Mengantar NTT Menjadi Destinasi Kelas Dunia: Para Stakeholder Wajib Perhatikan Hal-hal Ini

0

Jakarta, BULIR.ID – LONELY PLANET, lembaga yang menerbitkan beragam panduan wisata, menempatkan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada peringkat pertama dalam daftar destinasi ramah kantong terbaik untuk dikunjungi pada 2020. Menurut Lonely Planet, dengan harga yang relatif terjangkau, NTT menawarkan beragam kegiatan dan destinasi wisata yang mengesankan.

Dengan hampir seribu objek wisata yang tersebar di sejumlah pulau, yakni Flores, Sumba, Timor, Alor, Lembata, Rote, Sabu, Semau, dan sebagainya, potensi NTT begitu besar. Wisata alam dan budaya menjadi daya tarik utamanya. Tentu, magnet utama NTT adalah komodo, binatang purba yang hanya bisa ditemui di provinsi ini. Di samping itu, dunia bawah lautnya tak kalah memikat. Taman bawah laut di Alor dan Labuan Bajo dianggap surga bagi para penyelam dengan keberagaman biota laut dan disebut-sebut sebagai wisata selam kelas dunia.

Penjelajahan ke desa-desa di NTT membawa kita mengarungi waktu dan menelusuri peradaban tua yang masih terpelihara. Kekayaan arsitektur lokal juga amat menonjol di NTT. Sejumlah desa menjadi ikonik salah satunya karena arsitektur rumah adatnya, sebut saja rumah kerucut di Waerebo atau rumah panggung di Ratenggaro.

Perjalanan menelusuri tradisi NTT ini pun akan membawa kita pada perjumpaan dengan seni tenun ikat yang begitu khas. Yang tak hanya indah, tetapi memeram filosofi dan nilai tradisi Masyarakatnya. Jelas, pesona-pesona di atas hanya sebagian kecil yang ditawarkan NTT. Banyak lanskap dan cerita yang bisa dieksplorasi.

Saat ini, kian tingginya minat warga dunia untuk berwisata turut menjadikan NTT sebagai destinasi wisata pilihan. Setiap tahunnya, NTT mengalami peningkatan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) “Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam Angka 2019″ mencatat kenaikan signifikan pada periode 2014-2018. Dari sekitar 400 ribu
wisatawan pada 2014 menjadi lebih dari 1.2 juta pengunjung pada 2018 dengan rata-rata lama tinggal wisatawan mencapai empat hari. Jumlah fasilitas akomodasi berupa hotel dan penginapan meningkat, termasuk di dalamnya hotel berbintang sehinga pada 2019 tercatat total ada 31 hotel berbintang di NTT.

Sebanyak 27 hotel atau lebih hotel berbintang terdapat di Kota Kupang. Sisanya terdapat Kabupaten Sumba Barat, Alor, Sikka dan Manggarai Barat *1. Dengan segenap potensi pariwisata ya NTT berpeluang besar untuk menjadi salah satu destinasi ungggulan Indonesia yang mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara.

Menentukan Arah Pengembangan Pariwisata NTT

Terkait arah pengembangan NTT ke depan, menarik bagi Kia untuk sejenak belajar dari pengalaman tempat lain, sebutlah Islandia. Di negara tempat kita bisa memandang aurora borealis ini, pariwisata merupakan salah satu sumber pendapatan utama. Berkembangnya. pariwisata membuka ribuan lapangan pekerjaan baru di berbagai lini dan membawa berbagai kemajuan, termasuk tersedianya 98 bandara di negeri yang luasnya hanya 101.003 kilometer persegi itu— yang jika mau kita bayangkan, sedikit lebih kecil daripada Pulau Jawa.

Beragam infrastruktur lain penunjang kepentingan wisatawan pun dibangun. Misalnya, karena kebutuhan energi meningkat lantaran banyaknya turis, di Reykjavik dan Akureyri yang notabene merupakan wilayah pegunungan dibangun sumber pembangkit listrik baru.

Sayangnya, berbagai pengembangan itu menimbulkan dampak lain yang mulanya kurang diantisipasi. Hasil survei terhadap penduduk Islandia tentang dampak pariwisata di Islandia pada 2018 yang dilakukan Statista—portal data dan statistik terkemuka di dunia menyebutkan 75 persen responden mengaku mengalami tekanan akibat lonjakan pariwisata yang terlalu tinggi*2.

Pembangunan Islandia yang berorientasi pada kepuasan wisatawan boleh dikatakan mengorbankan kenyamanan penduduk sendiri. Tak hanya itu, ini dapat pula mengancam kelestarian alam Islandia.

Bisa dibayangkan, tanpa ada analisis lebih jauh untuk menilik kembali daya dukung lingkungan sebuah wilayah, bukan tidak mungkin jika akhirnya pembangunan pariwisata kelak mengorbankan kelestarian alamnya. Padahal, faktor alamlah yang kerap menjadi modal industri pariwisata. Hal semacam inilah yang kemudian memunculkan kekhawatiran “tourism can kill tourism‘.

Industri pariwisata memang diakui mampu menjadi penyumbang pendapatan negara yang besar, membuka ribuan lapangan pekerjaan, meningkatkan perputaran uang di suatu wilayah, dan meningkatkan nilai ekonomi sebuah kawasan. Namun, di sisi lain, pariwisata juga dapat memicu terjadinya berbagai permasalahan lingkungan maupun
sosial budaya, dari rusaknya ekosistem, terdegradasinya budaya lokal, sampai ketimpangan ekonomi. Persoalan-persoalan ini kita hadapi pula di Indonesia.

Upaya menemukan titik keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian ekosistem serta budaya masih harus terus dilakukan. Terlebih. Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia. Pulau-pulau yang tersebar di wilayah NTT merupakan sedikit dari banyak pulau di Indonesia dengan keanekaragaman hayati tinggi. bahkan memiliki beberapa satwa endemik seperti halnya komodo. Keseimbangan dalam pengelolaan inilah yang perlu dicermati dalam pengembangan pariwisata NTT.

Penguatan Literasi

Pengembangan pariwisata yang baik bergantung penuh pada kapasitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Untuk itu, literasi tentang pariwisata perlu ditumbuhkan pada setiap pemangku kepentingan, baik pemerintah setempat. pelaku bisnis, komunitas atau organisasi. maupun masyarakat lokal. Yang paling mendasar insan kepariwisataan perlu memahami karakter utama sebuah destinasi wisata, yaitu keunikan dan kekhasan, otentisitas, perbedaan atau keberagaman, dan lokalitas. Dengan begitu, setiap rencana pengembangan dapat selalu mempertimbangkan unsur-unsur ini.

Idealnya. masyarakat lokal sebagai tuan rumah di sebuah daerah menjadi motor penggerak utama dalam pengembangan pariwisata. Kapasitas masyarakat yang kelak akan menjadi pemain utama dalam industri pariwisata pun harus disiapkan. Oleh karena itu, beragam cara untuk penguatan kapasitas. baik lewat pelatihan/pendidikan
formal maupun informal, mesti ditempuh.

Masyarakat lokal juga perlu dibekali dengan pemahaman soal hak mereka atas lahan dan potensi ekonomi dari lahan yang mereka miliki. Kerap terjadi, warga tergoda iming-iming nilai uang yang seolah tampak besar di awal sehingga melepas hak atas lahan mereka. Padahal lahan tersebut berpeluang besar untuk dikembangkan dan menghasilkan pundi-pundi yang lebih besar ketimbang nilai yang mereka terima jika menjualnya.

Warga perlu diberi informasi tentang beberapa skema pengelolaan lahan yang bisa dilakukan tanpa menjualnya. Akses masyarakat terhadap tanah, pengolahan hasil bumi, serta air bersih harus tetap bisa dipertahankan agar mereka berdaulat di rumah sendiri dan dapat turut menentukan arah pengembangan daerahnya.

Selain memberi penekanan pada pengelolaan pariwisata, pengembangan insan pariwisata, dan pemasaran pariwisata, buku ini memuat pula bahasan tentang adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19 dalam lingkup pariwisata.

Protokol kesehatan mesti diadopsi dalam seluruh penyelenggaraan kegiatan pariwisata, mulai dari moda transportasi, akomodasi, hingga operasional destinasi, termasuk regulasi baru soal jumlah pengunjung. Kita harapkan, aturan soal kuota wisatawan ini juga mendekatkan kita pada pengaturan daya dukung destinasi wisata yang lebih ideal untuk NTT.

Semoga pembahasan dalam buku ini bisa menjadi referensi bagi para pemangku kepentingan untuk mengembangkan pariwisata NTT ke arah yang lebih maju dan berkelanjutan. Kami yakin, NTT mampu menjadi destinasi kelas dunia andalan baru pariwisata Indonesia.

Disadur dari Buku “Kepariwisataan NTT Menuju Kelas Dunia” disusun oleh Sapta Nirwandar dan Frans Teguh

1. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, “Provinsi Nusa Tenggara dalam Angka 2019”, https://ntt.bps.go.id/publication/2019/08/16/daz7370117e4d0obsesonan/provinsi-nusa-tenggara-timur-dalam-angka-2019 html.(diakses pada 3 Mei 2020).

2 “Effects of Tourism and Foreign Travelers in Iceland According to Icelanders in 2018”,
https /wwwstatista.com/statistics/696890/effect-of-tourism-in-iceland/ (diakses pada 3 Mei 2020).