Selibat atau Sembelit (Membaca Tanda-Tanda Zaman)

0

FR. YORAN

 

SPIRITUAL, Bulir.id – Selibat merupakan salah satu cara hidup unik yang diakui oleh Gereja. Selibat umumnya merujuk pada cara hidup suci atau kekudusan. Dasarnya adalah cara hidup Yesus sendiri. Ia rela meninggalkan singgasana Ilahi-Nya demi persekutuan-Nya dengan manusia. Ia menjadi miskin seperti manusia. Ia bahkan rela mengorbanan diri-Nya demi keselamatan manusia. Namun demikian, Ia tetap mempertahankan kemurnian-Nya.

Gambaran hidup Yesus itu telah direkam dan dicatat dengan baik oleh para evangelist. Mereka menjelaskan bahwa komitment atau ketaatan Yesus kepada Bapa telah ia tunjukkan lewat cara hidup-Nya yang sahaja. Meski Ia seorang Raja, namun Ia tidak segan-segan untuk duduk makan bersama para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, Ia menyembuhkan orang-orang sakit, serta mencerahkan orang-orang bodoh melalui ajaran-ajaran-Nya.

Kitab suci menggambarkan bahwa cara hidup semacam itu (hidup murni, taat dan miskin) merupakan sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Itu merupakan wujud cinta yang paling konkrit. Landasan dasarnya adalah Injil Markus 12: 29 yang berisi nas mengenai hukum yang paling utama, yaitu “Dengarlah hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan kasihilah sesamamu manusia.”

Yesus memposisikan hukum mencintai Allah dan sesama ini sebagai yang paling utama. Mencintai Allah tidak pernah dibenarkan jika hanya setengah-setengah. Mencintai Allah harus penuh dan konkret. Mencintai sesama manusiapun demikian. Ia harus penuh dan konkret. Karena itu, untuk menjawabi dan memenuhi syarat mutlak hukum utama ini secara penuh, tidak ada cara lain selain memilih untuk hidup selibat; untuk Tuhan dan sesame.

Hidup selibat merupakkan jawaban atas kerinduan yang bersifat adikodrati dalam diri manusia. Karena itu, dengan penuh kesadaran, tanpa desakan dari orang lain dan atas pilihan bebasnya, manusia memilih untuk hidup selibat. Ini merupakan sebuah panggilan yang amat luhur. Keluhuran inilah yang menghendaki mereka untuk hidup taat (setiap orang yang mau mengikuti aku harus memikul salibnya), hidup murni (menyangkal dirinya) dan hidup miskin (pulanglah juallah semua harta milikmu).

Penekanan utama dalam hidup selibat adalah kemurnian (chastity), ketaatan (obedience), dan kemiskinan (poverty). Tujuan utama menghayati kemurnian, ketaatan, dan kemiskinan ini adalah untuk mencapai kerajaan Surga (Matius 12:19).

Namun apesnya, akhir-akhir ini, cara hidup semacam ini sedang mengalami tantangan yang cukup serius. Hal ini diafirmasi oleh Pater John Prior. Dalam bukunya yang berjudul “Menafsir Tanda Zaman: Hasta Harapan” dia mengatakan bahwa skandal dikalangan kaum selibat merupakan persoalan yang cukup serius yang dihadapi Gereja saat ini. Skandal-skandal yang telah mereka lakukan kini telah menjadi isu dan gosip di banyak tempat.

Hal ini memang benar adanya. Karena di Flores sendiri misalnya, dalam amatan penulis, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, tak sedikit kaum selibat yang terlibat dalam praktik hidup yang menyimpang dari janji mereka: sebagian terlibat dalam skandal seksual dan sebagian lagi terlibat dalam kasus korupsi.

Dengan realitas ini, kita melihat bahwa panggilan hidup selibat memang mengalami kemerosotan yang sangat tajam. Selibat yang seharusnya ketat dengan nilai-nilai moral kini menunjukkan hal yang sangat terbalik (menjadi sembelit; istilah dipakai penulis untuk mengagambarkan sesuatu yang paradox). Ideal tentang hidup selibat mengalami kekaburan makna. Selibat, dengan demikian berubah menjadi sembelit tatkala kemurnian yang harus dijaga dirusakan dan penghayatan terhadap nilai-nilainya diabaikan begitu saja.

Selibat menjadi sembelit tatkala kaum selibat tercebur dengan bebas ke dunia tanpa mengingat identitas. Selibat juga menjadi sembelit tatkala kaum selibat terlalu banyak melahirkan masalah, baik dalam hidup berkomunitas maupun di tengah hidup mengumat.

Karena itu, saat ini, agaknya sangat sulit menghayati hidup selibat secara total karena banyak kaum selibat yang tidak setia. Banyak yang meninggalkan jubah dan memilih menjadi sembelit. Jubah yang sebenarnya merupakan identitas kini menjadi sembelit yang tak barmakna sama sekali.

Persoalan sembelit adalah tantangan kita bersama. Tidak hanya tantangan bagi kaum hidup selibat tetapi juga tantangan bagi umat, sebab masalah yang dihadapi oleh kaum selibat juga merupakan masalah umat karena itu merupakan masalah Gereja. Pertanyaan menjadi selibat atau sembelit adalah pertanyaan serius yang harus dijawab oleh masing-masing kita, serentak menjadi tantangan paling berat yang mesti kita hadapi.*


Fr. Yoran merupakan  salah satu alumnus IFTK Ledalero sekaligus calon imam Rogationis Maumere.