Asal Usul Nama Hari Selasa dan Fakta Menariknya

0
Asal Usul Nama Hari Selasa dan Fakta Menariknya
Asal Usul Nama Hari Selasa dan Fakta Menariknya

Ceruh. Bulir.id – Di tengah pekan yang bergegas, Selasa kerap terlewat dari perhatian. Ia tak seriuh Senin yang membuka kesibukan, tak pula semeriah Jumat yang menjanjikan akhir pekan. Namun di balik kesan biasa itu, Selasa menyimpan jejak sejarah, kepercayaan, dan tradisi yang tersebar di berbagai belahan dunia.

Dalam bahasa Indonesia, nama “Selasa” diserap dari bahasa Arab, ats-tsulatsa’, yang berarti hari ketiga. Penamaan ini mengikuti hitungan pekan dalam tradisi Arab yang dimulai dari Ahad sebagai hari pertama. Senin lahir dari al-itsnain atau hari kedua, Rabu dari al-arbi’a’ atau hari keempat, dan Kamis dari al-khamis atau hari kelima. Sebuah sistem sederhana yang menghitung hari sebagaimana kita menghitung langkah.

Asal-usul di Eropa berbeda. Kata Tuesday dalam bahasa Inggris berakar dari bahasa Inggris Kuno Tīwesdæg, “hari milik Tiw”, dewa dalam mitologi Nordik yang dikenal sebagai dewa perang dan penegak sumpah.

Bangsa Romawi, sementara itu, menamai hari ini dies Martis, hari Mars, dewa perang mereka. Jejaknya masih terdengar hingga kini dalam mardi (Prancis), martes (Spanyol), dan martedì (Italia). Dalam tradisi astrologi, Mars pula yang diasosiasikan dengan Selasa, lengkap dengan warna merah dan watak yang berani.

Selasa juga lekat dengan perayaan. Di Prancis dan Louisiana, Amerika Serikat, ada Mardi Gras atau “Selasa Gemuk”, hari terakhir berpesta sebelum umat Kristiani memasuki masa puasa Prapaskah.

Di Inggris, hari yang sama dikenal sebagai Shrove Tuesday dan dirayakan dengan menyantap panekuk. Di kalangan Yahudi, Selasa dianggap hari yang baik karena dalam kisah penciptaan, Tuhan menyatakan ciptaan-Nya baik sebanyak dua kali pada hari ketiga. Karena itu, banyak pernikahan Yahudi digelar pada hari Selasa.

Di Nusantara, Selasa punya tempat khusus dalam penanggalan Jawa. Ketika bertemu pasaran Kliwon, ia menjadi Selasa Kliwon, hari yang dipercaya sebagian masyarakat sebagai waktu yang sakral dan sarat nuansa mistis. Banyak orang memilih berziarah, bertirakat, atau menjalankan ritual tertentu pada hari ini. Meski demikian, kepercayaan itu berbeda-beda di tiap daerah dan keluarga.

Tak semua budaya memandang Selasa dengan ramah. Di Yunani dan negara-negara berbahasa Spanyol, Selasa tanggal 13 dianggap membawa sial, setara dengan Jumat tanggal 13 di tempat lain. Orang Yunani mengaitkannya dengan jatuhnya Konstantinopel pada Selasa, 29 Mei 1453. Di Spanyol, anggapan itu sering dikaitkan dengan Mars sang dewa perang, hingga lahir pepatah yang menasihati agar tak menikah atau berlayar pada hari tersebut.

Di era modern, Selasa mendapat peran yang tak terduga. Di Amerika Serikat, pemilihan umum digelar pada hari Selasa, ketentuan yang ditetapkan sejak abad ke-19 agar petani yang bepergian dengan kuda tidak bentrok dengan hari ibadah maupun hari pasar.

Di dunia hiburan, rilis musik di sana dahulu berlangsung pada hari Selasa, sebelum industri beralih ke Jumat secara global pada 2015. Ada pula Giving Tuesday, gerakan berbagi yang diluncurkan pada 2012 dan kini diikuti banyak negara. Sejumlah survei dunia kerja pun menyebut Selasa sebagai salah satu hari paling produktif, ketika semangat awal pekan mereda dan fokus mulai terkumpul.

Selasa memang bukan hari yang paling dirayakan. Namun justru di situlah pesonanya: ia adalah hari ketiga yang menjadi penyambung, tempat rencana mulai dijalankan dan kebiasaan dibangun. Dari dewa perang, pesta, hingga ritual sakral, Selasa mengingatkan bahwa hari yang tampak biasa pun menyimpan cerita panjang.