“Rindu Mengurung Badai” oleh Gerard N Bibang

0

RINDU MENGURUNG BADAI

apabila rindu datang kembali
aku seperti dengar tangis di saat lengang
mulutku terkatup oleh sunyi segala sunyi
rindu menyeruak dalam bening jiwa

inilah yang mencegatku di ujung jalan
yang membuatku bertahan dalam derita dan keasingan
yang mencegatku dari lakon-lakon cilukba
dari sandiwara jagat tanpa bentuk tanpa warna

rindu memang selalu mengurung badai
maka di atas jalan sunyi
langkahku tiada pernah terhenti

TETAP SAJA BIRU

sejak kupandang langit, tetap saja ia biru
padahal kini senja kian temaram
waktu terus berpacu tanpa menggerus kalbu
rinduku padamu seperti sejak pertama kali kita berjumpa
tetap saja biru, membisu
dalam diam, deras bergemuruh

saat suaraku tertimbun busa laut
bercampur dengan ludah bisu
kuketuk kerinduan dengan gemetar
tatkala senyummu terbayang-bayang
tersiraplah darahku ke dinding-dinding raga

TIADA HILANG

dalam rinduku
tak kuingat lagi berapa lama aku mencarimu
di atas jalan sunyi
kugapai impian sanubari
ialah menyaksikan langit terbelah oleh keajaiban cinta kita
dan dari tengah-tengahnya turun kertas kumal
bertuliskan cinta yang hanya diakhiri oleh kematian

di depan mata, kutatap bayang-bayangmu
berlari tiba-tiba hilang membuatku termangu
maka aku ingin kembali ke hari-hari silam
kususuri setiap bekas-bekas jejak langkah kita
membercak lumpur di bawah pohon-pohon dan rumah tua
menggoreskan sukma tiada pernah hilang
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu:19.10.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.