Rupa Tuhan dan Valentine’s Day

0

Utama, BULIR.ID – “Hari kasih sayang” (Valentine’s Day) kali ini jatuh di hari minggu. Konon sumber segenap kasih adalah Allah; karena Allah adalah kasih. Namun, bagaimana kita dapat mengenal “evidensi” tentang Allah? Bukankah Allah tidak dapat dilihat dan disentuh?

Ada sekurang-kurangnya tiga cara mengenal sesuatu. Pertama, melalui pengalaman pribadi. Kedua, melalui melalui tulisan atau “buku”. Ketiga, melalui “kesaksian”.

Demikian juga halnya pengenalan akan Allah. Kita bisa mengenal Tuhan lewat (1) pengalaman pribadi, (2) melalui “buku” atau “kitab”, dan (3) melalui “kesaksian” orang-orang yang dapat dipercaya.

Pertama, dalam pengalaman pribadi, pada umumnya terdapat semacam intuisi rohani tentang sesuatu yang transenden, yang melebihi manusia. Intuisi ini sudah setua sejarah manusia, sebelum muncul pengaruh empirisme dan sekularisme modern Eropa dengan narasi berbeda. Intuisi ini salah satunya dapat dirujuk dalam apa yang Bernard Lonergan sebut sebagai “aktus kasih tak terbatas” (unrestricted act of love) dalam hati manusia.

Tentu manusia umumnya lekas marah dengan rasa kasih yang terbatas, namun tetap ada rasa kasih tak terbatas seperti “agape” dalam hati, yang pasti tidak bersumber dari manusia, namun menunjuk pada sesuatu yang tak terbatas yang bekerja dalam hati manusia. Pengalaman “kasih tak terbatas” dalam hati ini, dalam sejarah menjadi salah satu sumber pengalaman pribadi akan Allah.

Tentu saja, pengalaman pribadi biasanya kurang teruji, dan dalam sejarah sering kurang akurat. Boleh jadi ada yang karena “rasa” tertentu, kemudian menganggap dirinya penjelmaan Kristus. Pengalaman pribadi yang benar biasanya selalu dalam kesatuan dengan tradisi pewahyuan yang sudah terendap dalam lintasan sejarah dengan pelbagai “evidensi”.

Kedua, orang bisa mengenal Tuhan melalui manifestasi “kasih-Nya” yang “ditulis” dalam “buku” atau “kitab”. Ada dua “buku” atau “kitab” dalam hubungan dengan pengenalan akan Tuhan; yaitu “kitab alam” dan “Kitab Suci”.

Dalam “kitab alam”, kitab mengenal Tuhan melalui hukum “sebab akibat” dari alam. Tentu saja secara natural, mengenal langsung Tuhan melalui alam tidak mungkin, karena Tuhan sendiri melampaui alam sebagai yang “supra-natural”.

Kita seakan ikan yang hidup dalam dimensi air, namun Tuhan “ada” dalam dimensi yang berbeda, misalnya dimensi “daratan” yang sama sekali di luar dimensi hidup ikan.

Namun, kita dapat mengenal Tuhan dengan menarik hubungan “sebab akibat” natural. Sebagai contoh, jika ada makanan di atas meja, maka kita dapat pastikan secara natural bahwa ada yang meletakkannya. Tidak dapat dibayangkan bahwa makanan “kebetulan” saja ada di atas meja, tanpa sebab apapun.

Demikian pula, alam seakan “buku” atau “kitab” terbuka yang menunjuk pada “penyebab” tertentu, yang secara filosofis sejak zaman Yunani dinamakan sebagai “Logos”, “Causa Prima”, dan seterusnya, dan kemudian secara religius dinamakan Allah.

Ada yang berargumentasi bahwa semesta disebabkan oleh ledakan besar atau “Big Bang”. Namun, “Big Bang” adalah salah satu teori yang menjelaskan “proses” terbentuknya galaksi dan meluasnya semesta, bukan “asal usul” partikel-partikel semesta.

Jika ada novel yang berisi cerita tentang peperangan, maka kita tidak dapat katakan bahwa novel ada begitu saja, atau “kebetulan” ada, tanpa “pengarang”. Atau jika ada balon yang ditiup sampai meledak, kita tidak dapat katakan bahwa sebab menggelembungnya balon sampai meledak itu adalah balon sendiri, namun kita bisa menarik kesimpulan yang pasti bahwa pasti ada “peniup balon”.

Dengan ini, kalau ada “Big Bang”, sebagai salah satu proses meledaknya gas yang sangat padat pada awal semesta, maka mesti ada pencipta dari partikel-partikel padat yang menghasilkan ledakan itu.

Dengan kata lain, jika ada “Big Bang”, maka mesti ada “Big Banger”. Atau jika “Big Banger” dianggap sebagai sebab semesta yang ada, tentu ia bukanlah “sebab dari segala sebab” atau “sebab terakhir” semesta, karena segenap unsur gas padat yang menjadi sebab “Big Bang” itu sudah ada sebelum “Big Bang”, dan unsur-unsur itu tidak mungkin lahir dari kekosongan.

Unsur gas padat itu pasti disebabkan oleh sebab yang lain, dan secara logis sebagaimana dipaparkan Aristoteles dan St. Thomas Aquinas, bahwa kita tidak dapat membayangkan suatu sebab tanpa akhir dari semesta; mesti ada “sebab terakhir” di mana semua sebab-sebab sekunder berasal.

Banyak argumentasi ilmuwan empiris ternama yang mengacaukan “proses” dengan “sebab terakhir”. Ada ahli biologi yang dengan yakin katakan bahwa segenap makhluk hidup berasal dari protozoa. Namun, jika protozoa ada, maka soalnya ialah “dari mana protozoa”?

Komputer yang secanggih-canggihnya, mungkin di masa depan antah berantah akan mampu menciptkan kehidupan dengan memanipulasi unsur-unsur protozoa atau unsur-unsur kehidupan yang sudah ada menjadi makhluk hidup yang lain. Namun, tetap tidak bisa dibayangkan komputer menciptakan sesuatu dari ketiadaan.

Kreasi manusia selalu berasal dari materia yang sudah ada, namun mesti ada yang mengkreasikan sesuatu dari ketiadaan, yang secara filosofis disebut “Sebab Pertama” (Causa Prima) dan secara religius (dengan pengalaman wahyu) dikenal sebagai “Allah”.

Atau ada ilmuwan syaraf yang menyelidiki otak manusia, dan menemukan bahwa ide Tuhan berasal dari salah satu bagian otak. Tentu yang bisa dilihat adalah gerakan neuron tertentu pada bagian otak saat orang berpikir tentang Tuhan.

Namun, manakala ia membuat kesimpulan filosofis atau teologis bahwa karena ada bagian syaraf yang bergerak saat orang berpikir tentang Tuhan maka eksistensi Tuhan berasal dari syaraf tertentu di otak, maka ini tentu kesimpulan yang lucu, walau berasal dari ilmuwan sekelas Hawkings, misalnya.

Bahwa ada otak yang berpikir tentang Tuhan, namun asal pikiran itu berasal dari evidensi hukum sebab akibat semesta, sehingga ada otak atau tidak, ada pikiran yang berpikir tentang Allah atau tidak, tetap alam semesta ada, dan alam semesta yang sudah ada ini mesti punya sebab dari adanya.

Jadi, “adanya” Tuhan tidak ada hubungannya dengan neuron-neuron yang dilihat komputer, walau pikiran tentang Tuhan dalam diri seorang manusia tentu berlangsung dalam bagian otak tertentu.

Dengan ini seseorang mungkin saja ahli ilmu alam, namun ia boleh jadi hanyalah filsuf dan teolog amatir. Kita sebaiknya tidak percaya kepada kesimpulan filsuf dan teolog amatir tentang Allah, hanya karena ia ahli fisika, sama seperti kita sebaiknya tidak terlalu percaya akan nasihat mengenai soal rumah tangga, pada seorang yang tidak pernah menikah dan tidak pernah mencari tahu atau peduli tentang hidup berkeluarga, hanya karena ia jago bermain catur.

Ia tentu ahli catur, namun dalam hubungan dengan soal keluarga, ia adalah seorang amatir. Hawkings mungkin ahli fisika, namun ia filsuf dan teolog amatir; sehingga kita percaya kepadanya dalam soal fisika, bukan pada soal hukum sebab akibat filosofis.

Tentu saja Hawking jenius dalam soal ilmu alam, namun banyak teolog dan ahli filsafat yang tidak kalah cerdas (atau mungkin lebih cerdas) dari Hawkings, yang membaktikan hidupnya hanya untuk menyelidiki kebenaran “evidensi” wahyu, dan kita kiranya mendengarkan orang yang menghabiskan hidupnya menyelidiki kebenaran wahyu, bukannya orang yang tidak peduli tentang wahyu namun membuat kesimpulan filosofis dan teologis, hanya karena ia ahli ilmu empiris. Tentu dua kategori yang berbeda.

Selanjutnya, kaum ateis mengkritik bahwa jika Tuhan menyebabkan semesta, maka apa yang menyebabkan Tuhan? Tentu saja kritik seperti ini jadi tanda kebingungan akan maksud term yang dipakai. Jika sesuatu dikatakan “sebab terakhir”, maka dari defenisinya berarti bahwa ia sudah penuh dalam dirinya sendiri, tidak mungkin disebabkan lagi oleh yang lain.

Kalau Tuhan mesti juga disebabkan oleh yang lain, maka Ia jadi “sebab sekunder” belaka dan bukan lagi “sebab pertama”, dan dari defenisinya, Ia bukan lagi Tuhan yang dimaksudkan kaum teis.

Jadi, manakala kaum beragama (teis) bicara tentang Tuhan sebagai “sebab pertama”, di pikiran kaum ateis terbayang Tuhan sebagai “sebab sekunder”, dan mereka mengkritik kaum beragama sebagai irasional, padahal mereka sendiri gagal memahami logika dan term sederhana “sebab pertama” yang dimaksudkan kaum teis.

Dalam kebudayaan sekular, irasionalitas mereka diglorifikasi sedemikian rupa sebagai tanda rasionalitas, karena didukung oleh propaganda media dan pengaruh para profesor ilmu empiris ternama di universitas.

Selain “kitab alam”, terdapat pula kitab kedua yaitu “Kitab Suci”. Melalui “kitab alam”, Tuhan hanya bisa diraba-raba “ada-Nya”, tanpa tahu “siapakah” Dia. Namun, dalam sejarah konkret, Tuhan sendiri telah memperkenalkan diri tentang “pribadinya”, bukan kepada para filsuf, namun kepada para nabi.

Perkenalan atau penampakan diri Tuhan ini disebut “wahyu”, dan “wahyu” Tuhan datang dalam sejarah bukan kepada Sokrates, melainkan sejak Abraham, dan puncaknya ialah “Allah yang menjelma” yaitu Kristus. Kisah tentang wahyu ini, dengan inspirasi Roh Kudus ditulis dalam bahasa manusia yang terbatas dalam “Kitab Suci”.

Dengan demikian, jika melalui “kitab alam” orang hanya bisa mengatakan bahwa “Allah ada”, maka dalam “wahyu” yang ditulis dalam “Kitab Suci” orang dapat mengetahui bahwa “Allah ada dalam cara tertentu”; melalui semak yang terbakar, melalui tiang awan, yang berpuncak dalam pribadi Yesus (yang disembah malekat dan diwartakan para nabi).

Ketiga, selain melalui dua “kitab” di atas, Allah juga hadir dan mengungkapkan “kasih-nya” melalui “kesaksian” orang-orang terpercaya. Tentu saja, Kitab Suci sendiri berisi kesaksian iman, namun ada kesaksian iman yang berasal dari orang-orang yang “dekat” dan mencari Tuhan selama hidupnya, yaitu “kesaksian Para Kudus”.

Orang Kudus bukan sekadar orang baik, karena banyak orang baik dalam Gereja yang tidak secara otomatis digelari kudus. Salah satu syarat penting menentukan kekudusan seseorang adalah “tanda supranatural” yang terjadi jika kita meminta bantuan doa mereka, yaitu “mujizat”.

Mujizat sendiri merupakan kejadian yang tidak bisa dijelaskan secara alamiah, namun hal tersebut nyata dan terjadi, dalam verifikasi ilmuwan sekular juga. Orang tidak dapat katakan bahwa mujizat tidak ada, karena memang kenyataannya ada, namun hanya bisa jelaskan bahwa seturut kejadian alamiah yang biasa, maka hal tertentu tidak bisa dijelaskan secara rasional, karena memang mujizat bukan bersifat irasional melainkan bersifat arasional; artinya melampaui penjelasan natural karena bersifat supranatural; “melampaui” yang natural.

Dengan ini, kesaksian para kudus melalui pengalaman hidup mereka menunjukkan bahwa Allah “ada” dan terus berkarya dalam sejarah. Pelbagai mujizat Ekaristi, misalnya, di mana roti berubah menjadi daging manusia dengan DNA yang sama dalam tiap kasus, menunjukkan hadirnya Kristus dalam sejarah.

Ada ribuan orang Kudus dalam Gereja, dan ada ribuan mujizat yang sudah diselidiki, yang menunjukkan bahwa hal supranatural atau Allah dipercayai dan disembah para kudus selama hidup mereka sungguh ada.

Tentu saja Ada banyak mujizat palsu, dan Gereja sangat hati-hati menyelidiki sebuah “mujizat”, sebelum menentukan otentisitas dari sesuatu agar pantas disebut “mujizat”. “Mujizat” juga tidak pernah menjadi andalan Gereja dalam membuktikan kebenaran iman, karena mujizat biasanya tidak menambah sesuatu yang baru dalam kebenaran iman, hanya menjadi tanda yang memperteguh iman belaka.

Selain itu, iman sejati justru diuji dalam salib, ketidakpastian dan penderitaan, bukan melalui kepercayaan akan mujizat. Saya bisa mengenal seorang sahabat sejati, justru melalui komitmennya terhadap saya dalam penderitaan saya. Demikian pula, iman seseorang lebih teruji dalam banyak hal yang tidak pasti dan dalam salib, bukan terutama dalam kisah mujizat.

Kesaksian dan mujizat sering hanya menjadi alasan proses beatifikasi, bukan menjadi andalan dalam narasi iman. Namun, di sini hanya dipaparkan sebagai salah satu hal yang kiranya bisa dijadikan bahan pertimbangan akan kebenaran iman; bahwa Allah ada.

Selain kesaksian para kudus, terdapat juga kesaksian pribadi orang beriman tentang pengalaman akan Allah. Tentu saja kesaksian pribadi ini bisa otentik dan palsu, dan untuk diterima sebagai kebenaran resmi dalam Gereja, butuh proses dan penyelidikan yang ketat dan serius. Namun, tetap ada juga kesaksian yang walau belum diterima Gereja, namun dianggap otentik, apalagi dialami oleh beberapa orang secara serentak.

Semua evidensi tersebut menunjukkan bahwa Allah ada dan mengasihi manusia. Namun, tentu saja kepercayaan akan Allah diragukan dari masa ke masa, bukan karena tiadanya “evidensi” tentang adanya Tuhan, namun sebagian disebabkan oleh perilaku kaum beragama yang sama sekali berbeda dengan narasi otentik atau “wahyu” historis tentang Tuhan.

Jika sifat Allah adalah pengasih dan mengasihi manusia dalam pelbagai cara, para penyembahnya justru jauh dari sifat Allah dan mengabaikan sifat hakiki-Nya yaitu “kasih”.

Dengan ini tugas kaum beragama ialah mengekspresikan Tuhan dalam perilaku yang baik sebagaimana “wahyu” historis. Jika perilaku kaum beragama bertentangan dengan-Nya, agama akan kehilangan rohnya, dan Allah yang transenden jadi tampak seperti berhala imanen yang dianggap irelevan atau irasional.

Selamat hari Valentin(us).

Sumber: FanPage Dunia Filsafat-Ledalero dengan judul “Mengenal Allah”, penulis: P. Silvester Ule, SVD dan dipost atas izin admin fanpage.