Prabowo Bertemu Surya Paloh, Apa yang Dibahas?

0

JAKARTA, Bulir.id – Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menyambangi Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh untuk melakukan pertemuan dan silaturahmi sekaligus makan siang bersama di DPP Kantor Partai Nasdem, Jakarta pada Rabu (1/6/2022) siang.

Pada pertemuan tersebut Prabowo didampingi oleh Ketua Harian Partai Sufmi Dasco Ahmad serta Sekretaris Jenderal Ahmad Muzani. Pertemuan tertutup tersebut berlangsung selama empat setengah jam.

Ketua umum Nasdem itu mengatakan pertemuan tersebut membicarakan hal-hal romantisme dan semangat persahabatan antara kedua partai. Isi pembicaraan juga tidak ada batasan tertentu.

Prabowo juga menyebutkan bahwa pertemuannya dengan Surya adalah pertemuan yang membahas hal romantisme dan penuh humor.

Menurut Menteri Pertahanan tersebut dirinya dan Paloh telah bersahabat baik selama 40 tahun. Dan pertemuan ini merupakan wujud silaturahmi antara kedua ketua umum partai politik.

“Kita bersahabat dan kita juga alumni Golkar. Alumni Golkar ada Pak Siswono senior saya di Golkar dan di KKTI. Kita istilahnya temu kangen sebetulnya,” kata Prabowo.

Prabowo mengaku bahwa keduanya memiliki hubungan batin dan kesamaan visi kebangsaan, serta komitmen kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Meskib keduanya memiliki kesamaan, Prabowo belum bisa memastikan akan berkoalisi dengan Nasdem pada Pemilu 2024 mendatang.

“Ya tapi kan beliau pemimpin partai, saya pemimpin partai. Kita kan nggak bisa bertindak karena kita teman, kita atur sendiri-sendiri, kan nggak bisa,” ucap Prabowo.

Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic) Ahmad Khoirul Umam menilai, pertemuan kedua tokoh tersebut terkait dengan agenda politik 2024.

Sebagaimana diketahui, pimpinan partai politik belakangan ini tengah rajin melakukan safari politik.

“Ini jelas bukan pertemuan seremonial. Besar kemungkinan terkait penjajakan koalisi menuju 2024,” kata Umam

Umam menjelaskan bahwa kedua tokoh tersebut memiliki kedekatan sebab pernah menjadi kader Partai Golkar hingga akhirnya sama-sama keluar untuk membentuk partai masing-masing.

Namun, meski dekat dan ada indikasi melakukan pertemuan terkait agenda politik, menurut Umam, kecil kemungkinan kedua partai berkoalisi.*