Ternyata Begini Fakta Museum Bikon Blewut, Ungkap Jejak Langkah Peradaban Masyarakat Flores

0

MAUMERE, Bulir.id – Museum Bikon Blewut merupakan museum terbesar dengan koleksi benda-benda peninggalan purbakala terlengkap di Flores bahkan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kata Bikon artinya lampau dan Blewut artinya rusak. Bikon Blewut mempunyai makna sisa-sisa peninggalan masa lampau.

Nama Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam versi Krowe Sikka yang berbunyi:

Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong ian Tana Lero Wulaan

Sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan diangkasa mencipta bumi, matahari dan bulan.

Musemun Bikon Blewut diketahui dikelola oleh Serikat Sabda Allah (SVD) terletak di atas bukit Sandar Matahari (Ledalero), Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka.

Sejak kedatangan para misionaris Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD) ke Flores pada awal abad ke-19, mereka telah mengumpulkan berbagai benda budaya masyarakat Flores untuk dilestarikan.

Para misionaris juga merupakan ahli sejarah, bahasa, dan kebudayaan, seperti Paul Arndt, Theodore Verhoeven, Guisinde, Jilis Verheljen dan Paul Schebesta.

Penelitian yang mereka lakukan dipublikasikan di jurnal ilmiah Anthropos, jurnal yang didirikan pada 1906 di Austria. Benda-benda hasil penelitian mereka inilah yang kemudian menjadi koleksi Museum ‘Bikon Blewut’, museum yang didirikan oleh Verhoeven pada 1965.

Museum Bilon Blewut menyimpan beberapa koleksi alat-alat kebudayaan dari era paleolitikum, mesolitikum, neolitikum, hingga zaman perunggu. Selain koleksi alat-alat kebudayaan, museum ini juga menyimpan fosil fauna dan flora dan koleksi seni budaya masyarakat Flores dan NTT pada era kontemporer.

Semua koleksi tersebut dikumpulkan sejak tahun 1965 oleh Pater Verhoeven, misionaris Ordo SVD yang memiliki minat di bidang etnologi, linguistik dan antropologi budaya setempat.

Pelestarian benda-benda purbakala dan koleksi lainnya itu kemudian dilanjutkan oleh Pater Piet Petu yang merupakan imam pribumi yang memiliki ketertarikan dibidang tersebut. Sehingga pada tahun 80-an dan kemudian menjadi kepala museum dari tahun 1983 sampai 1999.

Museum Bikon Blewut tak bisa dipisahkan dari nama Dr. Theodor Verhoeven SVD, misionaris SVD (1949-1967) ke Flores dan ahli etnolinguistik tamatan Universitas Utrecht Nederland, karena sebahagian besar koleksi-koleksi utama museum ini adalah hasil penggaliannya dan penemuannya yang spektakuler.

Dimulai dari penemuan alat-alat kebudayaan neolitik, penemuan kebudayaan flake dan blade, penemuan kebudayaan dongson, penemuan dibidang paleoantropologis, penemuan dibidang paleoontologis dan penemuan alat-alat lower paleolitik, yang berlangsung dari tahun 1950 sampai dengan 1960.

Museum bikon blewut berpotensi dijadikan sebagai sarana untuk menguatkan kesadaran masyarakat tentang kekayaan sumberdaya alam dan sumber daya budaya yang kita miliki.

Jangan lewatkan destinasi wisata ini bila anda hendak mengunjungi dan menikmati keindahan alam Pulau Flores. Musum Bikon Blewut menjadi salah satu tujuan yag harus perlu anda kunjungi, sebab disana menyimpan keberabagaman peninggalan purbakala.

Museum Bikon Blewut terletak 10 km dari arah kota Maumere yang berada di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT)*