Memahami Konsep Penting Filsafat Martin Heidegger

0

FILSAFAT, Bulir.id – Martin Heidegger adalah seorang filsuf Jerman abad ke-20 yang karyanya dalam fenomenologi sangat memengaruhi ide-ide eksistensialis dan filsafat kontinental secara keseluruhan. Heidegger adalah murid Edmund Husserl dan membangun sudut pandangnya tentang perkembangan fenomenologi Husserl tetapi menerapkannya pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diminati Husserl.

Heidegger menjadi tokoh kontroversial ketika Nazi merebut kekuasaan di Jerman dan ia menjadi anggota partai Nazi. Tidak diketahui seberapa banyak filsafat Nazi yang disadari atau dianut Heidegger tetapi ia tidak pernah meminta maaf atas keanggotaannya atau pernyataan yang telah ia buat untuk mendukung partai tersebut.

Beberapa orang telah mengutuk filsafatnya berdasarkan alasan-alasan ini tetapi sedikit hubungan antara filsafat Heidegger dan partai Nazi dapat dilihat dalam karyanya. Perlu juga dicatat bahwa sebagian besar filsuf yang telah dipengaruhi olehnya telah pergi ke arah yang sama sekali berbeda secara politis.

Ontologi

Heidegger tertarik pada apa yang ia anggap sebagai pertanyaan mendasar filsafat, “mengapa mereka ada dan bukannya tidak ada?” Heidegger bukanlah seorang yang religius, tetapi bahkan bagi orang yang religius, ia tidak berpikir bahwa ada jalan keluar yang mudah dari pertanyaan ini. Apa gunanya keberadaan sesuatu? Mengapa alam semesta ada di sini? Apa gunanya kesadaran?

Heidegger menganggap sudah jelas apa yang harus dilakukan seseorang dalam hal ini. Ketika ia mempertanyakan keberadaan semua hal, manusia adalah satu-satunya makhluk yang ada dengan kemampuan untuk memahami dan merenungkan keberadaan mereka.

Heidegger menganggap bahwa pemahaman adalah bagian penting dari kesadaran manusia. Manusia memahami sebagai bagian dari interaksi sadar mereka dengan dunia. Menjadi manusia berarti memahami. Ini tidak berarti bahwa manusia memiliki pemahaman yang sempurna. Manusia sering salah paham, tetapi manusia perlu mencoba memahami apa yang mereka hadapi.

Manusia didefinisikan berdasarkan hubungan mereka dengan dunia. Dengan cara ini, mereka memiliki keberadaan “aktif” yang disebut Heidegger sebagai “daesin.” Istilah ini terkenal ketika membahas filsafat Heidegger, tetapi itu hanya berarti keberadaan hakiki sebagaimana manusia mengalaminya, yang berarti keadaan keberadaan yang berinteraksi dan memahami dunia di sekitarnya.

Dasein

Bagi Heidegger, pemahaman tentang keberadaan disebut sebagai “eksistensialitas”. Selain pemahaman, ada yang disebut Heidegger sebagai “faktisitas.” Faktisitas adalah suasana hati atau keadaan yang dibawa seseorang ke dalam interaksinya. Saat berinteraksi atau mengalami sesuatu, selalu ada suasana hati atau keadaan yang kita alami. Ini berasal dari interaksi, suasana hati, atau keadaan kita di masa lalu dan bersifat subjektif bagi kita.

Heidegger menganggap manusia dalam keadaan sendiri sebagai “otentik.” Yang dimaksud dengan berada dalam keadaan Daesin yang autentik adalah menjadi mandiri dari pengaruh masyarakat kolektif. Heidegger menyebut keberadaan kolektif masyarakat sebagai “dasman” dan ketika seseorang tenggelam dalam nilai-nilai masyarakat, mereka “jatuh”, melepaskan otentisitas daesin mereka sendiri demi berbaur dengan kawanan dan lebih mudah berinteraksi dalam masyarakat. Heidegger menganggap ini sebagai cara hidup yang tidak autentik.

Salah satu motivator utama bagi manusia adalah kecemasan. Kecemasan, atau ansietas, menurut Heidegger, disebabkan oleh fakta bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang menyadari kematian mereka. Mengetahui bahwa kita akan mati memberikan urgensi dan nilai bagi keberadaan. Kita tahu bahwa kita adalah makhluk yang terbatas dan bahwa kita harus mencapai apa yang ingin kita capai dalam jangka waktu tertentu. Heidegger menganggap kecemasan sebagai hal yang baik, dan sesuatu yang memberi makna bagi keberadaan manusia.

Heidegger menganggap kecemasan sebagai bagian dari kunci untuk mencapai keberadaan yang autentik. Heidegger berpikir bahwa “hidup menuju kematian” dan mengetahui bahwa ini adalah tempat terbaik bagi kita semua, adalah kunci untuk memahami diri kita sendiri dan motivasi utama kita.

Teknologi

Heidegger prihatin dengan peran teknologi dalam perkembangan manusia dan kemampuan teknologi untuk memengaruhi keberadaan umat manusia. Heidegger mengemukakan bahwa perkembangan teknologi telah menentukan era dan cara hidup manusia. Meskipun manusia menciptakan teknologi-teknologi ini, teknologi-teknologi tersebut pada dasarnya mengubah persepsinya. Perubahan persepsi kita akibat teknologi disebut Heidegger sebagai “enframing”.

Bahaya yang dilihat Heidegger adalah ketika manusia mulai berpikir tentang diri mereka sendiri yang didefinisikan oleh teknologi. Heidegger mengklaim bahwa hubungan kita dengan teknologi seharusnya menjadi hubungan di mana kita merenungkan esensinya. Kita adalah makhluk yang diajak bicara dan teknologi melayani kita, bukan kita yang melayani teknologi.

Banyak yang membandingkan filsafat Heidegger dengan pemikiran filsafat timur. Penganut Taoisme sangat menekankan tatanan alam, kehidupan menyendiri para individu dibandingkan peran mereka dalam masyarakat dan kritis terhadap manusia yang mendefinisikan dirinya sendiri terlepas dari keaslian alaminya. Ada persamaan antara kedua aliran pemikiran tersebut dan juga perbedaan. Tidak diketahui apakah Heidegger dipengaruhi oleh filsafat timur.*