“Tersambar Suara Kekasih” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

TERSAMAR SUARA KEKASIH

memang bukan hak-ku untuk bertanya
mengapa pesan Tuhan hanya remang-remang
tapi sudahlah, kataku kepada diriku sendiri
aku mau tidur, sebenar-benarnya tidur, jangan diganggu
tapi Tuhan: kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali?
aku mau tidur seperti itu

gagal ilmu gagal paham berkepanjangan
akibat cinta diyakini hanya sebatas raga
pantaslah jika pesan Tuhan hanya remang-remang
nun jauh dari seberang sana hatiku mendengar tersamar suara kekasih: “kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa; percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya; dan, laki-laki pada umumnya mengucapkan kata-kata yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan menurut takaran kemauannya”

oh ya, baru aku sadar; aku sudah mengecap segala yang manis-manis dari cinta bersamanya; tetapi, manis hanyalah manis dan kenyataan hidup adalah bau yang lain lagi, rupanya

tapi aku tahu kekasihku ada; sejauh ia ada, maka cinta itu ada; maka kuurungkan niatku untuk meyakini bahwa tidur lebih baik dari segala sesuatu; untuk berandai-andai kalau saja ada tidur yang terbebas dari kenyang dan lapar, yah, aku mau itu; untuk berandai-andai kalau saja ada kamar, sekecil apapun, yang memberiku tidur yang sekekal-kekalnya, aku mau itu

aku bukan manusia pengandai-andai
tidurku adalah energi jiwa menjemput mentari pagi
cinta kami telah menjelma matahari
*(gnb:tmn aries:jkt:kamis:17.2.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta