“PENDEKAR MANGKRAK BERJAKET BIRU” oleh GERARD N BIBANG

0

Oleh Gerard N Bibang

Pendekar mangkrak berjaket biru
Turun gunung sambil mengamuk-ngamuk
Menyulut api memproklamasikan bumi hangus
Mendayung sampan di atas hamparan danau nan tenang
Menyangka danau itu tanpa buaya

Dari situ langkahnya menjelajah bukit Hambalang dan lembah-lembah hijau
Mengumpat siapa saja sebagai penabur debu dan pembuang kentut
Mendaraskan doa dengan mulut komat-kamit:
“semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah; semakin kita diperhinakan oleh manusia di bumi, semakin mulia posisi kita di langit “

Wahai pendekar mangkrak
Langitmu langit yang mana
Di bumi kaki berpijak
Di atas sana terbentang langit bukan tanpa nama
Ialah langit nusantara, rahim pendekar silat yang serba bisa
Yang laku tirakatnya luar biasa
Yang selalu memilih ngalah, ngalih daripada ngamuk tiada juntrungan
Yang mengandalkan kehendak Allah di setiap kemah berteduh
Memangkrak dan mendendam tiada sekali-kali datang berlabuh

Tiba-tiba dari laut lepas terdengar teriakan nyaring Chairil Anwar:
“Sekali berarti, sesudah itu mati!”
Pendekar mangkrak malu lalu melempar jaket biru ke bukit pasir yang kering
Saat itu senja makin meremang
Malaikat maut berkeliaran keluar masuk semak-semak, gang-gang, bukit, lembah dan hutan belantara nusantara
Pendekar-pendekar bayangan serta poti wolo mengendap-endap di antara tidur dan jaga
******

· Poti wolo, kata Manggarai di Flores Barat berarti setan
****
(gnb:tmn aries:jkt:minggu:18.9.2022).

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here