“Perbantahan di Saat Gundah” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

Tuhanku

Aku diciptakan menurut citra-MU
Mengapa ada manusia berwajah setan
Jika kutanyakan kepadaMu
Apa beda antara setan dan manusia?
Mungkin begini jawabMu: ooo, jelas amat berbeda
Meskipun makin tak berbeda
Meskipun makin mirip-mirip saja

Aku pun melantangkah perbantahan; jika segala sesuatu yang ada, baik, benar dan indah sejatinya; dari manakah datangnya kejahatan dan keburukan? Engkau kupercaya adalah Sang ADA, Pengada yang tidak diadakan; sedangkan aku yang hina dina ini adalah yang diadakan; tetap saja perbantahan dari mulutku terucap: dari-MU kah kejahatan dan keburukan itu? apa beda antara buruk dan baik? mungkin begini jawabMU: ooo, kau Kuberikn kebebasan; gunakanlah seturut apa yang KU-kehendaki; jika menurut mau-mu, baik dan jahat makin tak berbeda; meskipun makin mirip-mirip saja

Tuhanku aku percaya tak sekali pun
Engkau tak pernah berhenti ber-SABDA
Bukan hanya dalam kitab dan ayat-ayatnya
Bahkan di setiap butiran udara
Dalam bahasa yang aku punya
Aku sungguh percaya, Tuhanku
Aku yang tidak mau tahu
Tahu Engkau senantiasa ber-Sabda
Mata dan hatiku-lah yang makin buta

Aku disabdakan untuk berkembang biak dan mengembangkan dunia; sesudahnya disabdakan agar aku tiada lain hanya setia kepada-MU; mengumandangkan kemuliaan-MU hingga habis waktuku; tetap kulambungkan perbantahan; salahkah aku jika menumpuk angka, memimpikan jumlah dan membesarkan nama dan kuasa? terngiang sayup-sayup sampai sebuah suara: oohh semua yang kau sebutkan itu adalah sarana menuju yang sebenar-benanya ada ialah keabadian Cinta; ialah SATU, KEKAL, ALFA dan OMEGA, Sebab yang tak disebabkan, Sang ADA dari awal mula, kini dan sepanjang segala masa

Akhirnya perbantahanku hanyalah jembatan menuju-MU
Engkau-lah Sang ADA itu
SATU, tak terhitung oleh ilmu
Mengandung segala sesuatu
Dari dan kepada-MU aku datang dan menuju

***(gnb:tmn aries:jkt:kamis:3.3.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.