Puisi Hari Rabu Abu, “Doa di Ranting Kering” oleh Gerard N Bibang

0

DOA DI RANTING KERING

Kutitip doa di ranting-ranting kering
Dosa tertepis melampaui segala tepi
Terbakar hangus ke angkasa raya
Di ujung ranting-ranting kerontang
Menguap ke tepian-tepian semesta

Apa dan siapakah ranting-ranting kering itu
Siapa kalau bukan aku
Debulah aku, tiada seperberapanya aku di depan Tuhanku
Tersingkap kebenaran di hari rabu abu
Ialah debu yang jatuh ke tanah akan terlibas
Menjadi sampah yang bau busuk
Menjadi humus rahim kesuburan
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu abu:2.3.22)

DEBU PENGINGKAR

Debu-lah hakekat setiap makhluk; menuju tiada ke dalam kesempurnaan Sang Pencipta; tatkala ia mengingkari hakekatnya; tersembur dari mulutnya kezaliman, kekejaman dan aniaya kepada sesama debu makhluk ciptaan; tapi selalu tersedia jodoh-jodohnya; ialah takdir buruk yang mencegat di hari esoknya; sedangkan di akhirat sudah menganga luapan api neraka

Debu pengingkar hakekat; menganiaya martabat sesama; menginjak-injak harga diri saudara sebangsanya; fitnah dan kebusukan ia lempar dan sebarkan; hingga merusak persaudaraan dan kedamaian; klaim diri paling suci dan memiliki kebenaran; yang lain dari keyakinannya hanya berhak ke api neraka dan memiliki kepalsuan

Debu pengingkar hakekat berterbangan leluasa di tiap butiran udara: melakukan keburukan dan kekejaman atas perbuatan baik sesamanya; melakukan penghinaan dan pembrutalan atas nilai-nilai firman Tuhan; menunggangi amal saleh hamba Allah; memanfaatkan karya kebaikan hamba Tuhan untuk menumpuk keuntungan keduniaan

Tak cukup menunggangi kesalehan-kesalehannya; ia mencuri hak milik sesamanya; dan menjualnya demi menghimpun laba dunia; memperkaya diri dan keluarganya; selalu meminjam mulut kejujuran saudaranya dan dijadikan senjata untuk permusuhannya

Debu pengingkar hakekat; penyembah berhala dan pembela kecurangan; penghancur akal sehat dan kemurnian jiwa; keutamaan ciptaan untuk memuliakan Tuhan dilecehkanya dengan kelakuan hewan

Hari akan tiba, ia putus harapan dan putus asa
Karena ditusuk luka sampai ke kedalaman jiwanya
Sakit mengerang berkepanjangan tanpa ada ujungnya
Berdampak sengsara pada anak istri beserta keturunannya

Takkan bisa ia menghindar
Langit semesta merundungnya tiada berbatas
Takkan reda seribu pedang menusuk-nusuk tubuh dan sukmanya
Tak kunjung beranjak gunung-gunung dan bukit cadas menindih takdirnya
Sebelum orang-orang yang dianiaya memaafkannya
*(gnb:tmn aries:jkt:rabu abu:2.3.22)

*) Gerard N Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menahbiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta

Gerard N Bibang