Aktivis Lingkungan yang Tolak Proyek Geothermal Flores-Lembata Meninggal Tak Wajar, Keluarga Minta Usut Tuntas 

0
Vian Ruma, aktivis lingkungan ditemukan meninggal secara tidak wajar di Desa Tonggo, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Jumat, 5/9/2025.

JAKARTA, Bulir.id – Rudolfus Oktavianus Ruma alias Vian Ruma, salah satu aktivis muda yang getol menyuarakan penolakan proyek Geothermal ditemukan tak bernyawa dengan tubuh terikat di sebuah gubuk dekat pantai di Sikusama, Desa Tonggo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Jumat, 5/9/25.

Vian Ruma ditemukan dalam keadaan tergantung di dalam gubuk yang terbuat dari bambu, dengan leher terikat tali dan kaki menyentuh lantai gubuk yang juga terbuat dari bambu.

Di tempat kejadian perkara (TKP) ditemukan juga sepeda motor milik korban Vian Ruma yang diparkir tak jauh dari pondok serta telepon genggamnya yang tergeletak tak jauh dari jasadnya.

Kematian pria 30 tahun ini dianggap janggal oleh pihak keluarga dan meminta pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kematian aktivis muda tersebut.

Keluarga korban menolak jika kematian Vian disebut sebagai bunuh diri. Viktor Tegu, perwakilan keluarga, mengatakan Vian dikenal sebagai sosok baik, ramah, dan tidak bermasalah dengan siapa pun.

Alumnus Unwira Kupang sekaligus guru Matematika SMPN 1 Nangaroro tersebut kini telah dimakamkan di kampung halamannya di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo, Sabtu (6/9/2025).

Penolakan Geothermal

Pulau Flores memiliki potensi panas bumi atau geothermal yang cukup besar hampir 1.000 megawatt yang membentang dari barat hingga timur. Kekayaan sumber daya inilah yang mengetuk hati kementerian ESDM menetapkan pulau tersebut sebagai pulau panas bumi atau Geothermal Island.

Geothermal selalu diglorifikasi oleh pemerintah sebagai energi bersih dan terbarukan, kini justru menjadi sumber kontroversi di wilayah Flores dan Lembata. Pemerintah pusat menempatkan proyek tersebut sebagai bagian penting dari agenda transisi energi terbarukan, net zero emission 2060.

Meski dengan atribut energi terbarukan gelombang penolakan terus berdatangan. Gelombang penolakan tersebut tak hanya datang dari aktivis lingkungan melainkan juga dari gereja Katolik dan masyarakat adat.

Dari mimbar Gereja hingga rumah adat, suara penolakan semakin lantang. Pada Sidang Tahunan di Seminari Tinggi Santu Petrus Ritapiret, Maumere (10–13 Maret 2025), enam uskup dari Provinsi Gerejawi Ende menandatangani Surat Gembala Pra-Paskah.

Mereka adalah Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD (Uskup Agung Ende), Mgr. Silvester San (Uskup Denpasar), Mgr. Fransiskus Kopong Kung (Uskup Larantuka), Mgr. Siprianus Hormat (Uskup Ruteng), Mgr. Edwaldus Martinus Sedu (Uskup Maumere), dan Mgr. Maksimus Regus (Uskup Labuan Bajo).

Dalam surat itu, para uskup menegaskan bahwa topografi Flores dan Lembata, yang didominasi gunung dan bukit dengan sumber air terbatas, membuat eksploitasi geothermal sangat berisiko bagi ekosistem.

Gereja secara tegas mengatakan bahwa mereka bukan menolak energi terbarukan, melainkan menolak pembangunan yang menyingkirkan masyarakat, merusak ruang hidup, dan mengancam rumah bersama.

Penolakan proyek geothermal bukannya tanpa alasan, di beberapa kabupaten seperti Ngada semburan lumpur telah merusak pertanian. Sedangkan di Ponco Leok, Manggarai proyek tersebut menimbulkan konflik sosial antarwarga.

Profil Vian Ruma

Vian Ruma adalah anak pertama dari pasutri Ignasius Sare dan Martha Dore. Ia dibesarkan di Kampung Wio, di Desa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, Nagekeo, NTT.

Menyelesaikan pendidikan dasar di SDK Ngera, SMP Negeri 2 Mauponggo dan SMA Negeri 1 Aesesa. Selanjutnya menyelesaikan program Strata-1 di Unwira Kupang.

Vian aktif bergabung di beberapa organisasi kemahasiswaan. Ia juga aktif di perhimpunan Mahasiswa Nagekeo (Permasna) Kupang, juga PMKRI Cabang Kupang.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Kupang, Vian balik kampung dan mengajar di SMPN 1 Nangaroro. Seiring berjalannya waktu Vian kemudian lolos seleksi sebagai pegawai P3K dan masih ditempatkan di Nangaroro.

Sejak menjadi guru, Vian juga terlibat aktif di OMK, baik di Nangaroro maupun di kampung halamannya. Ia juga dikenal sebagai aktivis yang getol menolak proyek geothermal di Pulau Flores.

Selain itu, ia juga aktif dalam kegiatan Kelompok Orang-muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), yakni jaringan orang-orang muda di 13 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang getol menyuarakan kelestarian lingkungan.

Sejak bergabung di Koalisi KOPI, Vian sangat aktif menyuarkan keprihatinannya pada persoalan lingkungan. Ia mengangkat isu-isu lingkungan di wilayahnya.*