menerus ayat suci dikumandangkan untuk memberikan alasan memang rasional dan suci-lah segala yang ku-ucapkan

Dan demikianlah adanya pada penghujung senja; merasa unggul berilmu selalu tidak cukup; sekalian makhluk di atas bumi bukanlah orang istimewa yang memiliki keunggulan atas orang lain; apalagi aslinya tidak cukup berpendidikan untuk menilai ini dan itu; apalagi menyebut sang presiden: firaun

Untunglah, manusia penghujung senja, jika berkata atau berlaku berlebihan, sama sekali tidak mengikat siapapun yang mendengarkannya, sehingga ia tidak sampai dituduh sebagai nabi palsu; ia memang tidak peduli dipercaya atau tak dipercaya; mirip-mirip dengan ignorantia ignorantiae yaitu tidak tahu bahwa ia tidak tahu; ia berkata tentang sesuatu tapi tidak berkeberatan orang yang mendengarkan atau menolaknya; ia mempengaruhi siapa-siapa dengan cara seolah-olah tidak berikhtiar mempengaruhi siapa-siapa; ia berteman dan sangat kuat mengikatkan tali persahabatan dan persaudaraan; tapi dalam bathinnya ia bertanya lirih: kapankah aku dianggap sebagai sesuatu seperti dulu dan kapan orang-orang ini memberiku sesuatu?

Untunglah, semesta tetap meneteskan cahaya; sehingga ketika manusia penghujung senja diketahui sedang sangat serius berkata yang ilmiah dan indah-indah, apalagi dengan kutipan dari khitab-khitab dengan bahasa yang bukan bahasa ibunya, kebanyakan orang di sekitarnya tidak sampai begitu terpesona; ia hanya semacam angin lalu dan isu enteng-entengan saja

Dan yang mungkin menyelamatkan nasibnya adalah karena seseram dan segaya apapun ia bicara, di ujungnya hampir selalu ia meremehkan dan mentertawakan sendiri semua yang diungkapkannya, lalu mengucapkan maaf meski terkesan terpaksa; jadilah ia pakar dalam hal mengejek diri sendiri dan orang lain; sangat pandai berkalakar, melucu dan merendahkan dirinya; kata maaf diucapkan tapi bukan berkata langsung kepada orang-orang yang disinggungnya; jadilah ia manusia nihil dan basa basi, mungkin karena gengsi, picik dan hipokrit

Beginilah kahekat manusia penghujung senja; ia ingin dikultuskan; caranya ialah dengan merendahkan dan meremehkan orang; agar mendapatkan gemuruh tepuk tangan, tawa-ria dan amin dari pendengarnya; ia membuat glorifikasi semu agar terpenuhilah dahaga delusi kebesarannya

Wahai manusia penghujung senja; teruslah berhembus di dalam angin sehingga hembusanmu itu melebur dalam hembusan angin; engkau datang dan pergi lalu lenyap dalam sepi; hakekat kita memang menuju tiada; tapi janganlah dengan meniadakan sesamamu manusia
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu:18.1.23)

*)Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta