Mengulik Konsep Uru Sebagai Warisan Kearifan Lokal Masyarakat Maumere

0

Oleh: Djanuard Lj*

SPIRITUAL, Bulir.id – Flores merupakan daerah yang kaya akan budaya. Setiap suku memiliki kebudayan yang khas. Baik itu menyangkut cara pandang, seni dan lain-lain.

Maumere yang merupakan salah satu bagian dari Flores juga banyak memiliki warisan tradisi dan budaya. Namun banyak darinya tergerus oleh arus waktu.

Kini yang tersisa hanyalah sedikit puing yang boleh kita angkat. Salah satu puing warisan tersebut yang masih tersisa dan hampir punah adalah “Uru“.

Dalam tulisan ini, sayan mencoba mencari padanan arti Uru dalam bahasa Indonesia namun belum menemukannya. Sembari mencoba untuk membuka ruang diskusi dengan sahabat dari Jawa untuk menemukan horizon pemahaman yang lebih luas.

Uru dalam tradisi mereka juga sebenarnya ada dan itu mereka sebut sebagi “pagar“. Yang bermakna sesuatu yang diberi tanda khusus yang tak boleh diambil secara sembarangan, sama halnya dengan Uru.

Sekaligus juga sedikit menggali dari diskusi dengan beberapa tokoh sepuh dan sahabat yang paham dengan warisan budaya, memberanikan saya untuk mendefenisikan makna Uru tersebut.

Uru merupakan simbol larangan yang berbau mistis yang bertujuan untuk mengamakan sesuatu kepemilikan barang atau benda. Konsekuensi bagi yang melanggar uru akan mendapatkan berbagai macam efek sesuai dengan yang diinginkan oleh pawang uru.

Lazimnya Uru ditempatkan untuk menjaga tanaman atau barang agar tak dicuri atau dirusak oleh orang yang tak bertanggung jawab. Di setiap tanaman atau barang diberi tanda sesuai dengan maksud tertentu dari pawang Uru tersebut.

Peletakan Uru disertai dengan doa dan ritual khusus dan hanya dilakukan oleh orang pilihan atau pawang. Hal ini menunjukkan betapa sakralnya uru tersebut sehingga efeknya pun bedampak jerah bagi pelaku. Ada hal-hal gaib yang terkandung di dalam uru tersebut yang tak bisa dijelaskan dengan pemahaman modern.

Ada berbagai macam jenis Uru sekaligus efek jika yang melanggarnya, misalnya uru ro’ang (akan bertingkah seperti monyet bagi yang mengambil tanpa seizin pemilik) uru bowo (bengkak pada area tubuh tertentu), uru gatar (gatal) dan masih banyak lagi termasuk uru yang bisa menyebabkan hilangnya alat kelamin.

Setiap orang yang melanggar Uru (mengambil tanaman atau barang) tanpa seizin pemilik akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan tujuan uru tersebut.

Pada prinsipnya Uru memiliki manfaat, menjaga dan melindungi barang atau benda dari kepemilikan seseorang. Hal ini bermaksud agar setiap orang tidak sembarangan menerabas yang bukan menjadi haknya.

Namun terlepas dari itu semua, Uru memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat Maumere di jaman lampau. Uru semacan norma yang mengikat yang diyakini berdampak langsung pada yang melanggar.

Uru sebagai Norma

Uru sejatinya bagian dari norma adat istiadat menjadi tradisi yang berurat akar dalam masyarakat Maumere pada masa lampau. Sebab ia mengatur kepemilikan sesorang agar tak diterabas oleh orang lain.

Uru sebagai bentuk simbol larangan tak tertulis yang bila dilanggar akan mendapatkan hukuman tak langsung. Hukuman tersebut tidak bersifat hukuman fisik seperti berlaku pada hukum positif. Lebih dari itu ia lebih bersifat metafisis yang susah dinalar dengan akal sehat.

Memang hal itu tak bisa dibuktikan secara faktual namun masyarakat meyakini bahwa sebagaimana mengambil barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemilik adalah hal yang tak dibolehkan oleh norma adat istiadat. Hal itu akan mendatangkan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Selanjutnya Uru pada prinsipnya merupakan kerarifan lokal sebagai simbol karakter, kultur, interaksi, tradisi dan laku hidup manusia. Secara sosiologis, perkara Uru menjadi sebuah medium komunikasi, interaksi sosial dan karakter, bahwa ada sesuatu yang tak boleh diambil dari kepemilikan seseorang.

Tradisi ini mau mengajarkan kepada masyarakat untuk menerapkan prinsip-prinsip keadilan dan saling menghargai satu sama lain.

Ada hal yang menarik dalam konsep Uru bahwa orang selalu menghargai kepemilikan orang lain dan tak mengambilnya meski ditinggal pergi oleh pemiliknya tanpa perlu ada pengamanan khusus sebagaimana pada kehidupan modern, misanya menggunakan jasa pengaman. Kondisi semacam ini memungkinkan masyarakat hidup harmonis baik dengan sesama maupun dengan alam sekitar.

Kini sebagian besar masyarakat telah meninggalkan kearifan lokal tersebut sebab dianggap sudah kuno dan tak lagi relevan dengan zaman. Bagi mereka hal yang berbau mitos harus segera ditinggalkan dan diganti dengan budaya berpikir kritis untuk mengerti dan memahami realitas yang ada.

Sejatinya tak semua kearifan lokal itu kono dan tertinggal. Kearifan lokal membawa masyarakat menjadi lebih terta dalam tatanan harmonis dengan alam dan sesama. Nila-nilai positif yang diwarisakan dari kearifan lokal tersebut mestinya tetap dipegang erat oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Menenggelamkan warisan tradisi berarti menenggelamkan segala identitas diri kita. Jika identitas kita tenggelam maka tak akan lagi kebijaksanaan hidup yang tersisa untuk kita wariskan kepada anak cucu kita. Uru merupakan kebijaksanaan hidup yang perlu dihidupi dan diwariskan.

Sebagai orang muda yang berbudaya, kita semua memiliki tanggung jawab moral menuntun dan mengarahkan kebudayaan ke arah perkembangan yang wajar berdasarkan kriteria dan prinsip-prinsip tertentu agar tujuan kebudayaan dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia dapat tercapai.*


Djanuard Lj merupkan alumnus Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala Surabaya. Kini bekerja sebagai konten kreator dan penulis tetap di media online Bulir.id