Yosep Lidi: Pentingnya Sharing Knowledge Antar Sesama Guru dalam Konteks Kelas Merdeka

0

SIDOARJO, Bulir.id – Apa yang dilakukan oleh Bapak Ibu guru, ketika masuk kelas di awal tahun pelajaran? Tentu, beragam aktivitas yang dilakukan oleh Bapak Ibu Guru di masing-masing sekolah.

Kali ini, saya mencoba untuk memberikan pengalaman pertama berjumpa bersama murid di kelas. Ketika saya hendak masuk kelas, semua anak terlihat diam, duduk rapi di kursi masing-masing.

Helo guys, selamat pagi! Gimana kabarnya rek? Spontan saya menyapa mereka dengan gaya Suroboyoan.

Serentak mereka menjawab, selamat pagi Pak Hose, Kemana aja liburannya? Ada yang menjawab di rumah, ada yang healing, dll.

Oh ya, Anak-anak,

Selamat datang di kelas Pak Hose! Selamat berjumpa!

Oh ya, gimana, ada yang mau pelajaran hari ini? Saya mencoba mengajukan pertanyaan kepada mereka. Ada yang menjawab, boleh Pak. Ada yang menjawab jangan dahulu Pak. Ok, baik kalau begitu.

Baik, Anak-anak,

Hari ini kita akan mendesain kelas pembelajaran. Apa saja yang perlu kita lakukan, pertama, kita melakukan pemetaaan materi ajar sesmestar 1 & 2. Pada tahap ini, saya menyampaikan materi apa saja yang perlu mereka pelajari di semester satu dan dua. Selain menyampaikan pemetaan materi, saya mencoba bertanya kepada masing-masing murid, semangat gak belajar materi tersebut?

Pasti semangat Pak, sahut salah satu murid. Pertanyaan ini diajukan merupakan langkah awal bagaimana saya mengetahui bentuk apresiasi dari murid terhadap sajian materi tersebut.

Di sisi lain, hal tersebut membantu saya untuk memetahkan proses pembelajaran yang perlu saya sajikan di kelas.

Kedua, kita membuat kesepakatan sistem penugasan proyek serta sistem penilaian. Pada tahap ini, kita bersama-sama memetahkan bentuk penugasan jangka panjang dan jangka pendek selama satu semester.

Pemetaan ini bertujuan agar murid dapat mengetahui apa yang ia harus lakukan selama semester tersebut. Di sisi lain pemetaan ini bertujuan agar murid memiliki kesiapan mental belajar, mengatur manajemen belajar, serta melatih kemandirian dan tanggung jawab dalam belajar.

Ketiga, Pembagian materi presentasi masing-masing anak. Pada tahap ini, saya mencoba memberikan kesempatan kepada murid untuk mempersiapkan diri untuk menampilkan kemampuanya. Kemampuan kognitif, afektif, serta psikomotorik murid di asah melalui proses belajar tersebut.

Keempat, membuat capaian pembelajaran selama dua semester di kelas VIII. Capaian pembelajaran merupakan target belajar yang harus dicapai oleh murid. Target belajar yang kami lakukan bukan semata-mata diukur dengan nilai, tetapi bagimana kami dapat memahami materi yang diberikan. Alat ukur untuk mengukur kemampuan masing-masing murid, saya mencoba memberikan angket berdasarkan gaya belajar murid.

Kelima, membuat kelas para pemimpin. Kami mencoba membuat situasi kelas yang berberbeda dengan semester sebelumnya. Kami sepakat menamai kelas para pemimmpin. Pada kelas para pemimpin, setiap murid mendapatkan giliran untuk memimpin proses pembelajaran di kelas atau di manapun. Ketika saya (guru) masuk kelas, saya akan menyapa mereka. Dan selanjutnya salah satu murid akan berdiri di depan kelas. Ia mulai menyapa kita semua, memandu kegiatan proses pembelajaran.

Kegiatan pembelajaran dibuka dengan salam dari pemimpin kelas, perkenalan nama, menyampaikan materi, menyampaikan durasi pembelajaran, serta menyampiakan penguatan materi oleh guru yang mengajar.

Usaha ini saya laukukan di semester ini. Tujuan mendesain kelas para pemimpin adalah menumbuhkan karakter kepemimpinan, keberanian, tanggung jawab, kejujuran murid di hadapan guru dan rekan-rekanya.

Keenam, membuat slogan kelas VIII. Slogan kelas dibuat berdasarkan rangkuman dari pencapaian belajar yang telah dibuat oleh masing-masing murid. Slogan kelas VIII SMP Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo, yaitu Dispilin, Berani, Berpengetahuan luas, Religius, Berinovasi.

Dari slogan tersebut menjadi acauan kami bersama dalam mengarungi proses pembelajaran selama setahun. Slogan ini dapat diukur melalui perkembangan proses belajar murid. Perkembangan belajar murid diukur berdasarkan gaya belajar murid.

Ketujuh, sharing santai. Pada tahap ini, saya mencoba mereview semua pemaparan. Dan selanjutnya saya memberikan waktu 10 menit untuk murid melakukan aktivitas secara bebas. Ada yang main kejar-kejaran di kelas, ada yang menggambar, dll.

Aktivitas ini saya terapakan sebagai bentuk proses healing time bagi mereka. Murid diberikan healing agar tidak terjadi distraksi dengan pengalaman di masa liburannya. Fleksibilitas merupakan upaya belajar yang harus dikembangkan guru dalam membersamai murid. Seluruh murid adalah kelompok generasi Z, dan Alfa. Oleh karena itu, keluwesan perlu diberikan agar mereka dapat memperoleh chemistry dengan saya sebagai gurunya. Namun, saya tetap meberikan ketegasan pada hal-hal esensial. Disiplin waktu, jujur, tanggung jawab, dll.

Mendesain proses pembelajaran di awal semester menentukan langkah berkarya mencapai target bersama. Keterbuakaan, kerja sama guru dan murid merupakan langkah penting yang harus dibangun.

Tidak ada sesuatu dilakukan tanpa rencana. Saya mencoba menerapkan proses perencanaan sebagai bentuk penguatan karakter murid.

Teacherpreneur merupakan usaha yang harus dikembangkan oleh guru di era digital. Guru harus berusaha mengintegrasikan implementasi materi dengan usaha menumbuhkan karakter kewirausahaan kepada murid.

Belajar bukan sekadar menghafal teori. Belajar merupakan usaha yang dilakukan oleh guru dan murid untuk mengembangkan potensi.

Dalam mengembangkan potensi membutuhkan peluang. Peluang merupakan salah satu ciri dalam kehidupan berbisnis. Seorang pembisnis akan mencari peluang untuk memasarkan produknya. Begitu pula guru, perlu melihat peluang murid dalam mengembangkan potensinya.

Semakin melangkah bersama, akan menciptakan ekosistem belajar tak bersaing. Semua akan belajar bersama, bangkit brsama, saling melengkapi. Belajarlah dari murid. Mereka adalah mutiara yang penuh dengan ketakjuban.

Bangunlah kepekaaan untuk melihat potensi murid. Ciptakan peluang untuk merealisasikan berdasarkan gaya belajarnya. Teruslah belajar bersama murid. Sebab dari mereka, Anda sungguh menghayati diri Anda bukan sekadar guru.

“Sekian, sekelumit kisah di hari pertama pelajaran”.

Terima kasih atas kesempatan belajar bersama murid kelas VIII SMP Pembangunan Jaya 2.


Hose begitu sapaan akrab pemilik nama lengkap Josep Lidi, S.Fil. Ia merupakan alumnus Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala. Kini ia mengabdikan diri sebagai staf pengajar di SMP Pembangunan Jaya 2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here