SEPENGGAL SENJA SELALEJO

0

oleh Gerard N Bibang*)

Waktu menapaki tanah Selalejo
Amat perlahan di jalanan-jalanan Nagekeo
Setiap hari mengukir sepenggal senja
Waktu pengin tinggal abadi padanya
Waktu tak akan pergi darinya

Ada bagian darinya yang sedang memasuki senja
Dan siap tenggelam dalam kegelapan malam
Ada bagian yang sedang memancarkan kepulan asap di kejauhan
Di puncak Ebu Lobo yang selalu memijarkan bara api
Dari mulutnya meleleh lahar panas dan lahar dingin
Mengantarkan waktu dengan matahari baru di fajar hari
Selalejo tak kentara sedang menata kebangkitan
Sejengkal bumi penuh harapan

Di atas jalanan-jalanan desa
Orang-orang Selalejo menapaki jalan sunyi
Dengan Rosario dan tasbih di tangan
Mereka bergumam sambil mulut komat-kamit:

“jadikan aku ya Tuhan, bagian dari api yang membakar matahari
yang beredar membuka fajar hari
agar sebelum tiba hariku nanti
aku bisa membedakan mana semburan palsu
mana api yang sejati
hingga akhirlah waktuku”

Senja Selalejo senantiasa mengulangi sumpah cintanya
Jika dari mulut anak-anaknya ia cium bau harum karena kemuliaan hati mereka
Maka dijunjungnya mereka menggapai Pencipta semesta alam
Jika dari badan mereka ia hirup bau busuk karena ambisi dan keserakahan
Maka usia mereka menjadi sampah
ia campakkan mereka ke ruang-ruang kehinaan
*(gnb:tmn aries:jkt:selasa:1.11.22)