Memahami Dasein dan Temporalitas Heidegger: Mengungkap Eksistensi Manusia

0

FILSAFAT, Bulir.id – Being and Time karya Martin Heidegger berusaha mencoba memahami apa artinya ada. Sekaligus ia mempertanyakan pengalaman kita di masa lalu dan masa kini, harapan dan ketakutan kita terhadap masa depan. Denga demikian telah membentuk pemahaman kita tentang apa artinya “ada.”

Filsafat Martin Heidegger memang sulit dipahami tetapi penting namun sangat berpengaruh selama abad ke-20. Ia lahir di Jerman pada tahun 1889 dan menghabiskan hidupnya untuk mencoba memahami apa artinya sesuatu itu ada. Hal ini menjadikannya salah satu pemikir terpenting pada masanya.

Pada tahun 1927, Martin Heidegger menerbitkan Being and Time , yang mengubah filsafat selamanya. Buku ini benar-benar memutus cara segala sesuatu dilakukan selama ini. Dalam buku ini, Heidegger memperkenalkan konsep seperti Dasein (sering diterjemahkan sebagai “berada di sana”), dengan mengatakan bahwa kita harus memikirkan tempat manusia dalam dunia tempat ia tinggal.

Alih-alih hanya berfokus ke luar pada objek di sekitar mereka, ia menyarankan orang-orang juga mempertimbangkan diri mereka sendiri, apa artinya berada di sini? Apa pengalaman saya saat ini? Apakah saya hidup dengan autentik atau tidak?

Namun, ada juga aspek negatif dari warisan Heidegger. Pada tahun 1930-an, ia bergabung dengan Partai Nazi, sesuatu yang sejak saat itu menimbulkan perdebatan sengit tentang filsafat dan moralnya. Meskipun demikian, hanya sedikit yang dapat menyaingi dampak yang ia berikan pada filsafat itu sendiri.

Pemikirannya membantu membentuk eksistensialisme, hermeneutika, dan postmodernisme. Sekaligus mempengaruhi gagasan Jean-Paul Sartre, Michel Foucault dan Jacques Derrida dan di antara banyak lainnya. Ketika seorang pemikir dengan kedudukan seperti ini muncul, orang-orang harus berhenti sejenak untuk berpikir: Apa sebenarnya arti eksistensi?

Proyek Heidegger: Menafsirkan Ulang Ontologi

Dalam Being and Time, Martin Heidegger mengambil tugas besar untuk menafsirkan ulang ontologi, cabang filsafat yang membahas hakikat keberadaan itu sendiri. Secara khusus, Heidegger bergulat dengan satu pertanyaan sederhana namun mendalam: Apa artinya mengatakan sesuatu itu ada? Dan bukan hanya keberadaan jenis ini-itu (seperti milikku atau milikmu), melainkan konsep keberadaan itu sendiri.

Menurut Heidegger, tradisi filsafat sebelumnya gagal menjawab pertanyaan ini. Alih-alih berfokus pada makna ada itu pada dirinya sendiri, para pemikir justru teralihkan dan mempertimbangkan ada yang lain.

Untuk menjelaskannya, ontologi tradisional, seperti yang dipraktikkan oleh Aristoteles misalnya, cenderung cukup taksonomis. Ontologi ingin mencantumkan semua jenis hal yang dapat dikatakan ada tanpa perlu khawatir tentang apa yang sebenarnya dimaksud dengan “keberadaan”.

Heidegger menganggap pendekatan ini merupakan kekeliruan besar dan ia ingin memperbaikinya. Langkah besarnya melibatkan pengalihan fokus disiplin ilmu. Daripada meneruskan pendekatan ini lebih lama lagi, ia yakin pendekatan ini telah dicoba berulang kali tanpa hasil. Heidegger mengusulkan titik awal baru bagi filsafat.

Heidegger mendekati pertanyaan tersebut menggunakan fenomenologi, sebuah metode yang dikembangkan oleh mentornya Edmund Husserl. Fenomenologi melibatkan penyelidikan dan penggambaran fenomena secara langsung sebagaimana adanya, tanpa asumsi atau teori.

Sementara Husserl berfokus pada struktur kesadaran itu sendiri, Heidegger mengadaptasi fenomenologi untuk menyelidiki struktur eksistensi. Ia memperkenalkan konsep Dasein (sering diterjemahkan sebagai “berada di sana”) untuk menggambarkan bagaimana manusia secara unik eksis di dunia.

Misalnya, gagasan Heidegger tentang “Berada-di-dunia” menunjukkan bahwa pemahaman kita terhadap objek dan diri kita sendiri berasal dari bagaimana kita berinteraksi dengan mereka dalam aktivitas praktis yang kita lakukan setiap hari.

Alih-alih memperlakukan pikiran dan dunia sebagai hal yang terpisah, asumsi umum dalam filsafat Barat, ia menunjukkan melalui jenis fenomenologi ini bahwa keduanya merupakan aspek yang saling terkait erat. Perspektif ini mungkin menawarkan wawasan baru ke dalam pertanyaan lama tentang apa artinya sekadar “menjadi”.

Memahami Dasein

Memahami Dasein sangat penting untuk memahami filsafat Heidegger dalam Being and Time. Dasein, yang dapat diterjemahkan sebagai eksistensi atau ada di sana, merujuk pada manusia dalam arti yang unik. Mereka dapat mengajukan pertanyaan tentang kehadiran mereka sendiri, tidak seperti makhluk lainnya. Namun, Dasein tidak hanya pasif; ia juga terlibat secara aktif dengan segala sesuatu di sekitar mereka.

Ada beberapa ciri penting dari jenis keberadaan ini: Berada di dunia, Kepedulian (Sorge), dan Diri. Berada di dunia menunjukkan bahwa Dasein selalu berada di suatu tempat, entah bagaimana terlibat dengan hal-hal di sekitarnya; mereka tidak mengalami kehidupan dari perspektif abstrak.

Kepedulian menghubungkan mereka dengan potensi mereka sendiri untuk menjadi diri sendiri dan apa yang dunia tawarkan untuk pemenuhan tersebut pada waktu tertentu. Kedirian berarti memahami siapa Anda sebagai seorang individu (menyadari kemungkinan). Tidak ada orang lain yang dapat melakukan ini untuk Anda. Ini adalah aktivitas yang berkelanjutan sepanjang hidup seseorang.

Gagasan tentang Berada-di-Dunia penting dalam pemikiran Heidegger. Alih-alih melihat pikiran dan dunia sebagai hal yang terpisah, ia menyatakan bahwa Dasein saling berhubungan erat dengan lingkungannya (Umwelt).

Hubungan ini bukan hanya sekadar hubungan kognitif; tetapi juga hubungan praktis dan nyata. Misalnya, ketika seorang tukang kayu melihat palu, ia tidak berpikir tentang palu secara abstrak. Sebaliknya, ia memahami cara menggunakannya untuk membangun karena itulah yang dilakukan palu, mengungkapkan jaringan hubungan yang saling terkait.

Heidegger mengklaim bahwa keseharian (Alltäglichkeit) memegang wawasan kunci tentang Dasein. Aktivitas dan perjumpaan sosial kita sehari-hari menyingkapkan sesuatu yang mendasar tentang keberadaan kita. Dalam kehidupan sehari-hari, Dasein mengalami dunia secara dekat dan personal, ia memiliki kontak langsung dengan apa yang paling penting.

Jadi, peristiwa sehari-hari ini harus dianggap setidaknya sama pentingnya untuk dipahami seperti hal lainnya. Pergeseran penekanan ini menjauh dari pemikiran yang utamanya tentang abstraksi seperti teori dan sebaliknya berfokus pada realitas hidup manusia: apa yang kita lakukan setiap hari penting; cara kita berinteraksi dengan orang lain memiliki makna.

Konsep Temporalitas

Dalam Being and Time, Heidegger menganggap temporalitas sebagai salah satu aspek mendasar di balik filsafatnya. Ia bertindak sebagai latar belakang untuk memahami Being itu sendiri. Menurut Heidegger, kita ada dalam pengertian temporal. Waktu bukan sekadar serangkaian momen, melainkan bagaimana kita memaknai keberadaan kita sendiri.

Heidegger membagi waktu menjadi tiga komponen: masa lalu (telah ada), masa kini (mewujudkan masa kini), dan masa depan (datang). Dengan memikirkan trinitas ini, menjadi jelas bahwa kita mempertimbangkan apa yang telah terjadi sebelumnya dan bagaimana hal itu memengaruhi kita sekarang, serta apa yang mungkin terjadi di kemudian hari, ketika mempertimbangkan diri kita sendiri dan dunia kita.

Jika kita memeriksa tindakan kita pada saat tertentu, tindakan tersebut selalu dipengaruhi oleh apa yang telah kita alami sebelumnya dan oleh kemungkinan yang diantisipasi di kemudian hari. Dengan kata lain, waktu saling berhubungan.

Cara yang tulus dan tidak tulus dalam menjalani waktu memisahkan cara orang hidup di dalamnya. Ketika individu terjerat oleh pengalihan perhatian atau norma sosial yang menyebabkan mereka kehilangan kontak dengan diri mereka sendiri yang disebut Martin Heidegger sebagai “they”— mereka berada dalam kondisi ketidakjujuran terhadap waktu. Pertemuan they dengan setiap momen tidak memiliki kedalaman karena they hanya hanyut begitu saja.

Sebaliknya, autentisitas terungkap dalam cara seseorang bersikap “menuju kematian”. Menyadari bahwa hidup kita akan berakhir dapat mendorong kita untuk berpikir jujur ​​tentang temporalitas, apakah kita menggunakan waktu kita yang terbatas dengan baik atau hanya sekadar ikut-ikutan.

Pola pikir ini dapat memotivasi orang untuk memanfaatkan peluang demi pertumbuhan pribadi dan menjalani hidup dengan tulus dengan secara sadar menjadi diri mereka yang sebenarnya.

Keterkaitan Antara Dasein dan Temporalitas

Hubungan antara eksistensi manusia dan waktu penting untuk memahami gagasan Martin Heidegger, dan hal itu menunjukkan kepada kita sesuatu yang menarik tentang diri kita sendiri. Inti dari hubungan ini adalah sebuah konsep yang disebut “ekstasis”.

Dalam pandangan Heidegger, ekstasis menggambarkan bagaimana manusia berdiri di luar diri mereka sendiri dalam waktu. Alih-alih menganggap masa lalu, masa kini, dan masa depan sebagai hal yang terpisah, ekstasis menunjukkan bahwa semuanya bekerja sama untuk membentuk siapa kita.

Dalam gagasan temporalitas ekstatis ini, masa lalu (yang disebut Heidegger sebagai “telah ada”) membantu membentuk identitas dan tindakan kita saat ini, sementara masa depan (“datang-ke-depan”) memberi kita tujuan atau kemungkinan seperti halnya cakrawala. Lalu ada juga apa yang sedang kita lakukan saat ini (“membuat-masa kini”).

Sebagai contoh: Ketika Anda membuat keputusan penting dalam hidup, Anda berpikir tentang apa yang telah terjadi pada Anda sebelumnya (masa lalu) dan apa yang mungkin terjadi selanjutnya (masa depan). Namun, kemudian Anda harus memutuskan dengan tegas, yang mencerminkan gagasan Heidegger bahwa Dasein ada dalam waktu sebagai aliran yang mulus.

Konsep Kepedulian (Sorge) sangat penting dalam memahami bagaimana Dasein mengalami waktu. Kepedulian menunjukkan keadaan dasar keberadaan Dasein, yang melibatkan keasyikan dan keterlibatan dengan dunia. Kepedulian ini mengatur aspek temporal keberadaan Dasein karena ia selalu mengarahkan pandangannya pada hal-hal yang harus dilakukan, tujuan yang harus dicapai, dan proyek yang harus diselesaikan.

Misalnya, lintasan karier seseorang dapat dipahami melalui pendidikan masa lalunya, tanggung jawab pekerjaan saat ini, dan tujuan masa depan, semuanya dipandu oleh rasa Peduli yang mendasar. Melalui Peduli, temporalitas Dasein terungkap, mengungkap hubungan yang mendalam antara keberadaan dan waktu.

Jadi, Apa yang Dimaksud Heidegger dengan Dasein dan Temporalitas?

Eksplorasi Heidegger tentang eksistensi manusia dan waktu dalam Being and Time berakar dalam konsepnya tentang Dasein dan temporalitas. Dasein, yang diterjemahkan menjadi “berada di sana,” mengacu pada bagaimana manusia ada secara unik dengan menyadari eksistensi mereka sendiri dan mempertanyakannya. Alih-alih memisahkan pikiran dari dunia, seperti yang dilakukan para pemikir tradisional, Dasein selalu “berada di dunia,” yang secara aktif terjerat dalam lingkungannya.

Sementara itu, temporalitas adalah istilah Heidegger untuk cakrawala tempat kita menjumpai Ada itu sendiri: fakta bahwa eksistensi kita pada hakikatnya bersifat temporal.

Ia menyajikan waktu sebagai struktur yang meliputi masa lalu (telah ada), masa kini (mewujudkan masa kini), dan masa depan (datang). Ketiga dimensi ini saling terkait secara dinamis, membentuk pemahaman kita tentang dunia serta cara kita berinteraksi dengannya.

Dengan menghubungkan Dasein dan temporalitas, Heidegger mengungkap skema yang lebih besar di mana kemungkinan-kemungkinan kita di masa lalu, masa kini, dan bahkan masa depan semuanya merupakan bagian dari proses yang sama. Menyadari hal ini mendorong kita untuk menjalani kehidupan yang merupakan ekspresi autentik dari siapa kita sebagai makhluk yang keberadaannya memiliki akhir dan membuat pilihan-pilihan yang bermakna.*