“Tiba-tiba Hilang” oleh Gerard N Bibang

0
Gerard N Bibang

TIBA-TIBA HILANG 

tak kuingat lagi berapa lama kupandang langit, tetap saja biru seperti sejak pertama kali kita bertempu pandang yang lalu menyatu rasa
dan jika malam tiba, tetap saja langit biru itu kelabu dan bisu
kini rasanya sudah terlalu lama dan tua untuk makin tak ketemu

kutatap di depan mataku tinggal kata-kata dan narasi kita yang dulu-dulu, yang tertulis di kertas-kertas kumal dan lebih banyak yang terpateri abadi dalam sanubari
aku keluar masuk rumah, menapaki jalan-jalan besar dan kecil di mana bayang-bayangmu berlari tiba-tiba hilang, sehingga menyeretku ke hari-hari silam, membercak di pasir di tengah udara dingin kota, lalu senyum-senyum sendiri
di bawah remang-remang lampu kota saat istirahat di larut hari-hari
tiba-tiba terdengar suara anjing berkelahi, lalu masing-masing tinggal sendiri
bayang-bayangmu datang lagi dan berkata: jangan takut, kau tidak sendiri!

BERDENGUNG

suaramu berdengung selalu dalam kalbuku
meski tertimbun busa laut dan bercampur dengan kata-kata umpatku
kuketuk pintu samudera dengan gemetar
dan tatkala senyum-mu membayang, tersiraplah airmataku membasahi raga
dengan sedih aku kembali ke dunia nyata
menuju lapar dan hausku untuk menjumpaimu
dan untuk berpamit setelah keseharian aku pasti kembali menujumu

DAHSATNYA RINDU

ku-selalu sendiri dalam hal merindu
kumenempuh lorong gelap tak berujung
berkali-kali memang ada yang menyapa
tapi entah siapa
mungkin aku sedang halu
dahsyatnya rindu membuat kakiku melayang-layang antara langit dan bumi
aku tertawa geli
ketika malam tiba, kumerunduk malu
sembari melantunkan doa:
“aku tak mau ditipu lagi segala suara yang hampa
aku ingin langsung mendengar jawabmu, di ujung lorong itu“
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu:28.9.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.