Tetap CERIA di Hadapan Bencana

0

Oleh Reza A.A Wattimena*) 

Bencana bukanlah hal baru di dalam hidup manusia. Bencana juga bukan hal baru bagi bumi ini.

Sebenarnya, tidak ada yang disebut bencana. Itu hanyalah konsep yang dibuat oleh manusia.

Bumi hanya bergerak dan berubah. Ia hanya mengikuti hukum-hukum alam sebagaimana adanya.

Bumi dan Kepunahan Massal

Bumi sendiri sudah mengalami lima bencana besar, atau apa yang disebut sebagai kepunahan massal. Yang pertama terjadi pada 440 juta tahun yang lalu, dan yang terakhir terjadi pada 65 juta tahun yang lalu.

Sekitar 500 juta tahun terakhir, 99% spesies yang pernah hidup di bumi sudah punah. Dari abu kehancuran yang ada, spesies baru lahir, dan bertumbuh.

Sekitar 65 juta tahun yang lalu, sebuah asteroid raksasa menghantam perairan Meksiko dengan kecepatan 73.000 km per jam. Hasilnya adalah lubang besar yang melepaskan debu dan sulfur ke langit, sehingga seluruh dunia menjadi gelap dan dingin. (Greshko, 2019)

Ini adalah awal dari kehancuran massal yang kelima, yang menghancurkan dinosaurus pada masa itu. Dari puing-puing kehancuran yang ada, burung dan mamalia berkembang, serta menjadi manusia jutaan tahun kemudian melalui proses evolusi.

Bencana selalu bergandengan dengan kehidupan. Kehancuran selalu bergandengan dengan penciptaan.

Maka, bencana bukanlah berita baru. Kita hanya perlu memperluas wawasan, sehingga bisa menanggapinya secara tenang dan jernih.

Artikel Menarik Lainnya:   Nasib Vaksin Nusantara Di Ujung Tanduk, Menkes Angkat Bicara

Menyingkapi dengan Jernih

Bagaimana menyingkapi bencana dengan jernih? Inilah pertanyaan terpenting yang mesti kita jawab sekarang ini, terutama menanggapi kegagalan pemerintah di dalam menangai pandemi COVID 19 di 2021 ini.

Kunci menanggapi bencana bukan semata kecerdasan, tetapi kesadaran. Ini berarti menyadari diri kita sebagai kesadaran murni yang melingkupi alam semesta.

Diri kita yang asli berada sebelum identitas sosial. Ia satu dan sama dengan seluruh alam semesta.

Saat ke saat, kesadaran semacam ini perlu dirawat. Ia adalah keadaan batin alami (original and natural state of mind) kita sebagai manusia.

CERIA

Saya menyebutnya sebagai CERIA, yakni constantly endlessly rest in awareness. Dalam bahasa Indonesia: selalu tanpa henti beristirahat dalam kesadaran.

Ketenangan dan kedamaian batin akan muncul. Batin kita melampaui derita dan bahagia yang biasa dialami manusia.

Kejernihan pun akan muncul. Kita akan bisa melihat tantangan sebagaimana adanya, tanpa rasa takut ataupun cemas berlebihan.

Kita perlu terus memelihara CERIA ini. Jika gagal, dan hanyut dalam pikiran maupun emosi, kita hanya perlu kembali ke saat ini lewat napas, suara, rasa ataupun mantra yang kita punya. Ini harus dilatih seumur hidup, tanpa henti.

Artikel Menarik Lainnya:   "Kenangan Berlabuh" Pusi Karya Gerard N Bibang

Kejernihan CERIA ini adalah inti dari segala aliran spiritual dunia. Ia bisa disebut juga sebagai pencerahan, atau pembebasan.

Pengalaman Langsung

Saat ke saat, semua pengalaman hidup manusia dialami secara langsung. Tidak ada lagi penilaian baik buruk, benar salah, suka atau tidak suka.

Semua dialami sebagaimana adanya dengan penerimaan tanpa syarat. Hidup pun menjadi ringan dari saat ke saat, karena tidak dibebani oleh penilaian yang berlebihan.

Kita lalu bisa bertindak sesuai dengan keadaan. Inilah kebijaksanaan yang sesungguhnya, yakni kebijaksanaan yang lahir dari batin yang alami, bukan dari moral tradisional yang sudah ketinggalan jaman.

Kita lalu menjadi manusia tercerahkan yang terlibat sepenuhnya dengan pergulatan dunia. Ada waktunya bersikap keras dan marah, serta ada waktunya bersikap lembut dan sabar. Semua pada waktunya.

Menyingkapi Kegagalan Pemerintah

Di Indonesia, pandemi adalah bagian dari bencana. Ia tidak menyebabkan kepunahan massal.

Ia hanya menciptakan rasa takut dan kemiskinan besar, akibat kebijakan pemerintahan Indonesia yang kacau dan merusak. Pandemi hanya perlu dilihat sebagaimana adanya, dan tidak ditanggapi berlebihan, seperti yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia.

Yang sakit diobati sesuai gejala. Yang tidak sakit dihimbau untuk mematuhi protokol kesehatan. Jangan berlebihan, misalnya dengan menutup transportasi, melarang orang bekerja, mengancam rakyat, meneror rakyat dan mempermiskin rakyat.

Artikel Menarik Lainnya:   Duri di dalam Daging

Kebijakan-kebijakan semacam itu hanya akan membuat rakyat marah. Jika ini terus terjadi, rakyat akan protes.

Jalan-jalan demokratis yang damai akan ditempuh untuk menyalurkan protes. Namun, jika ini tetap didiamkan, rakyat akan bergerak melawan.

Revolusi berdarah bisa terjadi. Jangan sampai kita bergerak ke titik ini.

Maka, mari belajar untuk CERIA setiap saat, supaya kita menemukan kejernihan di dalam hidup ini, dan bisa menanggapi berbagai bencana dengan jernih serta cerdas. Justru di tengah bencana yang mencekik jiwa, kita perlu semakin CERIA.

Jangan ditunda lagi!

Reza A.A Wattimena

*)Penulis adalah Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Beliau merupakan Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman. Reza juga tercatat sebagai penulis sejumlah buku antara lain: Menjadi Pemimpin Sejati (2012), Filsafat Anti Korupsi (2012), Tentang Manusia (2016), Filsafat dan Sains (2008), Zen dan Jalan Pembebasan (2017-2018), Melampaui Negara Hukum Klasik (2007), Demokrasi: Dasar dan Tantangannya (2016), Bahagia, Kenapa Tidak? (2015), Cosmopolitanism in International Relations (2018), Protopia Philosophia (2019), Memahami Hubungan Internasional Kontemporer (20019), Mendidik Manusia (2020), Untuk Semua yang Beragama (2020), Terjatuh Lalu Terbang (2020) dan berbagai karya lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here