“Tetap Kurengkuh Engkau,” Puisi oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

TETAP KURENGKUH ENGKAU

tetap kurengkuh setitik cahaya di balik kelabu
rindu bersamamu adalah nilai yang dituju

waktu pagi hari kuberlari keluar rumah, menuju ke timur, menyongsong matahari yang bangkit; menatapnya dalam-dalam, tepat, tepat di pusat matanya, lalu mengarungi hari sembari mengharapkannya terbit lagi esok hari

meindukanmu selalu manis; dalam kenyataan, baunya lain; impian-impian sesaat telah menjemukanku, tipuan-tipuan sikap, pidato dan kata-kata di layar maya atau di panggung-panggung telah menyelaraskan perjalanan, kompromi dan hipokrisi, tak lagi merupakan lelucon yang dibutuhkan; jujur dan munafik berbeda tipis sehalus kain sutera

di sekitarku keyakinan disobek-sobek oleh takaran makna; nilai yang tak lagi bisa diperlihara, fragmen-fragmen kemunafikan, peradaban moderen atas nama kenikmatan diri tumbuh seperti jamur di musim hujan; keraguan terhadap nilai kerja keras, informasi hiruk pikuk yang merangsang dan memabukkan, buku-buku yang membeku, pidato-pidato nyinyir dan sepotong sajak yang tanpa jiwa, kini telah sampai pada wujudnya sebagai keletihan yang sia-sia, ditambah lagi dengan bicara besar yang pengap-gelap, serta gerak yang mandek; jurang antara kata dan lagak laku sangat menganga; dan tak satu pun yang tahu entah berapa lamakah perjalanan di dunia ini diizinkan

tetap kurengkuh engkau dalam rindu; maka kutatap matahari tepat di pusat matanya; serasa aku telah menatap bola matamu; serasa memasuki gua rahasia yang damai; panas dan pedih memang menyergapku tapi tiada kuperduli; air mata mengucur deras alangkah menggelegak jiwa; inilah bayaran yang setimpal untuk membuktikan kepadamu bahwa tak ingin aku tenggelam dalam kenikmatan semu; dalam rindu aku tak akan terhanyut

ketika sekeliling pohon-pohon bergetaran, awan bergeser ke tepian, dan jika ada orang-orang sekelilingku yang menanyakan ke mana aku hendak pergi, hendaknya ia mengerti bahwa rasa panas dan sakit di mataku bukanlah apa-apa; aku tetap bertenaga sejauh-jauh aku merengkuhmu dalam rindu

katakanlah aku kini berada dalam ruang gelap tanpa tepi, ke mana pergi tak satu pun yang mengerti; tapi cahaya cemerlang tetap dikenal oleh jiwaku yang paling dalam; inilah yang menghidupkan kembali perlahan-lahan warna yang meremang akan pelan-pelan terang dan terus benderang, tak padam-padam; sebab rinduku telah memindahkan cahaya benderang itu dari lensa mataku ke dasar jiwaku
*(gnb:tmn aries:jkt:kamis:24.2.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta