Mitos Yunani tentang Kotak Pandora dan Selubung Keingintahuan

0

FILSAFAT, Bulir.id – Ungkapan “waspadalah terhadap orang Yunani yang membawa hadiah” mungkin merujuk pada kuda Troya, struktur kayu yang membantu orang Yunani menyelinap ke Troy, tetapi mitos seputar hadiah berbahaya lebih dari sekadar puisi epik Homer.

Contoh yang bagus adalah “Guci Pandora” atau “Kotak Pandora”, seperti yang dikenal luas. Pandora, seorang wanita “berbahaya” dalam mitologi Yunani kuno, adalah berkah sekaligus kutukan. Diciptakan oleh para dewa untuk melayani umat manusia, Pandora akhirnya membuka kotak yang berisi semua kejahatan dan melepaskannya ke dunia.

Sekilas, mitos ini memperingatkan tentang bahaya kenaifan dan keingintahuan. Namun, mitos ini mengungkapkan lebih banyak hal daripada yang kita pikirkan tentang cara orang Yunani kuno memandang wanita, perjuangan hidup, kemajuan teknologi, dan banyak lagi.

Mitos Pandora dan Kotaknya: Bagaimana Dia Diciptakan?

Pandora adalah tokoh penting dalam mitologi Yunani kuno. Dia dikenal luas sebagai “wanita pertama yang berjalan di planet Bumi”, sosok wanita yang mirip dengan Hawa dalam Alkitab. Namun, persepsi tentang Pandora ini sering diperdebatkan. Meskipun tidak jelas apakah ada wanita lain yang ada sebelumnya, kita tahu bahwa dia diciptakan oleh para dewa untuk menjadi wanita yang sempurna. Dia memiliki karakteristik feminin yang paling berharga pada masa itu: kecantikan, keanggunan, dan kemampuan menenun.

“Selanjutnya dia membuat kejahatan bagi manusia sebagai balasan atas api yang dilimpahkan. Karena dari bumi, Hephaistos yang terkenal, berhenti di kedua kakinya, membuat patung seorang gadis sederhana, melalui nasihat putra Kronos. Dan dewi Athena yang bermata jeli itu mengenakan dan mendandani dia dengan pakaian putih perak.” – Theogoni Hesiod (baris 570)

Apa yang ada di dalam Kotak Pandora?

Kisah Pandora telah bertahan hingga hari ini, berkat karya-karya penyair Hesiod. Dalam puisinya yang berjudul Theogony, Hesiod menggambarkan Pandora sebagai hadiah yang diberikan oleh para dewa kepada umat manusia. Nama pahlawan wanita ini juga menunjukkan hal ini; Pandora dapat diterjemahkan sebagai “Yang Maha Memberi”

Namun, hadiah ilahi ini adalah tindakan teodis. Para dewa Gunung Olympus ingin menghukum manusia karena memperoleh anugerah besar berupa api dengan bantuan Titan Prometheus. Dewa Prometheus merasa bahwa manusia terlalu rentan di dunia yang penuh dengan bahaya. Dalam upaya untuk menciptakan keseimbangan di Bumi, Prometheus menawarkan kepada manusia kemampuan untuk menyalakan api, yang memungkinkan mereka untuk melindungi diri mereka sendiri. Pada saat yang sama, api memungkinkan manusia untuk menjadi pencipta, sebuah kemampuan yang membuat para dewa marah.

Dalam karya Hesiod yang berjudul Works and Days, dipahami bahwa hukuman ilahi yang diterima manusia datang dalam bentuk Pandora dan pithos (guci) yang dibawanya. Wanita itu diciptakan oleh dewa Hephaestus dan dikirim ke kediaman Prometheus dengan bantuan dewa Hermes. Di sana, saudara laki-laki Prometheus, Epimetheus, menerima tawaran untuk menikahi Pandora dan dengan senang hati menerima pithos-nya – sebuah benda yang diperingatkan untuk selalu ditutup.

Suatu hari, Pandora yang dipenuhi rasa ingin tahu membuka tutup pithos. Akibatnya, sejumlah kejahatan dilepaskan ke Planet Bumi, termasuk penyakit dan kesengsaraan usia tua. Namun, Pandora berhasil menutup tutupnya tepat sebelum elemen terakhir terlepas: harapan. Umat manusia kini berada dalam siklus penderitaan yang terus-menerus dan berharap bahwa masa yang lebih baik akan datang.

Mitos Pandora masih bertahan hingga hari ini, dengan frasa “membuka kotak Pandora”, sebuah metafora untuk “menyebabkan banyak masalah”. Alasan yang tepat untuk menggunakan kata “kotak” dan bukan “pithos” atau “guci” tidak sepenuhnya jelas. Namun, sebagian besar ahli mengaitkannya dengan kesalahan penerjemahan Erasmus pada abad ke-16 Masehi. Sejak saat itu, sebagian besar penggambaran artistik Pandora menunjukkan dia memegang sebuah kotak, bukan guci.

Tema Keingintahuan yang Berdosa

“Rasa ingin tahu membunuh kucing” adalah pepatah yang berasal dari drama Ben Jonson berjudul Every Man in His Humor dari tahun 1598. Ungkapan ini memperingatkan orang-orang akan bahaya rasa ingin tahu, pelajaran umum dari kisah-kisah peringatan.

Jelas sekali bahwa “kotak Pandora” adalah sebuah kisah yang berkisar pada kiasan tentang rasa ingin tahu yang berdosa. Meskipun Pandora diciptakan oleh para dewa untuk menjadi wanita yang sempurna, dia juga memiliki karakteristik negatif yang tak terhitung jumlahnya; rasa ingin tahu adalah yang paling berbahaya di antara semuanya.

Sama seperti Hawa dalam Alkitab yang tidak dapat menahan keinginan untuk mencoba buah terlarang, Pandora juga tidak dapat menahan diri untuk tidak membuka guci segala kejahatan. Dia diberitahu bahwa barang itu terlarang, tanpa penjelasan spesifik. Oleh karena itu, dia harus memeriksanya sendiri.

Saat ini, rasa ingin tahu dianggap sebagai sesuatu yang positif maupun negatif. Namun, jika kita melihat ke masa lalu, kita bisa melihat penggambaran bahaya dari rasa ingin tahu yang berlebihan dalam seni visual dan sastra. Hal ini terutama berlaku untuk penggambaran wanita yang ingin tahu, yang dipandang lebih berbahaya daripada pria yang ingin tahu.

Pada abad ke-19, tidak jarang wanita digambarkan sebagai tetangga yang usil, mengintip melalui jendela dan pagar. Seperti yang dijelaskan oleh cendekiawan Theodor Ziolkowski dalam bukunya The Sin of Knowledge, mitos Prometheus (yang terkait dengan mitos Pandora) membentuk gagasan barat tentang rasa ingin tahu yang berdosa. Persepsi ini tentu saja disorot dengan kejatuhan Adam dan Hawa dalam Alkitab; semuanya dimulai dengan gigitan pengetahuan terlarang, secara harfiah dan metaforis.

Tema Keputusasaan

Selain rasa ingin tahu yang penuh dosa, elemen kunci dalam mitos Pandora tidak lain adalah harapan. Ini juga merupakan hal yang paling penuh teka-teki. Harapan biasanya dilihat sebagai sesuatu yang positif; keadaan pikiran yang optimis yang memotivasi orang untuk terus maju di saat-saat tersulit. Namun, dalam mitos Pandora, harapan dianggap sebagai kutukan. Harapan terperangkap di dalam guci segala kejahatan, menjebak manusia dalam siklus kesengsaraan dan perjuangan yang tidak pernah berakhir.

“Banyak keburukan yang dibawa ke dalam thūmos oleh orang yang malas, yang terus-menerus berharap bahwa harapan kosongnya akan menjadi kenyataan, karena kekurangan rezeki. Bukan harapan nyata yang mempedulikan orang yang membutuhkan, karena dia duduk-duduk di ruang santai sementara dia tidak mempunyai sarana yang memadai.” – Hesiod’s Works and Days (baris 498)

Jika harapan itu jahat, apakah keputusasaan itu positif? Jawaban dari pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dalam Prometheus Bound karya Aeschylus. Dalam dramanya, penulis tragedi Yunani kuno ini mengubah narasi dengan membuat Titan yang dermawan menawarkan dua hadiah kepada umat manusia: api dan harapan.

Yang terakhir ini tampaknya yang paling membuat para dewa marah; harapan adalah manfaat yang lebih besar bagi manusia daripada api. Api dapat membantu mereka untuk maju dalam hidup, namun harapanlah yang membuat mereka terus maju bahkan setelah kemajuan mereka terhenti.

“PROMETHEUS

Di dalam hati mereka, Aku menaruh pengharapan yang buta.

CHORUS

Dengan itu, Engkau memberikan manfaat besar bagi umat manusia.” – Prometheus Terikat (311-312)

Tema Hadiah Kehancuran

Mungkin, pelajaran yang paling penting dari kotak Pandora adalah perlunya bersikap skeptis terhadap hadiah yang tidak terduga. “Doron” (hadiah) Pandora adalah sebuah guci yang penuh dengan kejahatan. Itu diberikan kepada Prometheus dan Epimetheus sebagai persembahan dari para dewa yang murah hati. Mereka menerimanya ke dalam rumah mereka dan hasilnya adalah bencana besar. Hadiah itu adalah hukuman yang terselubung, hadiah kehancuran.

“Pandōrā, karena semua dewa yang tinggal di Olympus memberinya sebagai hadiah [dōron], sebuah rasa sakit bagi para pemakan biji-bijian. Tetapi ketika para dewa menyelesaikan tipuan malapetaka ini, yang tidak ada obatnya, Dewa Zeus mengirim pembunuh Argos yang terkenal itu kepada Epimetheus, utusan para dewa yang cepat, membawa hadiah [dōron].” – Hesiod’s Works and Days (baris 81-85)

Hadiah kehancuran adalah kiasan umum dalam mitologi Yunani kuno. Dalam Odyssey karya Homer dan Aeneid karya Virgil, kita belajar tentang rencana licik Odiseus, raja Ithaca, yang mengakhiri Perang Troya. Raja Ithaca dilaporkan telah meminta tukang kayu ahli Epeius untuk membuat kuda kayu berongga. Bangunan raksasa ini akan menjadi kapal bagi orang-orang Yunani untuk memasuki kota Troy yang bertembok dan mengambil ratu Helen.

Mereka berpura-pura meninggalkan kuda itu adalah persembahan perdamaian mereka. Pada saat taktik seperti itu jarang dilakukan, rencana Odiseus berhasil; orang-orang Yunani memasuki kota pada siang hari dan menyerang saat hari sudah gelap dan orang-orang Troya tertidur. Sama seperti Kuda Troya, guci Pandora adalah hadiah kehancuran.

Demikian pula, mitos Pandora juga merupakan kisah peringatan untuk mengundang orang asing ke dalam rumah. Philoxenia (keramahtamahan) adalah sebuah kebiasaan sakral di Yunani kuno. Baik tuan rumah maupun tamu harus mengikuti daftar aturan yang panjang. Pada saat tidak ada hotel atau kamar untuk disewakan, menolak seorang pelancong masuk ke rumah Anda adalah tindakan yang tidak sopan. Pada saat yang sama, para tamu diwajibkan untuk menghormati tuan rumah dan tidak menjadi ancaman atau beban bagi mereka.

Dalam Odyssey, kita melihat Odiseus merebut kembali kerajaannya dari sekelompok tamu yang tidak sopan. Demikian pula, mitos Pandora mengingatkan kita untuk berhati-hati saat mengundang orang ke rumah kita. Kunjungan tak terduga Hermes ke kediaman Prometheus pada awalnya tampak tidak berbahaya, namun berakhir dengan sang dewa meninggalkan hadiah kehancuran.

Wanita Pertama: Pandora dan Hawa

Meskipun tidak sepenuhnya jelas apakah ada wanita lain yang ada sebelum Pandora, karakternya memiliki banyak kemiripan dengan Hawa dalam Alkitab. Dalam kitab Kejadian, wanita pertama diciptakan oleh Tuhan untuk hidup berkelimpahan bersama Adam di Taman Eden. Setelah menjadi orang pertama yang menggigit buah terlarang, dia disalahkan atas “kejatuhan umat manusia”.

Adam dan Hawa diusir dari Taman dan dipaksa menjalani kehidupan yang penuh penderitaan dan, pada akhirnya, kematian. Demikian pula, keingintahuan Pandora mengakibatkan manusia kehilangan surga versi mereka sendiri. Sepanjang waktu, kedua wanita tersebut digambarkan sebagai simbol kejahatan, membentuk cara pandang terhadap wanita secara universal.

“Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian” (Kejadian 3 : 6).

Bahaya Teknologi

Mitos Pandora tidak hanya memengaruhi cara pandang terhadap perempuan di banyak budaya, namun juga menginspirasi skeptisisme Barat terhadap kemajuan teknologi. Hal ini terutama berlaku untuk kecerdasan buatan dan robot humanoid, karena Pandora adalah seorang wanita buatan. Dia dibuat oleh Hephaestus, dewa metalurgi Yunani, yang sering menggunakan keahliannya untuk menciptakan pembantu seperti robot.

Hephaestus membuat “robot” – mesin yang dapat beroperasi sendiri yang terbuat dari logam. Contoh yang bagus adalah Talos, penjaga perunggu raksasa dari pulau Kreta. Pandora adalah ciptaan lain dari keahlian Hephaestus, namun, dalam kasus ini, dia gagal melindungi dan membantu manusia. Sebaliknya, dia tidak mengikuti instruksi penciptanya dan akhirnya membuka guci kejahatan.

Yang cukup menarik, filsuf dan peneliti Yuk Hui memasukkan “kotak Pandora” ke dalam kategori mitos yang mempengaruhi pendekatan Barat terhadap teknologi. Dalam The Question Concerning Technology in China: An Essay in Cosmotechnics (2016), Hui membandingkan modernisasi Tiongkok yang cepat dengan Eropa. Di Tiongkok, ada penekanan besar pada aspek spiritual dari teknologi, dengan fokus pada menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Di sisi lain, konsep teknologi Barat berasal dari gagasan Yunani “techne”, yang menekankan penguasaan alam.

Selain itu, orang Barat sering kali terlihat lebih ragu-ragu dalam mengembangkan dan mengadopsi robotika dan kecerdasan buatan. Keraguan ini dapat dikaitkan dengan cara berpikir orang Eropa, yang sangat dipengaruhi oleh studi klasik. Mitos-mitos seperti Pandora dan Prometheus tidak lain adalah kisah-kisah peringatan akan bahaya teknologi pintar.

Mitos Kotak Pandora: Niat dan Moralitas

Sistem peradilan barat mempertimbangkan unsur niat kriminal. Sebagai contoh, kematian seseorang yang disebabkan oleh kelalaian tidak dihukum seberat kematian yang disebabkan oleh kejahatan. Hukuman bervariasi dari satu negara ke negara lain, tetapi gagasan bahwa niat itu penting. Dalam filsafat moral, niat baik sering kali sama dengan moralitas. Filsuf Jerman Immanuel Kant membangun moralitas ilmiah dengan fokus pada niat baik, niat untuk berbuat baik.

“Tidak ada sesuatu pun di dunia ini -bahkan tidak ada sesuatu pun di luar dunia ini- yang dapat disebut baik tanpa kualifikasi, kecuali kehendak yang baik.” – Immanuel Kant Groundwork of the Metaphysics of Morals

Berdasarkan perspektif ini, banyak pertanyaan yang muncul mengenai sifat jahat Pandora. Dalam karya-karya Hesiod, tidak jelas apakah Pandora ingin mencelakakan dengan membuka kotak itu. Kita dituntun untuk berasumsi bahwa dia termotivasi oleh rasa ingin tahu yang bercampur dengan keluguan.

“Kejatuhan umat manusia” dapat digambarkan sebagai “kecelakaan” dalam kasus ini. Namun, terlepas dari niatnya, dia jelas digambarkan sebagai “jahat”. Pandora gagal mengikuti aturan penting, yang mengakibatkan malapetaka. Ini adalah aspek yang sering diabaikan ketika menganalisis mitos ini. Mungkin, pelajaran yang paling penting dari “kotak Pandora” adalah bahwa niat saja tidak cukup dan tidak adanya niat jahat tidak selalu berarti niat baik.*